
"Mas!" Naya memekik seraya memeriksa tangan suaminya.
"Aku minta maaf, Tuan." Pelayan itu meminta maaf seraya menundukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati!" timpal Kivandra pada pelayan itu.
"Naya, ayo." Thalia mengajak menantunya untuk pergi.
Naya hendak melepaskan jas milik suaminya dan pergi. Namun, Kivandra melarangnya. "Pakai jasnya! Dan Mami, Kivan perlu bicara dengan Naya," ujar Kivandra pada Naya dan maminya.
Naya menatap ibu mertuanya, Thalia mengangguk dan tersenyum. "Ikut aku." Kivandra menggenggam tangan Naya dan membawanya pergi.
Naya berjalan sangat hati-hati dan pelan karena dia takut terjatuh. Biar bagaimanapun juga dia belum begitu lancar berjalan menggunakan heels. Kivandra yang menyadari hal itu, tanpa basa basi langsung menggendong tubuh Naya dan membawanya keluar dari cafe.
Seketika keadaan cafe jadi ramai membicarakan Naya dan Kivandra. Semua orang mengambil ponselnya dan memotret Naya dan Kivandra. "Jadi, wanita cantik itu istri pria itu. Terus wanita yang bersama pria tadi siapa? Apa pria itu berselingkuh?"
"Sepertinya pria itu selingkuh, tapi aku salut sama sikap tenang istrinya. Aduh bestie, aku ngerasa lagi nonton drakor. Mereka sweet banget," timpal yang lain.
Mendengar itu, Thalia tertawa meledek ke arah Alice. Kemudian Thalia pergi meninggalkan Alice. Sementara itu, Alice merasa sangat kesal. 'Naya, awas kau! Akan kubalas perlakuanmu ini! Aku bersumpah, aku akan mengambil Kivan kembali!'
***
Di dalam mobil ...
"Kenapa Tuan muda menggendongku seperti itu? Naya teh malu tau." Naya mengipas-ngipasi wajahnya karena merasa gerah.
Kivandra menyalakan AC mobil setelah melihat Naya mengipas-ngipasi wajahnya. Otomatis Naya menoleh ke arah suaminya. 'Peka juga dia,'
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kivandra dengan tatapan yang lekat.
"Tidak apa-apa, Naya hanya aneh aja sama Tuan muda," jawab Naya.
"Aneh kenapa?"
__ADS_1
"Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang," kekeh Naya.
"Naya! Saya serius!" pekik Kivandra.
"Tapi, Naya enggak. Wlee!" Naya menjulurkan lidahnya tanda meledek.
"Naya!" bentak Kivandra.
"Cantik!" Naya tertawa.
"Astaga gadis ini!" Kivandra merasa kesal dengan sikap kocak istri kecilnya ini.
Kivandra hendak melajukan mobilnya tapi, tiba-tiba Alice masuk ke mobil Kivandra dan mengejutkan Naya dan Kivandra. "Nona Alice, kenapa masuk mobil suamiku? Apa suamiku yang menyuruhmu menumpang?" tanya Naya dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Kau ini bicara apa, Naya? Aku tidak menyuruhnya ke mari," timpal Kivandra.
"Oh iya?" Naya meleaskan jas Kivandra yang tengah dia kenakan. Kemudian Naya mengembalikan jas itu pada suaminya.
"Mas pulang bersama mantan Mas saja ya. Naya akan pulang dengan taksi." Naya hendak keluar dari mobil tapi Kivandra menahan tangan Naya.
Naya tersenyum. "Sweet banget suamiku ini." Naya mengelus lembut wajah tampan suaminya.
"Aku tidak akan nyasar, Sayang. Jangan khawatir. Kau bersenang-senanglah bersama Nona Alice. Sampai ketemu di rumah." Naya melepaskan tangannya dari genggaman Kivandra.
Naya keluar dari mobil, dia tidak ingin satu mobil dengan mantan kekasih suaminya. Jadi, Naya memilih untuk mengalah dari pada dia harus melihat dan merasakan sakit di hatinya. Sementara itu, Kivandra terdiam memandangi Naya yang berjalan dengan hati-hati dari dalam mobilnya.
Tanpa sadar, Alice sudah berada di sebelahnya. "Sudah, jangan terus memandang gadis kampung itu! Sekarang gadis norak itu sudah pergi. Hanya ada kita berdua di sini, pandang saja aku, eumm." Alice menangkup wajah Kivandra dengan kedua tangannya.
"Jangan menyentuhku! Jauhkan tanganmu itu!" Kivandra menepis kedua tangan Alice.
