Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 12 > Kecekcokan Pasutri (Pasangan Suami Istri)


__ADS_3

"Astagfirullah," ucap Naya dalam hati.


Sakit rasanya mendengar tuduhan seperti itu dari mulut suaminya. "Segitu bencinya Tuan muda sama Naya? Naya salah apa sama Tuan muda sampai Tuan muda menuduh Naya seperti itu?" tanya Naya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kivandra yang mendengar pertanyaan tulus Naya sedikit merasa iba. Dia langsung mengulurkan tangannya. "Bangunlah, gaunmu bisa kotor jika terus duduk di situ," tutur Kivandra tanpa menatap mata Naya.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan muda. Naya bisa bangun sendiri." Naya menolak bantuan Kivandra. Dia tidak ingin dicap sebagai wanita yang selalu merepotkan.


Naya berusaha bangun namun, karena kakinya terkilir membuatnya kembali jatuh. Naya menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Kivandra. Walaupun Naya menyembunyikan rasa sakitnya, Kivandra tahu betul jika Naya merasa kesakitan.


Tanpa berlama-lama dan membuang-buang waktu, Kivandra langsung menggendong tubuh Naya dan memasukkannya ke dalam mobil. Sementara itu, Naya terdiam bagaikan patung. Naya tidak percaya jika Kivandra telah menggendongnya.


"Apakah aku bermimpi? Tuan muda menggendongku? Seriusan ini teh?" Naya bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah memasukkan Naya ke dalam mobil, dia langsung memakai sabuk pengaman. "Pakai sabuk pengamanmu!" perintah Kivandra tanpa menoleh.


Naya tidak mendengar ucapan Kivandra, dia hanya asyik bermonolog dalam lamunannya.


PLAAK!


"Aaawwhh!" Naya menampar pipinya sendiri, dia ingin memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi dan apa yang dia alami ini benar-benar nyata.


"Kamu kenapa? Apa kamu sudah gila?" Kivandra menatap heran ke arah Naya.


"Euh ... tidak, Tuan muda. Maaf, tadi Tuan bilang apa?" tanya Naya dengan mengalihkan pembicaraan.


Bukannya menjawab, Kivandra malah membuka sabuk pengamannya dan mendekati Naya. Jaraknya begitu dekat dengan Naya membuat jantung Naya kembali beraksi. 'Aduh, kalau keseringan seperti ini aku bisa mati karena serangan jantung,'


"Jaga matamu! Jangan menatapku seperti itu! Jangan geer! Saya hanya ingin memakaikan sabuk pengaman untukmu." Kivandra langsung memakaikan sabuk pengamannya untuk Naya.


Naya tertegun. Lagi-lagi dia dibuat kaget dengan perkataan suaminya. "Kenapa repot-repot? Naya bisa memakai sabuk pengamannya sendiri," timpal Naya sembari menatap ke kaca mobilnya.


"CK. Bisa dari Hongkong? Aku dengar dari Farel kalau kamu tidak bisa memakai sabuk pengaman, karena itu sekarang aku membantumu. DASAR GADIS KAMPUNG!" Cibir Kivandra dengan sedikit kesal.


"Ih, meuni pikaseubeuleun pisan. Lamun lain salaki geus di bejek da eta lembeuyna! (Ih, nyebelin banget. Kalau bukan suami udah diulek itu bibirnya!)" Omel Naya dengan kesal. 


"Kamu bilang apa? Apa kamu sedang mengumpat?" tuduh Kivandra.


"JANGAN KEPO TUAN MUDA TEH!" Tegas Naya dengan nada bahasa sundanya yang khas.


"Aku dengar sedari tadi kamu terus mengatakan teh, apa kamu ini penggemar teh? Setiap bicara apapun selalu muncul itu kata TEH! Dasar gadis aneh!" balas Kivandra.

__ADS_1


"Teuing ah, lieur bicara sama Tuan muda mah (Tau ah, pusing kalau bicara sama Tuan muda)." Naya menepuk jidatnya karena kesal. Padahal Kivandra juga sama kesalnya seperti Naya karena tidak paham dengan bahasa yang Naya pakai.


***


"Assalamu'alaikum, Daddy Thalia pulang," ucap Thalia setelah memasuki kediamannya.


"Wa'alaikumsalam, loh Thalia ... bukannya tadi kamu pergi bersama cucu menantumu? Di mana Naya?" tanya Tuan Liam yang tengah duduk sembari memeriksa berkas-berkasnya.


"Jangan cemas, Dad. Naya akan segera sampai, saat ini mereka sedang di jalan." Thalia tersenyum penuh arti.


"Apa yang kau katakan? Naya tidak pulang bersamamu? Dengan siapa Naya pulang?" tanya Tuan Liam seraya menutup berkasnya dan menatap tajam ke arah Thalia.


"Daddy akan tau nanti, Thalia pergi ke kamar dulu ya." Thalia tidak langsung memberi tahu ayahnya.


Thalia sengaja membuat ayahnya penasaran. Dia ingin membuat kejutan untuk ayahnya dengan melihat kebersamaan cucunya bersama istrinya, Naya. Thalia pun bergegas ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum, Grandpa. Kivan pulang," ucap Kivandra setelah memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam. Loh, Kivan ... kamu dari mana? Bukannya tadi kamu bilang mau istirahat?" Tuan Liam menatap cucunya dengan wajah yang heran.


