Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 96 > Sesuatu Menyeramkan


__ADS_3

Di tempat yang berbeda tepatnya di hutan Perawan. Saat ini kondisi di hutan tersebut mulai gelap, karena ini menunjukkan pukul 17.16. Kivandra, Farel dan juga Chiko masih terus melanjutkan perjalanan mencari Naya. Sampai saat ini, mereka belum juga menemukan tanda-tanda adanya Naya di hutan tersebut.


"Kivan, lu yakin kalau istri lu ada di hutan ini? Bagaimana kalau orang yang telepon elu itu berbohong?" tanya Chiko dengan wajahnya yang sudah banjir dengan keringat.


"Gue yakin, Ko. Kalaupun orang itu berbohong, gue kagak bakalan lepasin dia. Gue akan cari siapa orang yang udah telepon gue dan memberinya pelajaran," ujarnya dengan yakin.


"Tuan, kondisi mulai gelap. Bagaimana jika kita buka tenda di sini saja? Terlalu berbahaya jika kita tetap melanjutkan, kita mulai pencarian besok pagi. Bagaimana?" Farel mengusulkan saran pada tuannya.


"Oke, Rel. Gimana baiknya saja. Lagipula saya sudah cukup lelah, saya berharap Nayaku baik-baik saja," ucapnya setuju.


"Ide bagus. Dari tadi kek ngusulin kek gini. Kaki gue udah keram ini," keluh Chiko sembari memijat kedua kakinya. Saat ini Chiko sedang duduk di salah satu akar pohon.


"Sudah, dari pada ngeluh kek bocil. Mending kita bantuin Farel buat masang tenda," timpal Kivandra dengan mengeluarkan tenda dari tasnya.


"Siap, Tuan muda. Perintahmu akan segera dilaksanakan," ledek Chiko sambil memicingkan matanya ke arah Kivandra.


"Yaelah ... baperan amat jadi orang," celetuk Kivandra dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, jangan banyak cincong. Buruan bantuin!"


"Bakso kali ah," timpal Chiko dengan ketus.


"Itu cincang, Bego! Lu lama-lama gue tabok juga ya. Bukannya bantuin malah buat lelucon." Kivandra menatap sinis ke arah Chiko.


Disaat Kivandra dan Chiko sedang asyik membuat lelucon. Berbeda dengan Farel, ia sibuk memasang tenda. Sehingga tak lama kemudian, tenda pun sudah berdiri dengan sempurna dan siap untuk dipakai. Setelah itu, Farel duduk dengan santainya sambil melihat kedua pria itu masih saling meledek satu sama lain.


"Ekhem!" Farel berdehem. "Bisakah Tuan, Tuan ini membantu saya memasak makanan?" lanjut Farel dengan sedikit menyindir kedua pria tersebut.


Kedua pria itu reflek menoleh ke arah Farel begitu mendengar ucapan Farel. Kedua matanya membulat ketika melihat tendanya sudah jadi. Kemudian, kedua pria tersebut saling melempar tatapan satu sama lain.


"Loh, Rel ... tendanya sudah jadi? Lu yakin masangin tendanya sendiri? Secepat ini?" Chiko bertanya pada Farel dengan wajah yang keheranan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak percaya?" alih-alih menjawab pertanyaan Chiko, Farel justru balik bertanya. Kemudian, Chiko menggelengkan kepalanya seakan ia tidak mempercayai jika Farel bisa memasang tenda sendirian tanpa bantuan siapapun.


"Gue di bantuin penghuni hutan sini. Makanya cepet," celetuk Farel dengan sembarangan.


"Hei, PA! Elu!" Chiko membentak Farel seraya menunjuk wajah pria itu dengan jari telunjuknya.


"Apa? Kau takut?" ledek Farel dengan ekspresi yang dingin.


"Idih, ngapain juga takut. Gue cuma mau ingetin elu. Ini di hutan, jaga omongan lu, Rel. Lu ini gimana sih? Di sini lu itu leader, lu harus bisa nunjukkin perilaku yang santun dong selama di hutan. Jangan asal jeplak aja. Gue heran, lu yang ingetin gue sebelum masuk hutan tapi elu sendiri yang ngelanggar. Dasar aneh!" omel Chiko panjang lebar.


"Ya udah, dari pada panjang urusannya. Saya ngaku salah. Saya minta maaf atas kata-kata sompral saya, Tuan Chiko. Sekarang, apakah Anda bisa membantu saya memasak?"


"Okay, gue bantu." Chiko akhirnya mau membantu Farel dan juga Kivandra.


Kivandra dan Farel sudah sangat mengenal Chiko. Seperti apa kelakuannya. Bisa dibilang Chiko ini bagaikan emak-emak rempong yang selalu nge-ghibah ditukang sayur. Mulutnya selalu tancap gas tanpa rem. Ada aja yang diomelin dan dikomentari.


Mereka bertiga bagi-bagi tugas, yang satu membuat minuman hangat berupa susu jahe, kopi dan juga susu coklat. Sementara Chiko, ia memilih untuk memasak dan Farel sibuk membuat api unggun untuk sekedar menghangatkan tubuh mereka. Selang beberapa me5tfnit kemudian, makanan sudah siap, minuman hangat sudah siap dan api unggun pun sudah siap. Melihat semua itu sudah siap, Farel mengambil tiga batu untuk dijadikan alas duduk mereka bertiga.


