
"Mas, sebaiknya kita pulang sekarang aja. Aku mau bantuin Nenek masak," ajak Naya pada suaminya.
"Iya udah, ayo." Kivandra memegang tangan Naya dan pergi meninggalkan sawah.
Pada saat Naya dan Kivandra hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba, Alice menarik tangan Kivandra. Mereka menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alice. Pada saat Naya hendak melepaskan tangan dari genggaman suaminya, Kivandra semakin mengeratkan genggamannya.
Kemudian Kivandra menepis kasar tangan Alice. "Apa yang kau lakukan, Alice? Ngapain kau berada di kampung halaman istri kecilku?" tanya Kivandra dengan geram.
"Aku datang ke tempat kumuh ini hanya untuk menemuimu, Kivan." Lagi-lagi Alice menggandeng tangan Kivandra di hadapan istrinya.
Naya tidak tahan melihat sikap mantan tunangan suaminya, dia melepaskan tangan Kivandra dan mendekati Alice. Tanpa Kivandra duga, Naya melepaskan tangan Alice dari lengan suaminya dengan kasar. Kemudian Naya menarik lembut lengan suaminya. Kini Naya berada di tengah-tengah agar Alice tidak berbuat genit lagi pada suaminya.
"Nona Alice, mau sampai kapan mengejar suamiku terus? Pria di luar sana banyak, Nona Alice bisa mencari pasangan hidup sesuai yang kau inginkan asal jangan suamiku, Kivandra. Jangan menjadi pelakor!" tegur Naya dengan tatapan yang tajam mengarah pada Alice.
"Ck. Pelakor kau bilang? Asal kau tahu saja, yang sebenarnya pelakor itu bukan aku tapi kau sendiri, GADIS KAMPUNG! Kau yang telah memisahkan kami, lagian pria yang aku inginkan hanya satu, dan pria itu adalah suami palsumu itu, KIVANDRA!" timpal Alice.
__ADS_1
"Alice, hentikan omong kosongmu itu! Semua itu berakhir bukan karena Naya, semua itu akibat perselingkuhanmu dengan Chiko! Apa kau lupa itu, hah!" bentak Kivandra.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu jika aku tidak berselingkuh dengan sahabatmu, Chiko. Semua itu hanya salah paham. Percayalah, aku tidak pernah mengkhianatimu." Alice mendekati Kivandra lagi.
"Mas, aku pulang duluan saja ya. Kalian selesaikan masalah kalian dulu. Aku merasa aku tidak perlu mengetahui masa lalu kalian." Naya pergi meninggalkan suaminya dengan Naya.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. Lagian masalahku dengan wanita ini sudah selesai beberapa tahun lalu. Tidak ada yang perlu dibicarakan ataupun diselesaikan lagi karena semua itu sudah berakhir. Ayo kita pulang." Kivandra menarik tangan Naya menuju motornya.
Alice pun tidak mau menyerah begitu saja. Dia langsung berlari menyusul Naya dan Kivandra. Dia masuk mobil dan mengikuti pasangan suami istri itu.
Setelah kurang lebih 10 menit, mereka pun sampai di rumah Nek Aminah. Mereka turun dari kuda besinya dan berjalan memasuki rumah. Tak lama kemudian, mobil Alice berhenti di depan rumah Nek Aminah.
Nek Aminah mengerutkan keningnya. Dia bingung bagaimana bisa Alice mengetahui kampungnya. Apa yang sedang dia lakukan di kampungnya ini?
"Non Alice?" panggil Nek Aminah.
__ADS_1
"Nek Aminah, sudah lama kita tidak bertemu." Alice tersenyum pada Nek Aminah.
"Apa yang sedang Non Alice lakukan di sini? Dan ada perlu apa datang ke rumahku?" tanya Nek Aminah.
"Aku datang untuk menemui Kivan, suruh Kivandra keluar!" perintah Alice.
"Ayo masuk dulu, Non. Akan saya panggilkan Tuan muda, Non Alice silakan tunggu di dalam," ajak Nek Aminah.
Tanpa mengatakan apapun, Alice nyelonong masuk dan melewati Nek Aminah. Dia memang wanita yang kurang beretika. Menurutnya orang miskin tidak perlu dihormati apalagi dihargai.
Begitu memasuki rumah, sebelum Nek Aminah mempersilakan Alice untuk duduk, dia sudah duduk di sofa dengan bertumpang kaki. Matanya celingukan melihat seisi rumah itu. "Ck. Jadi tujuan gadis itu menikahi Kivan hanya untuk mendapatkan hartanya saja, belagu banget pake bilang cinta. Dasar wanita munafik!" celetuk Alice tanpa mempedulikan jika Nek Aminah mendengar dan sakit hati mendengar ucapan pedas dari Alice.
Nek Aminah hanya bisa mengelus dadanya disertai menggelengkan kepalanya. Sangat disayangkan jika wanita secantik Alice mempunyai sifat seperti itu. Dia tidak mengambil pusing dan langsung pergi menemui Kivandra.
Sementara itu, Alice hanya menunggu di ruang tengah dengan wajahnya yang bete. Sambil menunggu Kivandra datang, dia bermain ponsel agar tidak jenuh. Tak lama kemudian, Kivandra datang dengan langkah kakinya yang cepat.
__ADS_1
Terlihat jelas ada kemarahan di matanya. Dan benar saja, begitu dia berada di hadapan Alice, dia langsung menarik kasar tangan Alice dan menyeretnya ke luar rumah. Kivandra tidak mempedulikan keluhan mantan tuanangannya itu. Yang ada di pikirannya, bagaimana dia bisa menyuruh Alice untuk pergi dari kehidupannya. Dia tidak ingin membuat Naya kembali meragukan cintanya.
****