
Yumna menutup pintu kamar putri kembar majikannya dengan pelan. Setelah itu ia berjalan menuju pintu utama. Terlihat jelas di wajahnya jika ia terlihat begitu kebingungan disertai keresahan yang menyelimuti hatinya. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Tentu hal itu membuat Yumna sedikit terkejut dengan reflek membalikkan badannya.
"Elu?" panggil Yumna dengan menatap pria yang berada di hadapannya. Pria tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Farel.
"Ngapa, lu? Lagi ada masalah?" tanya Farel dengan wajah yang keheranan, karena tidak biasanya Yumna terlihat seperti ini.
"Kepo amat dah, lu," celetuk Yumna seraya mengabaikan Farel dengan meninggalkan pria itu.
"Yee, ditanya malah nyelonong pergi aja. Kagak ada sopan-sopannya tuh cewek. Belagu banget, padahal kerjaan dia cuma ART!" Farel bergumam dengan suara yang pelan disertai tatapan yang masih tertuju kepada Yumna.
Entah telinga Yumna yang peka atau suara Farel yang cukup jelas, membuat Yumna yang sedari tadi berjalan meninggalkan Farel kini menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik badan dan kembali menghampiri pria itu. Dengan wajah yang dingin, Yumna menarik lengan Farel dan membawanya ke halaman belakang. Melihat tingkah wanita itu, tentunya membuat Farel sedikit kebingungan.
'Dasar aneh! Tadi nyeletuk gitu aja, lah sekarang dia malah ngajak gue ke belakang. Ini orang ngapa ya?' batin Farel bertanya-tanya dengan tingkah Yumna yang sedikit aneh dan tidak biasanya.
"Duduk!"
Sesampainya di halaman belakang, Yumna menyuruh Farel untuk duduk di salah satu kursi panjang. Namun, alih-alih menuruti perkataan Yumna, Farel justru tidak menurutinya dengan terus berdiri disertai tatapan yang terheran-heran. Sementara Yumna yang melihat hal itu tentu segera mendekati Farel dan membisikkan sesuatu di telinga pria tersebut.
"Duduk! Ada yang mau gue bicarain sama lu," jelas Yumna di telinga Farel. Kemudian ia duduk di kursi tersebut.
Setelah mendengar alasan Yumna membawanya ke halaman belakang, Farel akhirnya menuruti permintaan Yumna dengan duduk di sebelah wanita itu. Ia melihat jelas dengan kedua matanya jika wanita yang berada di samping sedang tidak baik-baik saja. Semua itu terlihat jelas di wajahnya apalagi mata wanita bernama Yumna.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Farel dengan nada bicara yang sedikit lembut nan santun.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir pria itu, membuat Yumna dengan cepat menganggukkan kepalanya. Lalu, Yumna memandang kedua mata Farel cukup dalam seakan matanya sedang membicarakan sesuatu. Tak hanya Yumna, Farel pun membalas tatapan wanita itu dengan penuh pertanyaan.
"Cerita aja, Yumna. Gue janji, kali ini gue enggak bakalan ngusilin lu dulu deh. Malam ini gue akan jadi pria care buat lu," ujar Farel disertai senyuman yang cool.
"Gue akan cerita, tapi lu harus janji dulu." Yumna menyodorkan jari kelingkingnya sebagai perjanjian.
__ADS_1
"Astaga, mau curhat aja pake janji segala. Enggak sekalian TTD di atas materai aja gitu?" kekeh Farel dengan sedikit bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.
"Gue serius, Farel!" Berbanding terbalik dengan Farel, Yumna justru tidak menunjukkan bahwa dia terhibur dengan candaan Farel. Wanita itu justru menunjukkan bahwa saat ini dia benar-benar serius, seakan ada sesuatu yang serius.
"Okay, sorry. Heumm ... gue harus janji apa nih?" tanya Farel tanpa mengaitkan jari kelingkingnya.
"Lu janji ya kalau masalah yang gue alami ini hanya kita berdua yang tahu. Jangan sampe masalah ini tersebar, apalagi sampe ke telinga Tuan Kivan dan bininya." Lagi-lagi Yumna kembali menyodorkan jari kelingkingnya.
"Yaelah, gue pikir apaan. Kalau soal itu lu jangan khawatir. Gue bisa pegang janji gue, gue bukan emak-emak tukang ghibah kali. Gue bisa pastikan itu. Gue janji." Farel akhirnya berjanji dengan mengaitkan jari kelingkingnya dengan Yumna.