Chiko memasak nugget, sosis dan juga mie instan. Walaupun sederhana, mereka tidak mengeluh dengan makanan tersebut. Sebab, makanan sangat instan untuk dimasak. Masing-masing memegang satu mangkuk dengan topping nugget, sosis yang dibagi rata. Di depan api unggun yang cukup menghangatkan tubuh mereka, mereka dengan santainya menikmati makanan instan tersebut dengan lahap.


Tak lama kemudian, mereka sudah selesai makannya. Farel segera merapikan sampah bekas tadi dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkan. Tidak lupa, ia juga merapikan alat masak tadi dan juga mangkuk kotor untuk ia bawa ke sumber air. Melihat Farel yang membawa mangkuk-mangkuk kotor, membuat kedua pria itu menatap ke arah Farel.


"Lu mau ke mana, Rel?" tanya Chiko dengan wajah heran.


"Apa lagi, saya mau mencuci mangkuk-mangkuk ini. Kebetulan sumber air tak jauh dari sini," jawab Farel dengan santainya.


"Gila lu ya. Ini udah malam, Rel! 'Kan bisa besok pagi mencucinya, apa lu enggak takut sendirian pergi ke sana?"


"Apa yang harus saya takutkan? Lagian, saya enggak pergi sendirian kok." Farel tersenyum smirk.


"Maksud lu?"

__ADS_1


"Ya, Anda temani saya untuk mencuci piring ini. Saya juga harus mengisi botol ini dengan air. Stok air sudah habis, dan perjalanan kita masih jauh. Setidaknya harus ada satu orang yang bantuin saya," jelas Farel.


"Lah, kenapa harus gue? Kenapa enggak ajak Tuanmu saja?" protes Chiko sambil menoleh ke arah Kivandra.


"Sudah, sudah. Biar gue aja yang ikut Farel. Dan lu, Ko ... lu tunggu di tenda, jangan pergi ke manapun sampai kita balik, paham!" tegas Kivandra yang sudah malas untuk bertengkar.


Chiko terdiam beberapa saat. Setelah ia pikirkan sekali lagi dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya, ia tiba-tiba merasa merinding. 'Gue rasa, ikut si Farel lebih baik dari pada tunggu di sini sendirian. Gimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dan enggak ada yang bisa bantuin gue?' batin Chiko bertanya-tanya.


"Tunggu!" ucap Chiko pada Farel dan Kivandra pada saat keduanya hendak pergi.


"Apa lagi sih, Chiko?" tanya Kivandra dengan nada yang kesal.


"Hehe, lu aja deh yang tunggu di tenda. Biar gue yang ikut Farel. Sekalian gue mau cuci muka." Chiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.


"Yee, lu mah. Plin-plan amat jadi cowok. Ya udah, sono jangan kebanyakan mikir. Ntar ubanan tuh rambut," celetuk Kivandra dengan ketus.


Chiko dan Farel pun akhirnya pergi, sementara Kivandra menunggu di tenda. Ia melihat kepergian kedua pria itu sampai keduanya benar-benar tak terlihat lagi. Karena merasa bete sendirian, Kivandra memutuskan untuk masuk tenda. Ia merebahkan tubuhnya di matras dan mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, belum lama ia memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara pasir yang dilempar ke arah tendanya.


Awalnya, Kivandra mengabaikan suara tersebut. Akan tetapi, suara itu terus terdengar seakan ada orang yang sengaja melemparkan pasir itu ke tendanya. Karena merasa kesal, Kivandra keluar dari tenda dengan headlamp di kepalanya. Tidak lupa, ia juga memegang senter di tangan kanannya.


"Keluar kalian! Ini enggak lucu. Jangan kira saya takut karena usilan kalian ini. Keluar kau, Farel! Chiko!" teriak Kivandra dengan mengarahkan senter tersebut ke sekelilingnya. Ia mengira kalau Farel dan Chiko sengaja mengusilinya dengan lemparan pasir.


Tak lama setelah Kivandra berteriak, tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak tak jauh dari tendanya. Mendengar hal itu, Kivandra bergerak cepat. Ia segera mengambil pistol untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk. Dan benar saja, begitu Kivandra memegang pistol tersebut, kembali terdengar suara geraman yang cukup jelas. Bisa dipastikan jika suara tersebut adalah suara hewan buas.


Jari Kivandra sudah siap untuk menarik pelatuknya. Kedua matanya melihat jelas jika semak-semak itu terus bergerak mendekatinya. Seketika mata Kivandra terbelalak menatap sesuatu yang keluar dari semak-semak. Tangannya bergetar dan pada saat ia menarik pelatuknya tidak ada peluru yang keluar dari pistol tersebut.


"****, gue kehabisan peluru!" gerutu Kivandra seraya membuang senjata tersebut. Ia mencoba menghindar dari sesuatu menyeramkan yang ada di hadapannya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2