"Iya, tadi Kivan memang sedang istirahat. Tapi, Mami telepon suruh jemput gadis norak itu," jawab Kivandra dengan nada ketus.


"Lalu di mana istrimu?" tanya Tuan Liam karena dia tidak melihat Naya.


"Kamu ini bagaimana sih, Kivan? Istri sendiri kok ditinggal seperti itu." Tuan Liam menggelengkan kepalanya.


"Udahlah, Grandpa. Biarin aja, repot amat. Dia juga punya kaki bisa jalan sendiri." Kivandra duduk di sebelah Tuan Liam.


"Assalamu'alaikum," ucap Naya begitu memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Tuan Liam.


Tuan Liam yang melihat Naya langsung berdiri dengan mata yang membola dengan sempurna. "Naya, apa yang terjadi? Kenapa heels-nya tidak kamu pakai?" Tuan Liam melihat ke arah sepasang heels yang Naya tenteng.


"Terus, itu kaki kamu kenapa? Kok terlihat bengkak seperti itu?" Tuan Liam berjalan menghampiri Naya yang tengah berjalan sedikit diseret kakinya.


"Naya, belum terbiasa memakai heels ini, Grandpa. Tadi, kaki Naya hanya sedikit terkilir saja." Naya tersenyum sedikit agar tidak membuat Tuan Liam cemas.


"Apa benar itu, Kivan?" tanya Tuan Liam dengan menyorotkan matanya yang tajam ke arah cucunya.


"Kivan tidak tau, Grandpa. Kivan pikir dia sengaja duduk santai di dekat mobil kivan, tapi taunya dia jatuh. Lagian, enggak bisa pakai heels sok-sok'an pengen nyoba. Jatuh tau rasa 'kan," cibir Kivan seraya menoleh ke arah Naya.

__ADS_1


"KIVAN! Jaga ucapan kamu! Naya ini istrimu!" Tegas Tuan Liam.


"Iya, Grandpa. Istri ... istri dadakan yang tidak Kivan inginkan!" Kivandra bangun dari duduknya dan langsung pergi ke kamarnya.


"KIVAN! Grandpa belum selesai bicara!" teriak Tuan Liam. Namun, Kivandra tidak mendengarkan teriakan kakeknya. Dia terus berjalan ke kamarnya dengan wajah yang kesal.


"Maafkan Naya, Tuan Liam." Naya menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak jika melihat Kivandra dan Tuan Liam berdebat seperti itu.


"Loh, Sayang. Kenapa kamu minta maaf? Kenapa Naya masih memanggil Grandpa dengan Tuan? Ingatlah, sekarang kamu menantu keluarga Buana. Biasakan untuk memanggilku Grandpa, mengerti?" Tuan Liam memegang bahu Naya dan sedikit memberikan senyuman.


"Gara-gara Naya, Grandpa jadi berdebat sama Tuan Kivan."


"Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu belum mengenal siapa itu Kivan, dia itu anak yang bandel. Kalau dinasehatin suka langsung pergi tanpa mendengarkannya dulu, anak itu terlalu dimanja makanya keras kepala seperti itu. Semoga Nak Naya bisa mengubah sikap keras kepala Kivan, ajarkan dia menjadi orang yang suka menghargai orang. Grandpa sudah pusing melihat sikapnya yang semakin keras kepala."


"In Sya Allah, Grandpa. In Sya Allah, Naya akan membantu Tuan Kivan."


"Terima kasih ya, Nak. Kamu memang anak yang baik, ya udah sekarang kamu ke kamar gih. Nanti Grandpa akan menyuruh Nenek Aminah untuk mengobati lukamu," ujar Tuan Liam.


"Baik, kalau begitu Zoya ke kamar dulu ya." Naya berjalan menuju kamarnya.


"TUNGGU!"


Naya berhenti melangkahkan kakinya, dia menoleh ke arah Tuan Liam. "Iya, Grandpa."


"Kamarmu bukan di sana! Kamarmu ada di atas. Mulai sekarang kamu akan satu kamar dengan Kivan, pergilah."


DEGG!


***


"Aaahh, nyamannya," gumam Kivandra yang saat ini tengah merebahkan tubuhnya di ranjang king size.


Kivandra menatap langit-langit dengan kedua tangan dia jadikan sebagai bantal kepalanya. Tiba-tiba dia teringat pada saat dia pertama kali melihat penampilan Naya yang begitu berbeda dan membuatnya pangling. Tanpa sadar, dia tersenyum mengingat kejadian itu. Apalagi pada saat dia menggendong tubuh istrinya yang ramping dan sedikit berisi.


"Ternyata gadis kampung itu cantik juga, aku pikir dia bukan Naya." Secara tidak langsung Kivandra telah memuji kecantikan Naya.


DRRTT!


DRRTT!


Kivandra yang tengah asyik bermonolog dalam lamunannya dikejutkan dengan getaran ponselnya yang berada di atas meja nakas. Dengan cepat, Kivandra menyambar ponsel serta melihat, siapa yang mengiriminya pesan.

__ADS_1


ALICE?


***


__ADS_2