Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 92 > Bantuan Secara Diam-diam


__ADS_3

"HENTIKAN!"


Kivandra menarik kembali todongan pistol dari kepala sang pelayan dan menoleh ke sumber suara itu. Begitupun dengan para pelayan, mereka yang saat ini tengah ketakutan luar biasa seketika langsung merasa sedikit lega karena Tuan Nero sudah datang. Kemudian Tuan Nero berjalan mendekati Kivandra yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


Melihat sang Papi yang semakin mendekati dirinya, membuat Kivandra kembali menodongkan pistol ke arah Tuan Nero. Tangannya seakan siap untuk menembak dada sang Papi. "Jangan mendekat! Jika berani melangkah satu pun saja maka peluru ini akan menembus jantungmu!" Kivandra mengancam sang Papi.


"Tenanglah, Nak. Kita bisa bicara baik-baik. Tidak perlu menggunakan cara kasar, lagipula saya tidak tahu maksud dan tujuanmu datang ke rumah apa?" tutur Tuan Nero dengan nada yang lembut.


"Tidak perlu! Saya tidak ingin berlama-lama di sini. Sekarang katakan, di mana istriku?" tanya Kivandra dengan nada yang ketus.


"Istrimu? Kenapa bertanya padaku? Dia 'kan istrimu, seharusnya kamu tahu ke mana istrimu pergi. Bukan malah menuduhku dan membuat keributan di rumahku. Masih untung saya tidak melaporkanmu ke polisi atas tindakanmu ini!" tegas Tuan Nero.


"Jangan berlagak tidak tahu apa-apa! Saya tahu betul jika istriku telah kau culik. Sekarang juga, beri tahu di mana istriku?" bentak Kivandra dengan menanyakan perihal sang istri.


"Mau bertanya sampai ratusan kali pun kamu tidak akan pernah menemukan istrimu di sini, sebab saya tidak menculiknya. Untuk apa saya menculik wanita kampung seperti istrimu itu. Lebih baik saya sewa saja wanita yang lebih cantik dan tentunya lebih baik backgroundnya dari pada si Naya itu!" Tuan Nero mencaci maki istri dari putranya itu.


"NERO!" bentak Kivandra dengan tak ada rasa hormat sama sekali. Baginya, pria seperti Nero ini tidak berhak untuk dihormati walaupun dia adalah ayahnya sendiri.


DORR!


Dengan penuh kemarahan, Kivandra menarik pelatuk pistol tersebut hingga pelurunya menembak kaki kiri Tuan Nero. Seketika, Tubuh Tuan Nero langsung terjatuh ke pantai. Ia memegangi kaki kirinya yang terasa sakit itu. Sementara itu, Kivandra berjalan mendekati sang Papi dengan mata yang merah pekat dan kedua tangan mengepal.


"Cepat, beri tahu di mana kau menyembunyikan Naya, istriku?" tanya Kivandra dengan berdiri tepat di hadapan Tuan Nero.


Mendengar itu, alih-alih menjawab pertanyaan putranya, Tuan Nero justru tersenyum smirk. "Kamu tidak akan pernah bisa menemukan istri kampungmu itu," ujar Tuan Nero dengan menahan rasa sakit di kakinya.


"Aarrghh!" Kivandra berteriak karena frustasi.


BUGH!


BUUGH!


Tak kuasa menahan amarahnya yang semakin besar, membuat Kivandra menghantam wajah Tuan Nero beberapa kali. Rasanya ia belum puas dengan jawaban dari sang Papi. Sebab ia sangat yakin jika istrinya memang diculik oleh Tuan Nero. Ia tahu betul, pria seperti apa Tuan Nero.


Tidak ada yang berani melerai pertengkaran antara ayah dan anak ini. Sebab, keduanya begitu mengerikan ketika sedang murka. Mereka tidak akan segan-segan untuk menghantam pula orang yang berani melerainya. Sebelumnya hal ini pernah terjadi dan salah satu security yang melerai mereka hampir kehilangan nyawanya sendiri.


Darah segar sudah mengalir dari hidung dan sudut bibir Tuan Nero. Begitupun dengan tangan Kivandra yang turut lecet akibat hantaman itu. "Kau dengar baik-baik! Saya akan pastikan mengambil hak saya kembali! Cuih!" Kivandra meludahi kaki Tuan Nero.


