
Di titik yang berbeda, tepatnya di kediaman Kivandra. Saat ini Mami Thalia dan Grandpa Liam sedang harap-harap cemas menunggu kedatangan Kivandra dan istrinya. Keduanya begitu mengkhawatirkan Naya, sebab kondisi Kivandra saat ini sedang tidak terkendali. Yang mereka takutkan, insiden masa lalu kembali terjadi karena ulah Nero.
"Dad, gimana ini? Kivan sama Naya belum balik juga? Apa Thalia cari mereka aja ya?" tanya Mami Thalia kepada sang ayah.
"Jangan, Nak. Ini sudah malam, tidak baik seorang wanita keluar malam-malam sendirian. Apalagi menyetir sendiri, itu bahaya." Daddy Liam melarang sang putri untuk pergi mencari menantunya dengan memegang tangannya.
"Tapi, Dad .... aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Daddy harus ingat, si kembar sangat membutuhkan Naya sebagai mamanya. Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada menantuku." Mami Thalia memandang sang ayah dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.
"Percayalah, Nak. Kivan kita itu sudah berubah, dia tidak akan berbuat hal nekat lagi. Kivan sangat mencintai Naya. Kamu harus percaya pada putramu sendiri. Tenang lah, biar hatimu tidak terlalu cemas, Daddy akan mengutus Pak Bagas untuk mencari tahu keberadaan Kivan dan Naya, bagaimana?" Daddy Liam mengusulkan idenya kepada sang putri satu-satunya.
"Ide bagus, Dad. Kenapa tidak dari tadi," balas Mami Thalia dengan menyetujui saran dari sang Ayah.
Tanpa membuang waktu lagi, Daddy Liam memanggil Pak Bagas. "Pak Bagas!" suaranya begitu lantang.
Sehingga tak lama kemudian, sang pemilik nama tersebut telah menunjukkan batang hidungnya. "Iya, Tuan."
"Pak Bagas, saya ada tugas untukmu. Sekarang juga kamu cari tahu keberadaan cucuku Kivan dengan istrinya. Begitu tahu, kamu segera hubungi saya!" perintah Tuan Liam.
"Baik, Tuan. Akan saya lakukan tugasnya dengan sangat baik," jawab Pak Bagas dengan penuh rasa hormat.
"Bagus. Sekarang, pergilah!" Tuan Liam mempersilakan Pak Bagas untuk mulai menjalankan tugasnya.
"Siap, Tuan."
Setelah itu, Pak Bagas pergi dari hadapan Tuan Liam dan juga putrinya. Sesampainya di mobil, ia segera masuk mobil serta melajukannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
****
Beberapa jam kemudian ....
Mami Thalia masih setia menunggu kabar keberadaan sang putra beserta menantunya. Sehingga sudah berjam-jam lamanya ia duduk di ruang keluarga dengan terus menatap ponsel, berharap ia akan segera dihubungi oleh Pak Bagas. Sementara itu, Tuan Liam merasa tidak tega melihat putrinya terus menunggu sesuatu yang belum pasti, kapan Pak Bagas akan menghubunginya.
"Thalia sayang, sebaiknya kamu pergi tidur, gih. Urusan mereka biar Daddy yang urus. Nanti begitu Daddy sudah dapat kabar, Daddy akan kasih tahu kamu." Tuan Liam mengelus lembut kepala Thalia.
"Ya udah, Thalia ke kamar dulu ya." Thalia tersenyum ia pergi ke kamar.
"Iya, Sayang. Good night," ujar Daddy Liam.
"Good Night, Dad,"
Belum jauh Thalia melangkah, tiba-tiba ponsel Daddy Liam berdering. Thalia yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia tahu kalau sering tersebut adalah tanda ada panggilan masuk. Sementara Daddy Liam, ia sudah mengangkat telepon tersebut dengan ponsel yang ditempelkan di telinga kanan.
Telepon terhubung!
"Hallo, Pak Bagas. Apa kamu sudah mengetahui keberadaan cucuku?" tanya Daddy Liam dengan tidak sabar.
".... "
"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu, mereka ada di hotel mana?" tanya Daddy Liam pada pria yang ada di seberang telepon.
