
Naya menelan salivanya karena ibu mertuanya telah menyadari ketakutan di matanya. Mau tidak mau dia harus mengatakannya dengan jujur, Naya mengangguk. "Iya, Mami. Naya takut," jawab Naya dengan rasa malu di wajahnya.
"Astaga Naya, apa yang kamu takutkan. Gini ya, Tante ajarkan cara berjalan dan menyeimbangkan tubuh saat berjalan menggunakan heels." Refina mulai mempraktekkan cara berjalan yang anggun dan cara menyeimbangkan tubuh saat berjalan menggunakan heels.
Naya menyimaknya dengan baik, tidak begitu sulit namun tetap saja bagi Naya sangat sulit karena ini kali pertamanya memakai heels. Selesai melihat Tante Refina mempraktekkan, kini giliran Naya belajar berjalan menggunakan heels. Tubuh Naya sedikit miring dan gemeteran namun, setelah berkali-kali dia coba akhirnya Naya sedikit demi sedikit sudah mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya dan berani berjalan walaupun dengan langkahnya yang masih terlihat kaku.
"Bagus, jalanmu sudah bagus. Kalau begitu Mami tinggal dulu ya, Mami ada urusan mendesak. Kamu akan pulang dengan Kivan, dia sedang di jalan jadi tunggulah Kivan menjemputmu dan jangan pergi ke manapun. Kamu mengerti, Sayang?" Thalia mengelus lembut kepala Naya.
"Pulang bareng Tuan Kivan?" Naya membelalakkan matanya disertai debaran jantungnya yang cukup kencang.
"Iya. Kenapa ekspresimu seperti itu? Sekarang Kivan adalah suamimu, biasakan untuk selalu bersamanya. Mami mengerti kalau kamu masih merasa canggung tapi lama-lama kamu akan terbiasa kok. Tenanglah dan percaya diri." Thalia mendekat ke arah menantunya dan mendekatkan bibirnya di telinga Naya. "Ingat, sekarang kamu sudah cantik. Percayalah kalau Kivan akan mulai jatuh cinta pada saat melihatmu," bisik Thalia dengan sedikit menggoda menantunya.
Tentu saja Naya yang mendengar itu membuat wajahnya merona bak kepiting rebus. Baru saja mendengar godaan dari ibu mertuanya sudah membuatnya begitu gugup bagaimana pada saat Kivan datang dan menjemputnya. Rasanya Naya akan pingsan saat Kivan menjemputnya. Demi menyembunyikan wajahnya yang merona, Naya mengipas-ngipaskan kedua tangannya pada wajahnya yang terasa panas.
Melihat tingkah menantunya yang begitu polos membuat Thalia dan Refina tertawa gemas. "Astaga, Bestie. Menantumu ini benar-benar polos," kekeh Refina.
"Aku bilang apa? Naya-ku ini memang polos, itulah kenapa aku menjadikannya menantuku," kekeh Thalia. "Ya sudah kalau begitu, Mami pergi dulu ya, Naya. Bestie, aku titip menantuku ya. Jangan biarkan dia keluar sampai putraku datang menjemputnya," pinta Thalia pada sahabatnya.
"Pasti itu, Bestie. Tenang aja, menantumu ini akan aman di sini. Aku akan menjaganya dengan baik sampai pangerannya datang," goda Refina sembari menoleh ke arah Naya.
"Okay, aku pergi ya." Thalia pun pergi dari Arelia Boutique.
***
TIN! TIN!
Kivandra menyalakan klakson mobilnya berharap Naya akan segera keluar. Namun, setelah klakson dibunyikan, Naya tak kunjung datang. "Gadis kampung itu benar-benar membuatku repot," gerutu Kivandra seraya membuka sabuk pengamannya.
Kivandra mau tidak mau harus keluar dari mobil dan memasuki Arelia Boutique untuk menjemput istri yang tidak pernah dia inginkan. Tentu saja pada saat Kivandra berjalan memasuki butik semua mata memandang ke arah Kivandra. Sekarang Kivandra sudah menjadi pusat perhatian karena ketampanan, kegagahan dan sikap Arrogant-nya yang sudah menjadi ciri khas seorang Kivandra.
__ADS_1
"Kivandra!" panggil Refina seraya melambaikan tangannya.