"Aku peringatkan dirimu, Nona Alice! Jangan menghina istri kecilku seperti itu. Walaupun dia gadis kampung tapi setidaknya dia bukan gadis kotor sepertimu! Yang rela tidur dengan banyak pria demi mendapatkan kekayaan. Kau tahu! Wanita yang paling rendah itu bukanlah gadis yang berasal dari kampung, melainkan gadis kota sepertimu! Gadis yang tidak bisa menjaga mahkotanya sendiri!" cibir Kivandra dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.
"Kivan! Cukup! Kau sudah keterlaluan!" bentak Alice dengan matanya yang sudah berubah merah.
__ADS_1
"Bukan aku yang keterlaluan, tapi kau sendiri! Kau harus ingat satu hal, Nona Alice. Hubungan kita sudah berakhir, berhenti menggangguku dan pernikahanku! Carilah pria yang baik dan mulai buka hatimu kembali. Aku tidak ingin melakukan hal kasar padamu jadi, sebelum aku marah dan monster keluar dari diriku sebaiknya kau berhenti mengejarku dan membuat kegaduhan. Sekarang keluar dari mobilku!" Kivandra membuka pintu mobilnya untuk Alice keluar.
"Tidak semudah itu, Kivan! Aku masih mencintamu, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan pria manapun karena di hatiku hanya terukir namamu saja. Percayalah, Kivan. Beri aku kesempatan sekali saja, aku tidak akan mengkhianatimu lagi, aku ingin menikah denganmu." Alice menggenggam tangan Kivandra sembari memelas.
"Sudah terlambat! Sudah tidak ada lagi kesempatan kedua untukmu. Aku sudah menikah dengan Naya, dan aku tidak ingin melukai gadis yang tidak bersalah seperti Naya. Mulai hari ini, aku akan membuka hatiku untuk Naya, aku ingin mulai mencintainya karena Naya memang pantas untuk mendapatkan cinta tulusku," jelas Kivandra.
"Enggak! Aku enggak akan biarkan kalian saling mencintai! Aku akan terus memisahkan kalian. Kau lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada istri norakmu itu!" ancam Alice. Kemudian Alice keluar dari mobil Kivandra.
***
Di jalan ...
Naya berjalan seraya menghentak-hentakkan kakinya. "Nona Alice itu kenapa sih, masih saja mengejar Tuan muda? Tuan muda juga, kenapa dia tidak menyuruh Alice keluar dari mobilnya? Dia lebih memilih satu mobil dengan mantannya dari pada dengan istrinya sendiri. Menyebalkan!" gerutu Naya.
"Hai, Nona manis." Tiba-tiba datang tiga orang pria dari belakang Naya dan menyentuh bahu Naya yang lembut dan wangi.
Naya terlonjak kaget, dia membalikkan badannya dan menatap ketiga pria itu. "Siapa kalian?" tanya Naya. Naya yakin jika pria yang berada di hadapannya itu adalah preman.
"Tidak penting siapa nama kami. Oh iya, Nona manis mau ke mana? Mau abang antar pulang?" tawar salah satu pria bertubuh kekar dan berkulit hitam.
Naya menelan salivanya saat melihat ketiga pria itu sedang menatap nakal ke arah tubuh Naya. Naya sangat ketakutan, sehingga Naya mulai melepaskan heels. Dan pada saat ketiga pria itu hendak mendekati Naya, Naya dengan cepat berlari menghindari ketiga pria itu.
"Woiiy, gadis nakal! Awas kau kalau kena!" teriak pria berkulit hitam tadi.
"Tuan muda, tolong Naya!" teriak Naya seraya mempercepat lariannya. Dia berlari tanpa menggunakan alas kaki. dia meninggalkan heels-nya di tempat tadi.
Naya terus berlari tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Kemudian Naya menyebrang, dia tidak melihat jika lampunya masih hijau, itu tandanya mobil masih melaju. Sehingga Naya hampir tertabrak oleh satu mobil. Tapi, untungnya mobil itu berhenti tepat pada waktunya.
Naya tidak ada pilihan lain, ketiga pria itu terus mengejarnya. Naya memutuskan untuk masuk mobil yang hampir menabraknya dan bahkan Naya tidak mengenal pemilik mobil itu. "Tuan, izinkan saya bersembunyi di sini. Tolong bantu saya. Ketiga pria jahat itu sedang mengejarku. Aku mohon," ucap Naya tanpa menoleh ke arah pria itu.
"Baiklah, aku akan membantumu, Nona Naya." Pemilik mobil itu langsung melajukan mobilnya.
Naya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya karena takut ketahuan oleh ketiga pria tadi, lalu Naya mengangkat kepalanya dan menatap pemilik mobil yang dia tumpangi. Begitu melihatnya, Naya membulatkan matanya dengan sempurna. Naya ingat betul, siapa pria yang telah menolongnya kali ini.
__ADS_1
***