".... "
"Baikkah. Pastikan kamu tetap di sana. Terap awasi cucuku! Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi!" perintah Daddy Liam.
__ADS_1
".... "
"Tutt!" Daddy Liam segera mengakhiri pembicaraannya.
Telepon terputus!
Thalia yang sedari tadi memperhatikan sang ayah yang bicara di telepon, kini berjalan mendekati Daddy Liam. "Dad, apa itu dari Pak Bagas?" tanya Thalia untuk memastikannya.
"Ya," jawab Daddy Liam dengan begitu singkat. Selain itu, Daddy Liam juga memasang wajah yang cemas.
"Ada apa, Dad? Are you okay?" tanya Thalia seraya memegang tangan sang ayah.
"I'm okay. Kamu pergi tidur, Kivan dan Naya aman. Mereka ada di hotel, sepertinya mereka tidak akan pulang. Biarkan saja, biar mereka atasi sendiri permasalahannya. Kita tidak perlu ikut campur,"
"Boleh Thalia tahu, mereka ada di hotel mana?"
"Tidak penting mereka menginap di hotel mana. Yang jelas, mereka baik-baik saja. Pak Bagas standby di depan hotel itu untuk mengawasi Kivan. Sudah, sebaiknya kamu tidur. Jangan terlalu memikirkan putramu,"
"Okay, Thalia ke kamar. Daddy juga tidur ya." Thalia berjalan meninggalkan sang ayah.
Thalia berjalan pelan menuju kamarnya. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan hotel yang putranya pesan tapi Daddy Liam tidak mau memberi tahunya. Alhasil, ia mengalah untuk tidak mempertanyakan lagi perihal hotelnya. Tak lama kemudian, Thalia sudah berada di pintu kamarnya.
Dengan cepat, ia memegang handle pintu dan membukanya. Begitu ia berada di dalam kamar, ia merasa heran karena seingatnya ia tidak mematikan lampu kamar. Akan tetapi, kondisi saat ini di kamarnya cukup gelap. Kemudian, Thalia menyalakan lampu kamarnya dan
tidak lupa ia menutup serta mengunci kamarnya. Karena ia merasa terlalu lelah, wanita cantik itu bergegas untuk tidur.
Baru saja tubuhnya hendak merebahkan tubuhnya, tanpa sengaja sudut matanya melirik ke arah meja rias. Karena penasaran dengan apa yang ia lihat, Thalia kembali bangun dan beranjak dari ranjang menuju ke arah meja rias. Setelah berada di depan meja rias, ia tidak melihat hal yang aneh. Namun, begitu ia perhatikan lebih detail lagi ternyata ada sebuah surat terselip di laci.
'Buka enggak ya? Aku penasaran dengan isi suratnya. Tapi, aku takut isinya terror atau ancaman lagi,' batinnya dengan mata yang masih tertuju pada kertas yang ia pegang.
Sebelumnya, Thalia pernah mengalami hal serupa. Di mana, ia sering mendapatkan surat. Dan semua surat itu isinya, ancaman semua. Itulah mengapa wanita ini sedikit ragu untuk membukanya. Meski begitu, ia tetap merasa penasaran. Sehingga membuatnya memberanikan diri untuk membuka surat itu.
Huft!
Thalia menghela napas panjang sembari menatap surat itu. Setelah itu, perlahan ia mulai membuka surat itu. "What? Apa-apaan ini?" Kedua mata Thalia terbelalak dengan sempurna ketika mengetahui kalau surat itu ternyata isinya kosong.
Merasa kesal, Thalia langsung membuang surat itu dengan ekspresi yang sedikit marah. "Lancang sekali! Siapa yang menaruh surat ini di kamarku?" Thalia bermonolog dalam lamunannya.
****
Di titik yang berbeda, tepatnya di kediaman Nero. Saat ini malam sudah berganti pagi. Pagi ini, seperti biasa Nero tengah berolahraga di ruang gym-nya. Pria itu tak menggunakan tshirt sehingga memperlihatkan roti sobek kebanggaannya.