Kivandra menoleh ke arah sumber suara itu. Namun, matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah duduk di sebelah Refina. Kivandra berjalan pelan dengan tatapan masih tertuju pada gadis itu. Pada saat gadis itu menoleh, sontak Kivandra menghentikan langkahnya disertai matanya yang membola dengan sempurna.
DEGG!
Jantung Naya mendadak berhenti pada saat melihat seorang pria yang tengah berdiri tegak dengan pandangan yang tajam mengarah padanya. Naya meremas jemarinya, dia benar-benar gugup jika dipandang seperti itu oleh pria walaupun pria yang tengah berdiri itu adalah suaminya, Kivandra Galaxy Dharmendra. Kini wajah Naya sudah merona pada saat Kivandra berjalan ke arahnya, bukannya merasa senang jika suaminya mendekat, Naya malah semakin gugup disertai debaran jantungnya yang begitu cepat dari biasanya.
"Kivandra, duduklah. Sudah lama sekali kamu tidak ke butik Tante," ucap Tante Refina dengan sedikit berbasa-basi dengan Kivandra.
"Terima kasih, Tante. Tapi, Kivan harus segera pulang. Kivan sedang banyak kerjaan," tolak Kivandra secara halus.
"Baiklah, lain kali kamu jangan menolak. Sering-sering ajak istrimu yang cantik ini ke butik Tante," goda Tante Refina.
GLEUK!
"Kivandra, Kivandra." Tante Refina melambaikan tangannya di depan wajah Kivandra.
Kivandra langsung tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, Tan."
"Bantuin dong istrinya." Refina memberikan kode pada Kivandra untuk membantu Naya berdiri lewat tatapan mata dan juga menaik-turunkan alisnya.
Kivandra mengernyitkan alisnya. "Bantuin? Apanya yang mesti Kivan bantuin, Tan? Dia 'kan punya tangan dan kaki dia bisa bangun sendiri," timpal Kivandra dengan ketus.
Naya seperti disambar petir di siang bolong mendengar ucapan pedas dari suaminya. Dia paham jika Kivandra tidak menginginkan pernikahan ini atau bahkan tidak mau mengakuinya sebagai istri tapi, bukan berarti Kivandra bisa mempermalukannya seperti itu di hadapan banyak orang. Sungguh, saat ini Naya benar-benar merasa malu terlebih lagi melihat semua pegawai Arelia Boutique tengah menertawakannya.
"Seandainya Naya teh bisa ngilang dari sini, mungkin Naya tidak akan semalu ini," gumam Naya dengan pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" skak Kivandra.
__ADS_1
"Euh?" Naya menatap Kivandra. "Tidak kok, Tuan muda. Naya tidak mengatakan apa-apa," jawab Naya.
"Ya udah, ayo kita pulang," ajak Kivandra tanpa ekspresi sedikit pun.
"Iya, Tuan muda." Naya beranjak dari duduknya.
"Tante, Kivan pulang dulu ya." Kivandra berjalan lebih dulu dan meninggalkan Naya.
"Astaga, anak itu. Istri sendiri ditinggal." Refina menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kivandra yang tidak peka.
"Tidak apa-apa, Tante. Naya bisa jalan sendiri, Naya pamit ya, Tante. Terima kasih sudah membantu Naya." Naya tersenyum ramah.
"Kamu yakin?" Refina khawatir karena Naya pertama kalinya memakai heels.
"In Sya Allah, Naya pamit ya, Tante. Assalamu'alaikum," Naya pamit sembari berjalan meninggalkan Tante Refina.
"Wa'alaikumsalam," jawab Refina.
Begitu sampai di luar, Naya bingung mencari mobil suaminya yang mana, karena dia tidak melihat suaminya sama sekali. Perlahan Naya menuruni anak tangga dan mencari suaminya. "Tuan Kivan ke mana ya? Yang mana mobilnya?" Naya celingukkan ke sana ke mari mencari keberadaan suaminya.
Tiba-tiba alarm mobil berbunyi membuat Naya terlonjak kaget dan sulit menyeimbangkan tubuhnya.
BRUGGHH!
"Aaawwhhh." Naya meringis seraya memegangi telapak kakinya yang sedikit keseleo.
Kivandra yang berada di dalam mobil mau tidak mau harus keluar, dia membanting pintu mobilnya. "Hei! Gadis kampung! Ngapain duduk di situ? Apa kau sedang berakting?" tuduh Kivandra seraya berkaca pinggang di hadapan Naya.
***
__ADS_1