"Ya, kali aja lu rempong," celetuk Yumna disertai tawa yang meledek.
"Rese lu. Udah buruan, lu mau curhat apaan?" timpal Farel dengan memutar kedua bola matanya malas.
"Gini loh, Rel. Bokap gue 'kan lagi dirawat ya, dan ini ada kaitannya dengan Alice," jelas Yumna dengan menatap pria yang ada di sampingnya.
"Yup, Alice. Lu masih ingat 'kan siapa dia?"
"Ya jelas gue masih ingat. Secara, dia itu wanita j*l*ng yang selalu merusak hubungan Tuan Kivan. Bagaimana gue lupa siapa wanita itu," jawab Farel dengan nada yang kesal.
"Slow. Lu jangan kesal sama gue dong. Gue 'kan hanya curhat, jangan sampe gue jadi pelampiasan kesalnya lu,"
"Sorry, gue enggak bisa tahan emosi gue kalau bahas tuh cewek,"
"Ya, gue tahu itu. Gue lanjut ya, jadi gini ...."
Flashback ....
Pada saat Yumna hendak menghilangkan penatnya dengan berbaring di kasurnya, tiba-tiba sebuah telepon masuk. Tentu saja, mendengar ponselnya berdering membuat wanita itu terpaksa bangun dan meraih ponsel yang berada di meja nakas. Dengan matanya yang menahan kantuk, Yumna menatap ponsel tersebut serta melihat siapa yang menghubunginya di malam seperti ini?
__ADS_1
Begitu dia melihat layar ponselnya, alangkah terkejutnya dia pada saat mengetahui bahwa yang menghubunginya saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Alice. Benar, wanita toxic yang selama ini dia coba untuk menghindarinya. Namun, hal itu selalu gagal.
Mau tidak mau, Yumna harus menjawab teleponnya. Dengan rasa malasnya, ia menggeser layar untuk mengangkat teleponnya. Setelah itu, dia menempelkan ponsel di telinga kanannya. Kemudian, barulah ia bicara.
Telepon terhubung!
"Hallo, Alice. Ada apa malam-malam begini telepon?" tanya Yumna to the point.
"Mana janji lu, Yumna? Gue udah enggak bisa sabar lagi ya! Ingat, lu jangan main-main sama gue. Karena jika itu terjadi, maka bokap lu yang akan menanggung semua itu!" terdengar jelas jika Alice tengah membentak Yumna disertai dengan ancaman.
"Ya, sabar dong. Gue ini lagi berusaha. Tugas yang lu kasih itu tidak mudah, kalau lu enggak sabar, mending lu lakuin aja sendiri! Lu jangan nyuruh gue apalagi ngancem-ngancem gue kek gitu. Gue udah cape jadi teman lu, lu hanya jadikan gue alat saja."
"Jangan belagu, lu! Gue bisa pastikan kalau perawatan bokap lu akan gue cabut dan setelah itu bokap lu akan mati! Lu lihat, apa yang akan gue lakukan besok! Tutt!"
"Hallo, Alice! Lu jangan macem-ma ...." ucapan Yumna terputus karena telepon diakhiri oleh Alice.
Telepon terputus!
"Si*lan! Dasar wanita gila lu, Alice! Aarrghh!" teriak Yumna karena frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri.
****
"Jadi, apa yang mau lu lakuin? Lu akan jahatin Tuan Kivan lagi?" tanya Farel setelah mendengar curahan hati Yumna.
"Gue bingung, Rel. Lu tahu sendiri 'kan gimana kondisi kesehatan bokap gue? Di satu sisi, gue enggak bisa lakuin itu sebab Tuan Kivan dan Tuan Liam sudah sangat baik sama gue tapi di sisi lain, gue juga khawatir sama keselamatan bokap gue. Gue harus gimana, Rel?" tanya Yumna dengan nada yang dan tanpa sadar, air matanya pun menetes di pipinya.
Mendengar itu, Farel meraih kedua tangan Yumna. Kemudian, tangan kanannya menyeka air mata wanita itu. Dengan tatapan yang lembut, Farel mengatakan sesuatu yang membuat Yumna sedikit merasa tenang.
Stay tune :)
__ADS_1