Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 99 > Pelampiasan Nero


__ADS_3

Beberapa hari setelah kematian Pak Bayu ...


Setelah mengalami serangkaian masalah yang hampir merenggut nyawanya, kini Naya berakhir di rumah sakit. Ia mengalami trauma atas apa yang terjadi padanya belakang ini. Semenjak saat itu, tubuh Naya menjadi lemah sehingga harus dirawat inap. Ibu muda ini terbaring lemas di ranjang dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.


Naya ditemani oleh Kivandra dan juga ibu mertuanya. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Naya, biar bagaimana pun juga, semua ini terjadi atas dasar masa lalu ibu dan anak ini. Karena mantan suami sekaligus ayah Kivandra lah, kondisi Naya menjadi seperti ini. Seandainya hari itu mereka tidak bertemu dengan Nero, mungkin pria DS itu tidak akan pernah mengenal siapa Naya. Meski begitu, nasi sudah menjadi bubur dan mereka tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Naya pulih.


Kivandra duduk di kursi sebelah ranjang Naya. Tangan kekarnya menggenggam tangan sang istri dan menciumnya begitu lembut dengan durasi yang cukup lama. Tidak tega melihat kondisi istrinya yang terbaring lemas, Kivandra sesekali menitikkan air mata. Bukan karena cengeng, melainkan tangisan tersebut berupa kekhawatiran seorang suami pada istrinya. Itu menunjukkan betapa hancur hatinya melihat kondisi istrinya itu.


"Sayang, maafkan suamimu ini. Aku mohon, bangunlah Naya-ku. Aku dan si kembar sangat membutuhkanmu. Bangunlah," ucap Kivandra dengan suara beratnya.


"Sabar ya, Nak. InsyaAllah, istrimu akan segera sadar." Mami Thalia menenangkan putranya dengan mengelus lembut pundak sang putra.


Kemudian, Kivandra merasakan jemari Naya mulai bergerak. Sontak ia langsung menatap ke arah Naya yang sedari tadi tengah tertunduk. Perlahan Naya mulai membuka matanya. Setelah itu, terlihat Naya sedang menyipitkan kedua matanya dan mulai menggerakkan kepalanya. Ia menoleh ke samping kanan dan kiri melihat keberadaan Kivandra dan ibu mertuanya.


"Mas, apa yang terjadi padaku? Apakah aku sedang halusinasi?" tanya Naya dengan suara yang lemas.


Naya memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia mencoba mengingat sesuatu tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya. Karena, seingat dia ... ia masih berada di hutan dan menyaksikan dengan jelas insiden penghilangan ny4wa tesebut.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak sedang halusinasi. Saat ini, kamu memang berada di rumah sakit." Kivandra mengelus pipi sang istri.


"Mas, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa kepalaku terasa sangat sakit?" tanyanya sembari memegangi kepala. Ternyata Naya baru sadar jika di kepalanya terdapat balutan perban.


"Ceritanya panjang, Sayang. Yang terpenting kamu sudah melalui masa koma dan juga sadar. Semoga istri kecilku ini bisa segera pulih. Muach ...." Kivandra mengecup lembut kening sang istri di hadapan Mami Thalia.


"Koma? Naya koma? Apa itu benar, Mami?" Naya sedikit terkejut dengan ucapan sang suami. Kemudian ia menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Iya, Sayang. Kamu sempat koma. Kamu tahu, gimana cemasnya Kivan saat itu? Kivan terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padamu. Tapi, syukurlah sekarang kamu sudah sadar." Mami Thalia tersenyum seraya menjelaskan.


Naya menggenggam tangan suaminya dan menciumnya. "Maafin Naya, Mas. Naya sudah membuat Mas cemas."


Kivandra mengangguk sembari menitikkan air mata kebahagiaan karena rasa takut yang ia lalui sudah terlewati. Mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan keduanya begitu lembut dan terlihat seakan berbicara satu sama lain.


TOK! TOK! TOK!


Terdengar suara pintu diketuk sebanyak 3 kali dari luar. "Masuk," ucap Mami Thalia dari dalam.

__ADS_1


Kemudian masuk Tuan Liam dengan memakai kursi roda dan didampingi oleh satu suster. Tuan Liam masih mengenakan pakaian rumah sakit, itu artinya dia masih dirawat di rumah sakit. Melihat kakeknya datang, tentu saja Naya menyambutnya dengan senyuman hangat. Begitupun dengan Grandpa Liam.


"Antarkan aku pada cucuku, Naya!" perintah Tuan Liam pada suster tersebut.


"Baik, Tuan." Suster segera membawa Tuan Liam mendekati Naya.


"Cucuku, Naya. Grandpa senang melihatmu sudah kembali sadar. Kamu sudah menyelamatkan cucuku, Kivan dari rasa takut," ujar Tuan Liam.


"Iya, Grandpa. Oh iya, gimana keadaan Grandpa sekarang?"


"Seperti yang yang kamu lihat ini, Nak. Alhamdulillah Grandpa baik-baik saja, jawab Grandpa Liam dengan senyuman kecil di bibirnya.