Setelah itu Kivandra pergi meninggalkan Tuan Nero dengan keadaan terluka dan berlumuran darah. Sementara itu, Tuan Nero hanya menatap kepergian sang putra dengan senyuman licik. Meski ia dihantam beberapa kali sampai terluka seperti ini, ia tetap merasa senang karena orang yang sangat Kivandra cintai berada di genggamannya. Ia tahu kalau kelemahan putranya ada pada Naya.


****

__ADS_1


"Aaarrgghh! Si*lan! Pria itu selalu saja berbuat onar. Awas saja, jika sampai Naya terluka sedikitpun, maka akan kupastikan ia mati di tanganku!" Kivandra meracau seraya memukul-mukul stir mobilnya. Yup, saat ini ia berada di dalam mobil.


Tak mau berlama-lama lagi, Kivandra segera menancap gasnya dan melaju meninggalkan kediaman Nero dengan kecepatan tinggi. Ia berpikir sangat keras tentang keberadaan Naya saat ini. Karena tidak bisa mencari Naya sendirian, ia pun menghubungi teman masa kecilnya yaitu Chiko dan juga mengirim pesan kepada Farel untuk membantu pencarian Naya. Ia menepikan mobilnya dan meraih ponsel yang berada di dashboard mobil. Kemudian ia, mengetik sebuah pesan untuk Farel.


{Rel, aku butuh bantuanmu. Sekarang juga, kamu cari tahu keberadaan Naya saat ini. Bila perlu kau buntuti Nero atau anak buahnya pergi. Saya yakin jika Nero yang telah menculik istriku. Jika ada informasi sekecil apapun itu, maka beri tahu saya. Oh ya, satu lagi ... kamu suruh Yumna untuk menemani Mami di rumah sakit. Bila perlu, kirim sebagian bodyguard yang ada di bodyguard untuk mengaja Grandpa. Saya tidak mau sesuatu buruk menimpa keluargaku lagi. Lakukan dengan cepat sebelum semuanya terlambat!}.


Selesai mengirim pesan kepada Farel, ia segera menghubungi Chiko. Telepon yang pertama tidak diangkat, membuat Kivandra terus meneleponnya hingga beberapa kali. Sehingga tak lama setelah itu, Chiko mengangkat telepon dari sahabat kecilnya. Dengan cepat Kivandra memakai earphone dan melajukan mobilnya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Ko. Ini gue, Kivan," tutur Kivandra setelah telepon tersambung.


"Oiy, Bro. Gue tahu ini lu, tumben banget lu telepon, ada apa?" terdengar suara Chiko di seberang telepon.


"Gue butuh bantuan lu saat ini, kira-kira elu bisa bantu gue kagak?" tanya Kivandra dengan mata yang fokus memperhatikan jalanan.


"Gue sih siap aja bantu elu, memangnya lu mau gue bantuin apa?"


"Gini, Ko ... bini gue hilang, gue butuh bantuan lu buat mencari keberadaan bini gue,"


"Kok bisa? Lu udah lapor polisi, terkait hilangnya bini lu?"


"Ya udah, kalau gitu, kita labrak bokap lu sekarang juga, tunggu apa lagi?"


"Gue udah labrak PA. Dan Papi gue kagak ngaku. Dia bersikeras tidak mengakui perbuatannya itu. Saat ini gue bingung, gue harus cari Naya ke mana lagi. Itulah, kenapa gue hubungi elu. Siapa tahu lu bisa bantu gue," jelas Kivandra.


"Ya udah, gini aja. Lu ada di mana sekarang? Gue ke situ sekarang,"


"Gue ada di jalan enggak jauh dari rumah bokap gue."


"Okay, gue OTW sekarang. Lu tunggu gue."


"Ya udah buruan! Tutt!" Kivandra mengakhiri pembicaraannya dengan memtusukan sambungan telepon.


Telepon terputus!


Ia kembali menepikan mobilnya. Kivandra berhenti di pinggir jalan tepat berada di bawah naungan pohon besar. Ia menunggu Chiko di dalam mobil.


****


CEKLEK!

__ADS_1


Sebuah pintu terbuka dan masuk satu orang pria yang diduga anak buah Nero. Ia memasuki ruang penyekapan Naya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Selain itu, di bahunya ada dress panjang untuk diberikan kepada sang tahanan.


