
"Bersiap-siaplah, kita akan pergi jalan-jalan sekalian Mami akan mengajarimu menyetir!" perintah Thalia.
"Mm-menyetir? Naya menyetir?" Naya membelalakkan matanya.
"Iya, Kanaya. Kamu harus bisa menyetir! Setiap anggota keluarga Buana harus bisa menyetir, jadi kamu enggak boleh menolak!"
"Tapi, Mami. Naya takut, Naya takut nabrak," timpal Naya.
"Jangan dibiasakan selalu takut. Mana Naya yang dulu? Naya yang pemberani? Kenapa setelah menikah kamu jadi penakut seperti ini? Apa Kivan selalu menekanmu? Mami kasih tau ya, menyetir itu mudah. Asalkan kamu fokus konsentrasi dan belajar bersungguh-sungguh agar cepat bisa. Kita tidak akan nabrak selama kita melajukan mobilnya dengan benar dan sesuai aturan. Cepat ganti pakaianmu! Mami tunggu di ruang utama," ujar Thalia.
"Baik, Mami."
Naya dan Thalia keluar dari kamar. Thalia pergi menuju ruang utama sedangkan Naya pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Thalia yang saat ini tengah menuruni anak tangga tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada telepon masuk.
Thalia merogoh tas untuk mengambil ponselnya. Sebelum keluar kamar, Thalia memang sudah membawa tasnya. Kemudian Thalia mengangkat telepon dan menempelkan ponselnya di telinga.
Telepon terhubung!
"Hallo, ada apa? Ada kabar apa dari anakku?"
"Tuan Kivan sedang menemui seorang wanita, Bu. Saat ini Tuan Kivan berada di salah satu cafe."
"Apa kalian ada buktinya?"
"Ada, Bu. Saya sempat memotretnya, akan saya kirimkan fotonya."
"Okay, sekalian share lok cafe yang anakku datangi!"
"Baik, Bu."
"Tutt!" kemudian Thalia mematikan teleponnya.
Telepon terputus!
Thalia yang saat ini sedang menuruni anak tangga, tiba-tiba dia membalikkan badan dan berlari ke arah kamar Naya. "Naya, cepatlah!" Thalia mengetuk pintu kamar Naya.
__ADS_1
"Iya, Mami. Naya keluar." Naya membuka pintunya dan membawa tas kecil.
Begitu Naya keluar, Thalia malah memandang menantunya beberapa saat. "Ada apa, Mami? Apa penampilan Naya masih terlihat norak?" Naya memandangi pakaiannya sendiri.
"Sempurna! Penampilanmu sangat cantik, tidak sia-sia Mami mengajarimu fashion. Ayo, kita berangkat." Thalia menggandeng tangan menantunya.
Naya pun mengangguk dan tersenyum. Mereka berjalan bersamaan. Kali ini mereka tidak menuruni anak tangga, melainkan menggunakan elevator agar cepat sampai di basement.
Thalia memakai mobil Kivandra. "Naya, duduk di depan. Masuklah!" perintah Thalia.
"Iya, Mami." Naya masuk mobil.
Setelah Naya memasuki mobil, Thalia mengitari mobilnya dan masuk mobil. Dia duduk di kursi kemudi sebelah Naya. "Naya, apa kau masih ingat, kalau pertama kali naik mobil ... apa yang harus kau lakukan?" tanya Thalia seraya melihat Naya yang belum memakai seat belt.
"Naya ingat, Mami. Naya harus memakai sabuk pengaman," jawab Naya.
"Bagus, sekarang coba kau pakai sendiri!"
"Baik, Mami." Naya pun memakai sabuk pengamannya.
"Akan Naya perhatikan dengan baik, Mami."
Kemudian Thalia menghidupkan mesinnya, setelah itu barulah Thalia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Naya begitu serius memperhatikan ibu mertuanya yang tengah menyetir. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah cafe yaitu tempat Kivandra berada.
Ternyata, selain mengajak Naya untuk belajar menyetir dan jalan-jalan, Thalia ingin membuat Naya terbiasa dengan keadaan di luar agar dia bisa menyesuaikan diri dengan cepat. "Naya, lepaskan blazernya! Dan pakailah heels ini." Thalia meraih sebuah kotak yang berisi heels yang berada di kursi belakang.
"Mami, Naya malu. Dress ini terlalu seksi. Naya kurang percaya diri memakainya," keluh Naya.
"Biasakan dari sekarang! Karena, Kivan selalu menghadiri pesta bersama colega-nya. Mami ingin, pada saat Kivan mengajakmu nanti, kamu akan terbiasa memakai pakaian seperti ini. Mami seperti ini agar kedepannya kau akan lebih percaya diri lagi," jelas Thalia.