****


"Aaarrggghhh!" teriak seorang pria.


SREETT!


PRAANG!


Pria yang tidak lain dan tidak bukan Nero ini menyapu semua barang yang ada di meja kerja dengan tangan kanannya sehingga semua barang tejatuh berserakan di lantai. Termasuk juga serpihan kaca yang pecah. Pria itu benar-benar terlihat sangat marah. Wajahnya yang merah padam serta dadanya bergemuruh menandakan jika amarahnya sudah berada di puncak tertinggi.


Selain itu ada sebuah fakta mencengangkan bagi Nero bahwa Bayu merupakan salah satu targetnya yang hilang beberapa tahun silam. Bayu merupakan suami dari wanita yang Nero sukai dan hendak ia nikahi. Namun, sebuah insiden terjadi. Di mana, istri Bayu ini menolak mentah-mentah tawaran Nero. Karena Nero tidak suka penolakan, hingga akhirnya pria itu menyewa salah satu p*mbunuh bayaran untuk menghilangkan nyawa wanita itu beserta keluarganya, termasuk juga Bayu.


Sayangnya, Nero tidak berhasil m*mbunuh Bayu sebab pria itu berhasil lolos. Itulah mengapa Nero sangat marah pada saat mengetahui jika anak buahnya yang bernama Bayu itu datang kembali untuk membalas dendam. Kedua tangannya mengepal, sehingga menonjolkan urat-urat di lengannya yang kekar itu.


TELEPON RINGTONE


Tiba-tiba teleponnya berbunyi. Dengan cepat tangannya merogoh saku celana dan mengambil ponsel tersebut. Terlihat jelas nama Alice di layar ponselnya itu. Tak membuang waktu lebih lama lagi, Nero mengangkat telepon dari Alice.


Telepon terhubung!


"Ada apa, Alice?" tanya Nero begitu telepon tersambung.


"Tuan Nero, bisakah kita bertemu? Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda," terdengar suara Alice di seberang telepon.

__ADS_1


"Tentang apa? Sehingga membuatmu ingin menemuiku?"


"Tentang putramu. Jika Anda tertarik, maka temui saya di tempat biasa. Tutt!" Alice mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Nero.


Telepon terputus!


Setelah bicara di telepon dengan Alice, Nero pun menyambar kunci mobil yang ada di meja sofa. Setelah itu ia keluar dari ruang kerjanya dengan langkah yang terburu-buru.


****


Di titik yang berbeda tepatnya di sebuah ruangan tertutup, Alice tengah menunggu Tuan Nero dengan ditemani segelas minuman. Ia duduk dengan kaki menyilang sambil menikmati minumannya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuklah!" perintah Alice dari dalam ruangan.


Pintu terbuka dan masuklah Tuan Nero. "Tuan, jangan lupa kunci pintunya," ujar Alice dengan nada yang manja.


Tuan Nero menuruti permintaan Alice dengan mengunci pintunya. Kemudian pria matang dengan wajah bule itu berjalan mendekati Alice. Ia mengambil minuman yang ada di tangan Alice dan menaruhnya di meja. Tangan kekar Nero menarik lengan Alice.


"Apa yang kamu inginkan dariku, Alice?" Nero menarik pinggang Alice sehingga tubuh Alice semakin menempel dengan tubuhnya.


"Aku sudah mendengar semuanya. Jika rencana Anda gagal. Maka dari itu, saya mengajak Anda ke mari untuk mengobati rasa kesalmu itu. Saya akan membangkitkan hasrat Anda untuk membuat rencana lain," jawab Alice dengan nada yang sedikit manja.


Tatapan Alice yang sedikit nakal serta pakaian yang ia gunakan cukup menggoda pria matang tersebut. Bagaimana tidak, kedua bukit Alice terlihat meny*mbul keluar membuat kedua mata Nero terbelalak. Lidah pria itu sedikit menyapu bibirnya disertai tatapan yang nakal.


"Oh, Alice ... kamu memang wanita pengertian. Kamu tahu apa yang sedang saya butuhkan saat ini." Tangan Nero mulai nakal dengan mer*mas b*kong Alice.


"Tapi, saya ada satu permintaan, Tuan." Alice membelai wajah tampan Nero yang sedikit brewokan itu.


"Katakan, apa yang kamu inginkan?"


Alice mendekatkan bibirnya di telinga Nero. "Aku mau ...." Alice meniup manja leher Nero sehingga membuat Nero merasakan sensasi liar.


"Apa yang kamu inginkan, akan kamu dapatkan. Sekarang, biarkan aku melampiaskan semuanya padamu, Sayang." Nero langsung menc*um bibir Alice.


Begitupun dengan Alice. Ia membalas permainan lidah Nero. Baginya, semua yang ia lakukan tidak masalah asalkan apa yang ia inginkan bisa terwujud. Lagipula, Nero adalah pria idaman. Ia memiliki postur tubuh yang atletis dengan dada yang sedikit berbulu dan yang membuat Alice menang banyak adalah senjata kebanggan Nero yang selalu membuatnya puas. Bagaikan beli satu gratis satu.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2