Selang beberapa menit kemudian, ia duduk di sebuah kursi panjang seraya mengusap keringatnya dengan handuk kecil. Selesai itu, pria kekar tersebut menyambar sebotol air mineral dan meminumnya. Setelah tenggorokannya merasa lega, ia mengambil ponsel yang berada tak jauh dari ia duduk.
{ .... }.
Nero tertawa puas setelah mengirimkan pesan ke salah satu wanita. "Kita lihat, drama apa yang akan terjadi pagi ini," ucapnya.
****
Di kamar hotel ...
Pagi ini, Naya sudah terbangun lebih awal. Bahkan Naya baru selesai mandi. Saat ini, Naya sedang menyisir rambutnya sebelum ia mengeringkannya dengan hairdryer.
__ADS_1
Drrtt! Drrrtt!
Naya yang sedang asyik itu segera mengalihkan pandangannya ke meja nakas sebelah ranjang. Ia melihat ke arah benda pipih yang layarnya tengah menyala disertai getaran kecil. Kemudian Naya berjalan menuju meja nakas untuk memeriksa ponselnya.
Sesampainya di meja nakas, ia meraih ponsel itu dan duduk di tepi ranjang. Naya segera membuka pesan masuk serta membacanya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pesan.
"Sayang ... kamu sudah bangun?" tanya Kivandra dengan suara khas bangun tidur.
Mendengar itu, sontak Naya terkejut sampai menjatuhkan ponselnya. "Mas! Kamu iseng banget sih," omel Naya pada suaminya.
"Loh, kok iseng sih? Aku hanya bertanya. Kenapa kamu terkejut seperti ini? Ada apa?" Kivandra bangun dan duduk di sebelah sang istri.
Sementara itu, Naya mengambil ponsel yang ia jatuhkan. "Mas ...." Naya menatap lekat mata suaminya.
"Apa, Sayang?" Kivandra mengelus lembut pipi sang istri.
"Ada yang mengirimiku pesan ini." Naya memperlihatkan isi pesan di ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Kivandra tanpa membaca pesannya terlebih dahulu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Naya menggelengkan kepalanya.
"Biar aku lihat pesannya," pinta Kivandra.
"Tentu." Naya segera memberikan ponselnya kepada sang suami.
Kivandra mengambil ponsel itu dan membacanya. Sedangkan Naya, ia hanya menatap sang suami sembari menunggu respon dari suaminya. Namun, Kivandra hanya tersenyum tipis. "Apa yang membuatmu tersenyum seperti ini, Mas?" Naya keheranan melihat suaminya yang tak menunjukkan rasa cemas ataupun marah.
"Terus aku harus bereaksi seperti apa? Apa aku harus takut atau marah setelah mendapat pesan seperti ini? Tidak, Sayang. Aku tidak akan terpancing semudah itu. Pesan ini terlalu norak untukku dan aku tahu siapa yang mengirimkan pesan ini," jelas Kivandra diakhiri dengan tertawa kecil.
"Siapa yang telah mengirimkan ini?" alih-alih ikut tertawa, justru Naya malah penasaran dengan orang yang mengirimnya pesan.
"Sudah, lupakan saja. Aku akan mandi, setelah itu kita sarapan." Kivandra beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar bunglon!" umpat Naya dengan suara yang pelan.
Tiba-tiba Kivandra menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Kemudian Kivandra kembali mendekati sang istri. Tatapannya begitu tajam sehingga membuat Naya ketar-ketir.
"Kamu mengumpat?" skak Kivandra dengan tubuh terus mendekati Naya.
Naya mulai merasa terpojok. Saat ini tubuhnya sudah terbaring di ranjang. Melihat itu, Kivandra langsung mengunci tubuh sang istri dengan mengukung tubuhnya oleh kedua tangannya. "Mas, bukannya mau mandi? Kenapa masih di sini? Apa yang kamu lakukan?" tanya Naya tanpa berani menatap mata suaminya.
"Kenapa? Apa kamu keberatan?"
"Bukan begitu, aku hanya--"
"Sstt!" Kivandra menempelkan jari telunjuk di bibir sang istri. "Orang yang mengirim pesanmu ini adalah NERO!" lanjut Kivandra.
"Apa?" Naya terkejut setelah suaminya tiba-tiba mengatakan itu.
****
Stay tune :)
__ADS_1