
Kini Kivandra, Naya beserta anak-anak sudah sampai di pasar yang Nek Aminah datangi. Mereka semua keluar dari mobil. Begitu mereka keluar dari mobil, mereka melihat Nek Aminah sedang berjalan bersama beberapa tukang ojek sembari menenteng belanjaan yang cukup banyak.
Naya yang melihat Neneknya repot seperti itu langsung menghampiri neneknya yang berada di seberang jalan. Naya menyebrang tanpa menoleh kanan kiri, alhasil sebuah motor hendak tertabrak. Namun, sebelum itu terjadi, Kivandra berlari dan meraih pinggang istri kecilnya dan menariknya. Kivandra berhasil menyelamatkan Naya.
Kini posisi mereka saat ini membuat keduanya terdiam. Hanya debaran jantungnya yang terus berdetak. Mereka saling menatap satu sama lain.
Sementara itu, semua orang yang melihat kejadian itu langsung berlarian ke arah Naya, termasuk juga neneknya. Mereka khawatir Naya terluka akibat pengendara motor tadi. Naya segera melepaskan tangan suaminya yang tengah melingkar di pinggangnya.
"Naya, kau tidak apa-apa?" tanya Nek Aminah setelah berada di hadapan cucunya.
"Neng Naya tidak apa-apa?" tanya tukang ojek dengan bahasa Sunda yang fasih.
Naya mengangguk dan tersenyum kepada Nek Aminah serta para tukang ojek yang menghampirinya. "Naya tidak apa-apa," jawab Naya.
"Syukurlah, lain kali Neng Naya hati-hati kalau mau menyebrang. Untung saja Tuan tampan ini dengan sigap menarik Neng Naya," tegur tukang ojek.
"Iya, Mang. Lain kali Naya akan hati-hati," timpal Naya.
"Tuan tampan ini siapa, Neng? Mang baru melihatnya," tanya Mang ojek.
"Perkenalkan, saya Kivandra. Saya suaminya Naya." Kivandra langsung memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan pada Mang ojek.
Sontak Naya menoleh ke arah suaminya. "Benar, Neng Naya? Tuan tampan ini suami Neng?" Mang ojek cukup terkejut mendengarnya.
Naya mengangguk. "Iya, Mang. Mas Kivan suami Naya," jawab Naya.
"Saya Mang Rahmat, panggil saja Mang Omat." Mang Omat berjabat tangan dengan Kivandra.
__ADS_1
"Nay, kenapa kau mengajak suamimu ke pasar? Kasian atuh Nak Kivan harus becek-becekan seperti ini," tanya Nek Aminah.
"Naya tidak mengajak Mas Kivan, Nek. Ini semua atas kemauannya sendiri," jawab Naya.
"Apa yang dikatakan Naya benar, Nek. Ini semua atas kemauanku sendiri. Oh iya, apa ada yang bisa Kivan bantu di sini?" tanya Kivandra pada Nek Aminah.
"Tidak ada, Nak. Semuanya sudah selesai. Nenek akan pulang sekarang," jawab Nek Aminah.
"Belanjaan Nek Aminah 'kan banyak, bagaimana jika Nenek pulang dengan mobilku saja?" tawar Kivandra.
"Tidak usah, Nak. Nenek sudah memesan ojek-ojek ini. Kasihan atuh kalau Nenek cancel mah,"
"Nenek tidak perlu cemas. Kivan akan tetap membayar Mang ojek ini. Sebentar." Kivandra mengeluarkan 6 lembar uang seratus ribuan.
"Mang, ada yang bisa menyetir tidak?" tanya Kivandra.
"Ya sudah, kalau begitu Mang antarkan Nek Aminah ke rumah ya. Saya akan bayar double. Dan untuk motornya, saya sewa dulu. Untuk anak-anak, saya akan kasih kalian uang untuk jajan di supermarket itu, bagaimana?" tanya Kivandra pada Mang ojek serta anak-anak. Dia menunjuk ke arah supermarket yang berada di seberang jalan.
"Iya, Kak tampan," jawab salah satu anak.
"Baik, Tuan."
Kivandra mengeluarkan 5 lembar uang seratus ribuan lagi. Kemudian dia memberikan kepada Mang Omat yang akan menyetir mobil 400 ribu, lalu ke dua tukang ojek 400 ribu dan ke anak-anak 300 ribu.
Tidak lupa, Kivandra juga memberikan kunci mobil pada Mang Omat. Begitupun dengan Mang Omat, dia juga memberikan kunci motornya pada Kivandra. Naya kebingungan dengan apa yang suaminya lakukan. Untuk apa dia menyewa motor.
Setelah Nek Aminah dan anak-anak itu pergi, Kivandra menaiki kuda besinya. "Sayang ... ayo naik," ucap Kivandra pada istri kecilnya.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Naya dengan raut wajah yang keheranan.
"Sudah, naik saja dulu."
Naya pun naik motor. Agak sedikit canggung karena dia duduk di jok yang sama. Biasanya dia duduk di jok yang berbeda. Jelas, karena ini pertama kalinya dia dibonceng oleh suaminya sendiri.
"Nay, apa yang kau lakukan? Ayo pegangan, nanti jatuh jika tidak pegangan," perintah Kivandra.
"Aku akan pegangan ke jok saja, Mas."
"Ya sudah, aku jalan ya." Kivandra mulai melajukan motornya.
Kivandra sesekali menatap Naya dari pantulan kaca spion. Naya terlihat sangat gugup dan terlihat jelas wajahnya merona. Kivandra tersenyum melihat itu, dia pun berpikir untuk membuat istrinya lebih dekat lagi dengannya.
Kivandra menambah kecepatan motornya sampai tubuh Naya tersentak pada punggung suaminya. Naya membelalakkan matanya, dia tahu jika suaminya telah merasakan sesuatu miliknya. Tanpa Naya duga, Kivandra menarik tangan istri kecilnya dan dilingkarkan tangan Naya di perut sixpack-nya.
"Aku sudah bilang untuk berpegangan, tapi kau tidak mau nurut. Untung saja kau tidak jatuh. Pegangan lah, aku ini suamimu. Tidak perlu secanggung ini, gadis kocakku." Kivandra tersenyum ke arah Naya dari kaca spionnya.
Naya mau tidak mau menuruti ucapan suaminya. Dia mulai memeluk Kivandra. Begitu tubuhnya bersentuhan dengan tubuh suaminya. Dia merasa sedikit nyaman, tubuhnya yang wangi dan dia juga merasakan di perut suaminya ada beberapa roti sobek.
Tanpa Naya sadari, kini jemarinya sedang mengelus keenam roti sobek yang super seksi milik suaminya. Kivandra tersenyum merasakan jika tangan istrinya sedang bermain di roti sobeknya.
"Sayang, apa yang kau lakukan di perutku?" sambar Kivandra.
"Aku sedang menghitung roti sobek yang ada di perutku, Mas," celetuk Naya dengan polos.
Kivandra yang mendengar celetukan istrinya langsung tertawa. Istri kecilnya itu benar-benar menggemaskan. Sikapnya yang polos membuat dia geleng-geleng kepala tapi, sikap itulah yang berhasil membuatnya menjadi bucin.
__ADS_1
****