Mau tidak mau Naya harus membuka Blezernya. Kini baju serta tulang kecantikannya terekspos sangat jelas. Putih, mulus dan wangi. Yang menambah Naya semakin cantik yaitu rambutnya yang panjang, hitam, halus dan lurus sepinggang. Dress yang dipakai Naya saat ini berwarna maroon. Warna yang sedikit mencolok berpadu dengan heels yang warnanya serupa.
"Ayo kita keluar dan masuk ke cafe itu," ajak Thalia.
"Iya, Mami." Naya segera memakai heels dan keluar dari mobil.
__ADS_1
Naya dan Thalia berjalan memasuki cafe tersebut. Thalia menoleh ke arah Naya yang sedikit tidak percaya diri. Thalia memegang tangan menantunya dan tersenyum. Dibalas dengan senyuman oleh Naya.
'Maafkan Mami, Naya. Mami melakukan ini hanya ingin tahu apakah Kivan menyukaimu atau tidak. Mami tidak percaya jika kalian sudah melakukan malam pertama seperti apa yang Daddy katakan. Jadi, Mami ingin tahu bagaimana reaksi Kivan saat melihat istrinya berpakaian seksi seperti ini.'
Begitu Naya dan Thalia berada di dalam cafe, semua mata tertuju pada Naya. Bukan hanya pria, wanita juga menatap kagum ke arah Naya. Berbeda dengan Naya. Dia merasa risih jika dilihat oleh banyak orang.
Tiba-tiba Naya tidak sengaja melihat seorang pria yang sedang berbincang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Alice. 'Apakah pria itu Tuan muda?' Naya terus menatap ke arah pria itu. Dia sangat yakin jika melihat dari pakaiannya, itu sama persis dengan pakaian yang Tuan muda Kivandra kenakan pagi ini.
Thalia yang menyadari jika Naya sedang menatap ke arah Kivandra, dia langsung mengajaknya untuk melewati meja anaknya. Thalia sengaja, agar Kivandra melihat penampilan Naya. Dan benar saja, Kivandra begitu terkejut melihat penampilan Naya. Dia berdiri dengan membulatkan matanya.
"Naya!" panggil Kivandra dengan nada tinggi.
Naya menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang. Mata mereka saling bertemu dan memandang satu sama lain. Tatapan Kivandra tidak seperti tatapan semua orang yang memandang Naya dengan kagum. Tapi, Kivandra menatap Naya dengan tatapan yang marah. Entah apa yang membuat Kivandra marah.
"Iya, Mas."
Tanpa berbasa-basi, Kivandra membuka jasnya dan berjalan mendekati Naya. Kemudian Kivandra memakaikan jasnya untuk menutupi tubuh Naya. Menurut Kivandra, pakaian ini terlalu seksi untuk dipakai Naya.
Naya terkejut dengan perlakuan Kivandra. Sementara itu, Thalia bersorak dalam hatinya. 'Inilah yang Mami harapkan, Kivan. Kau memang putraku, Mami bangga padamu. Kau bisa melindungi istrimu seperti ini.' Thalia tersenyum melihat Naya dan Kivandra.
Kivandra mendekatkan bibirnya di telinga Naya. "Apa kau sudah gila, Gadis kocak? Kenapa kau memakai dress terlalu seksi seperti ini? Siapa yang menyuruhmu berpakaian seperti ini?" bisik Kivan Kivandra.
Naya tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia tidak mungkin bilang jika yang menyuruhnya adalah Mami Thalia. Namun, Kivandra yakin jika Mami Thalia yang telah menyuruhnya. Kivandra menatap Mami Thalia.
"Mami, apakah Mami yang menyuruh Naya memakai pakaian ini?"
"Memangnya kenapa? Apa masalahnya? Naya terlihat sangat cantik memakai pakaian ini."
"Mami ini terlalu seksi, Kivan tidak suka! Kivan engga mau jika istri kecil Kivan menjadi tontonan banyak orang!" Tanpa sadar, Kivandra sudah mengakui Naya sebagai istrinya.
Naya membulatkan matanya ke arah Kivandra. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini jika Kivandra sudah mengakuinya sebagai istri. Sementara itu, Alice terlihat kesal, dia mengepalkan kedua tangannya, lalu dia melihat seorang pelayan yang membawa sebuah cofee panas ke arah Naya. Dengan cepat Alice menendang sepatu pelayan itu sehingga kopi panas itu pun jatuh dan hendak menyiram tangan Naya tapi, sebelum itu terjadi, Kivandra melindungi Naya sehingga akhirnya tangan kanan Kivandra sendiri lah yang menjadi korbannya.
"Mas!" pekik Naya karena terkejut melihat tangan suaminya tersiram cofee panas.
***
__ADS_1