Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 97 > D4r4h Siapa?


__ADS_3

DORR!


DORR!


Terdengar suara tembakan dari arah tenda, membuat Farel dan juga Chiko berlari ke arah tendanya. Mengingat jika di tenda itu hanya ada Kivandra. Mereka khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kivandra.


"Ayo, buruan! Tuan muda sedang dalam bahaya!" tegas Farel pada Chiko yang masih berlari di belakangnya.


"Iya udah, lu duluan. Gue nanti nyusul, gue enggak sanggup kalau harus lari di track yang seperti ini," ujar Chiko dengan napas yang ngos-ngosan.


"Baiklah, saya duluan. Anda lewati saja jalur yang sudah saya beri tanda tali merah," jelas Farel.


"Jangan khawatir, gue ingat jalurnya. Buruan lu cek Kivan, gih!" perintah Chiko.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Farel segera berlari ke arah tenda. Sedangkan Chiko, ia berjalan melewati track yang sudah diberi tanda tali merah. Berhubung sekarang malam hari, Chiko sedikit merasa takut karena hutan itu benar-benar terasa mencekam. Napasnya terasa begitu berat begitupun dengan langkahnya.


"Wah, enggak beres nih. Gue harus cepat-cepat susulin si Farel," ujar Chiko dengan mempercepat langkahnya.


Tak lama kemudian, Chiko sampai di tempat tendanya berdiri. Namun, ia tidak melihat adanya Kivandra. Yang ia lihat hanyalah Farel. Chiko kembali dibuat bingung dengan perilaku Farel yang tiba-tiba aneh.


Terlihat dengan jelas jika Farel sedang mengemasi barang-barangnya seakan ingin melanjutkan perjalanan. Chiko segera menghampiri Farel. "Hei, lu ngapain ngemasi barang lu sekarang? Lu mau melanjutkan perjalanan?" Chiko bertanya seraya duduk di sebelah Farel.


"Iya. Saya harus melanjutkan perjalanan malam ini juga," jawab Farel tanpa menoleh ke arah Chiko.


"Apa lu sudah tidak waras, Farel? Lu 'kan tadi bilang sendiri kalau track cukup sulit dilewati saat malam hari. Lalu, kenapa sekarang lu berubah pikiran? Ada apa?"


"Perhatikan sekelilingmu, Tuan! Apakah ada yang aneh?" tegas Farel dengan sorotan matanya yang menatap tajam.


Mendengar itu, tentu Chiko segera memperhatikan sekeliling dengan headlamp dan juga senter. Kakinya melangkah ke arah tenda dan membuka ritsleting-nya. Tanpa banyak basa-basi lagi, ia langsung masuk untuk menemui sahabatnya sebab ia tidak melihatnya di luar. Namun, begitu tubuhnya masuk tenda, kedua matanya terbelalak disertai wajah yang bingung.


"Loh, Kivan mana?" gumam Chiko dengan wajah yang kebingungan.


Karena penasaran, Chiko kembali keluar dari tenda dan menghampiri Farel. "Rel, gue enggak lihat Kivan. Apa lu tahu di mana dia?" tanyanya pada Farel yang saat ini sedang memungut sampai bekas tadi.

__ADS_1


"Itulah alasan saya, kenapa saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan,"


"Maksud lo apa?" Chiko semakin dibuat bingung dengan jawaban Farel.


"Tuan Kivan menghilang. Entah ke mana perginya. Yang jelas, begitu saya sampai, saya hanya melihat pistolnya saja. Saya juga menemukan ada bercak darah di semak-semak itu." Farel menunjuk ke arah semak-semak sambil menjelaskan.


"Farel! Ini tidak lucu! Jangan buat gue parno kek gini!" bentak Chiko dengan wajah yang kesal.


BRUGH!


Farel membanting tas carrier-nya karena kesal. Ia membalas tatapan Chiko dengan matanya yang merah pekat. "Saya tidak sedang membuat lelucon! Jadi, berhenti bertanya dan periksa sendiri!" Farel balik membentak Chiko.


GLEUK!


Chiko tertegun dan tercekat seakan sulit untuk menjawab ucapan Farel. Sebelumnya ia belum pernah melihat Farel sekesal ini. Melihat ekspresi yang tidak mengenakan dari Farel membuat Chiko berjalan menuju semak-semak dan memastikan ucapan Farel. Dan benar saja, begitu sampai di semak-semak yang Farel tunjuk tadi, ia melihat dengan kedua matanya bahwa ada ceceran darah di dedaunan tersebut.


Untuk memastikannya, Chiko memberanikan diri untuk menyentuh darah itu dan menghirupnya. Setelah menghirup darah tersebut ternyata darah itu masih segar. Kemudian, ia teringat pada suara tembakan tadi. Kakinya melangkah mundur dengan menggelengkan kepala.