Saat ini, Naya masih terlelap dengan kedua tangan masih menyilang menutupi dadanya. Perlahan pria itu mendekati Naya dan menyimpan nampan serta dress yang ia bawa di atas kasur tepat sebelah Naya. Asalnya pria itu ingin membangunkan Naya, akan tetapi, melihat tidur Naya yang begitu pulas membuatnya mengurungkan niat tersebut.


Entah apa yang terjadi pada pria itu, sehingga kedua tangannya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Naya yang begitu memprihatinkan. "Sebenarnya saya tidak tega melihat seorang wanita diperlakukan seperti ini, tapi ... ini adalah tugasku. Aku sudah bekerja pada Tuan Nero. Maafkan saya, Nona. Saya berharap, semoga suamimu segera datang," gumam pria itu dengan suara yang terdengar begitu tulus.


Setelah itu, pria tersebut berbalik badan dan hendak keluar dari ruangan itu. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan melupakan kebaikanmu," tutur Naya yang tiba-tiba bangun dan menatap ke arah pria matang tersebut.


Sebetulnya, Naya tidak sedang tidur. Ia hanya sedang berpura-pura saja ketika tahu akan ada seseorang yang masuk ke ruangannya. Sedangkan pria yang hendak pergi itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia memandang Naya yang saat ini sudah duduk dan memegang pakaian yang diberikan pria itu.


"Nona, maaf saya lancang. Saya ke mari hanya untuk memberikan makanan dan pakaian ganti untukmu, selamat menikmati. Saya permisi," tutur pria matang tersebut.


"Boleh saya tahu, siapa namamu, Pak?" tanya Naya pada pria itu.


"Saya Bayu," jawab pria bernama bayu seraya keluar dari ruangan itu.


"Akan kuingat namamu, Pak. Pak Bayu itu orang baik, aku harus membalas kebaikannya nanti." Naya berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membalas kebaikan pria itu setelah ia keluar dari tahanan ayah mertuanya.


Dengan cepat, Naya mengganti dress-nya dengan pakaian ganti berupa dress panjang yang dibawa oleh Pak Bayu tadi. Setelah itu, ia makan karena perutnya sudah sangat lapar. Disaat Naya tengah asyik menikmati makanannya, tiba-tiba kedua telinganya mendengar suara gaduh dari luar ruangannya. Ia ingin melihatnya, akan tetapi, kedua kakinya masih terikat.


"Kira-kira di luar ada apa ya? Aku enggak bisa diam saja seperti ini. Aku harus membuka ikatanku dan melihat apa yang sedang terjadi." Naya mencari benda tajam yang bisa ia gunakan untuk memotong tali yang mengikat di kedua kakinya.


Entah kebetulan atau tidak, tiba-tiba kedua mata Naya melihat sesuatu yang mengkilat di balik selembar tisue yang ada di sebelah piring tersebut. Karena penasaran, tentu Naya buka tisue itu dan betapa senangnya ia ketika mendapati sebuah pisau lipat. Benda yang mengkilat itu adalah pisau lipat.


Naya yakin jika ini adalah sebuah bantuan secara diam-diam yang dilakukannya untuk menolong Naya. Tak menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi, Naya segera mengambil pisau lipat tersebut dan memotong tali yang mengikat di kedua kakinya. Selang beberapa menit, Naya telah berhasil membuka ikatannya.


Ia turun dari ranjang dan berjalan secara perlahan ke arah jendela. Sesampainya di jendela, ia mengintip keadaan di luar ruangan tersebut. Terlihat tampak semua orang sedang panik seraya membawa ember kecil berisi air. Naya sudah bisa menyimpulkan bahwa salah satu ruangan sedang terbakar karena terlihat kepulan asap hitam.


TOK! TOK!


Naya terkejut bukan main ketika kaca jendela diketuk dari luar secara tiba-tiba. Jantungnya terasa seakan mau copot. Kemudian kedua matanya teralihkan ke arah pria yang sedang berdiri di depan kaca tersebut, dan pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Bayu. Terlihat Pak Bayu memperlihatkan sebuah kertas kepada Naya dengan tulisan ...


{Cepat pergi dari sini! Saya akan mengalihkan semuanya. Pergi ke arah hutan dan ikuti aliran sungai. Nanti setelah kamu menemukan sebuah rumah kecil, maka masuklah. Itu adalah rumahku. Di sana kau akan aman}.


Setelah membaca itu, Naya langsung mengangguk dan berniat kabur dari ruangan itu.


****


Akankah Naya berhasil kabur?


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2