"Enggak! Enggak! Itu bukan darah Kivan!" Tubuh Chiko merosot ke tanah dengan wajah yang pucat.


Namun, Chiko mengabaikan ajakan Farel. Pandangannya kosong, tangannya menggenggam erat pistol milik sahabatnya. "Katakan kalau darah itu bukan milik Kivan," ucapnya lemas tanpa menoleh sedikitpun.


"Apa yang Anda pikirkan, Tuan? Sadarlah! Itu bukan darah Tuan Muda. Sekarang ayo kita pergi dari sini!" Farel menarik paksa lengan Chiko.


"Lepasin gue, Farel!" bentak Chiko tepat di wajah Farel. "Gue tanya sekali lagi. Jika itu bukan darahnya lalu darah siapa, hah? DARAH SIAPA?" lanjut Chiko dengan meninggikan suaranya.


"Otakmu terlalu dangkal, Tuan! Ingatlah, bahwa yang hidup di hutan ini bukan hanya Tuan Muda dan kita saja, melainkan banyak binatang buas. Bisa saja itu darah binatang tersebut. Tidak bisakah kau berpikir positif sekali saja? Tolonglah, saya tidak ingin berdebat denganmu, Tuan Chiko. Tugas saya sekarang berat! Selain saya harus mencari Nyonya muda, saya juga harus menemukan Tuan Muda. Tak bisakah Anda meringankan tugas saja dengan tidak banyak bertanya dan protes?" tegas Farel dengan tatapan yang teramat tajam.


"Lu ingat baik-baik, Rel! Jika sampai sahabat gue kenapa-kenapa, orang pertama yang akan gue hukum adalah lu." Chiko menyenggol tubuh Farel dan pergi lebih dulu.


"Aarrgghh!" teriak Farel karena frustasi.


Bagaimana tidak, tugas yang pertama saja belum selesai sekarang tugas baru sudah muncul. Ditambah lagi ia satu team dengan Chiko, pria yang selalu membuatnya kesal dan tidak mau bekerja sama dalam hal apa pun. Mau tidak mau, suka tidak suka ia harus tetap melanjutkan perjalanan. Ia menyusul Chiko yang sudah berjalan di depannya. Mereka berdua diam membisu tanpa ada obrolan sedikitpun.

__ADS_1


****


BRUGH!


Naya tiba-tiba terjatuh. "Aaahh," Naya meringis kesakitan ketika telapak tangannya tergores sesuatu hingga mengeluarkan darah segar.


"Nona, kau tidak apa-apa?" Pak Bayu dengan cepat membantu Naya dan mendudukkan Naya di salah satu baru besar.


"Aku baik-baik saja, Pak," jawab Naya dengan sedikit senyuman agar ia tidak terlihat sedang kesakitan.


"Berikan tanganmu!" pinta Pak Bayu yang sedari tadi mengetahui tentang luka di telapak tangannya Naya.


Naya hanya bisa menurut dengan memperlihatkan tangannya yang terluka. Kemudian Pak Bayu melihat seberapa besar lukanya. Setelah itu ia melepaskan tangan Naya.


"Nona tunggu di sini. Jangan pergi ke manapun sampai aku kembali," ujar Pak Bayu.


"Eh, Pak Bayu mau pergi ke mana?" tanya Naya.


"Saya akan buatkan obat herbal untukmu. Sebentar kok tidak akan lama. Nona pegang ini untuk berjaga-jaga." Pak Bayu memberikan beberapa s3njata tajam kepada Naya.


"Baiklah, cepat kembali Pak Bayu. Saya tidak tahu jalan keluar dari hutan ini. Saya sangat mengandalkan Pak Bayu saat ini."


"Saya akan kembali, Nona. Saya berjanji." Pak Bayu tersenyum seraya pergi meninggalkan Naya.


Setelah Pak Bayu pergi, Naya mencoba untuk menghentikan darahnya itu agar tidak mengalir terlalu banyak. Berhubung, di dekatnya ada sebuah pis4u ia pun merobek sedikit pakaiannya dan membalut lukanya itu. "Aaahh," lagi-lagi Naya meringis kesakitan. Ia memejamkan matanya menahan rasa perih.


"**-too-long!" samar-samar Naya mendengar suara orang minta tolong.


"Nn-naya! Kk-kamu di mana?" tak lama setelah itu, Naya kembali mendengar suara lirihan seseorang yang memanggil namanya.


"Siapa yang memanggilku? Mungkinkah itu Mas Kivan? Tapi, bagaimana jika itu anak buahnya Tuan Nero? Apa yang harus aku lakukan? Samperin atau jangan?" Naya bermonolog dalam lamunannya.


****

__ADS_1


Stay tune :)


__ADS_2