
Di salah satu taman yang berada di belakang Buana Home, Farel tengah mencoba menghubungi Tuan muda Kivandra. Namun, teleponnya tak kunjung dijawab. Karena merasa sangat cemas, Farel pun terus menelepon tuannya berkali-kali sampai akhirnya di panggilan ke 11 Tuan muda Kivandra mengangkatnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Tuan muda," ucap Farel dengan suara yang panik.
"Hai, Farel. Ada apa?" terdengar suara wanita dari seberang telepon yang tidak lain adalah Alice.
"Bagaimana ponsel Tuan muda bisa berada di tanganmu?"
"Tentu saja bisa. Saat ini kami sedang menghabiskan waktu bersama. Aku dan Kivan sedang bersenang-senang jadi, kau jangan mengganggu kami. Tutt!"
"Tapi ... hallo, hallo." belum selesai Farel bicara, Alice sudah mematikan teleponnya.
Telepon terputus!
"Wanita itu benar-benar sudah gila! Aku harus kembali ke sana untuk menjemput Tuan muda. Jangan sampai si wanita berbisa itu menyakiti Tuan muda."
***
Di kamar hotel ....
Kini Kivandra sudah mulai sadar. Perlahan dia membuka matanya. Betapa terkejutnya Kivandra pada saat dia menyadari jika saat ini dia sedang berada di kamar Alice dan yang mengejutkannya lagi adalah Kivandra tidak mengenakan pakaian apapun. Tubuhnya polos dan hanya tertutup oleh selimut berwarna putih saja.
Kivandra terperanjat bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya. Namun, dia tidak bisa mengingat apapun. Hanya rasa sakit yang dia rasakan di kepalanya. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Alice yang sama sepertinya, yaitu tidak memakai pakaian.
Dengan percaya dirinya, dia berjalan seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sebelum dia keringkan dengan hairdryer. Kivandra mengepalkan kedua tangannya. Kemudian Kivandra turun dari ranjang dengan mengambil celananya dan memakainya. Kivandra menarik kasar tubuh Alice dan mendorongnya ke ranjang.
"Apa yang terjadi?" Kivandra mencengkram bahu Alice yang tidak mengenakan pakaian. Wajahnya merah padam menahan emosi yang sudah membludak.
"Aaawh, Sayang. Kenapa kau kasar sekali? Padahal beberapa jam yang lalu kau bermain dengan begitu lembut. Aku menikmatinya sampai di puncak beberapa kali. Kenapa setelah kau terbangun dari tidurmu, kau terlihat begitu marah?" Alice membelai wajah Kivandra.
__ADS_1
"Jangan bertele-tele! Katakan apa yang terjadi padaku? Aku tidak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti ini!" Kivandra menyorotkan matanya dengan begitu tajam dan tangannya yang mencekik pelan Alice.
"Kau ini bagaimana sih? Bagaimana aku bisa menjawabnya jika kau mencekikku seperti ini?"
Kivandra melepaskan cek ikannya, dia menjauh dari Alice. "Pakailah pakaianmu! Setelah itu kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku!" perintah Kivandra seraya memakai kemejanya.
Setelah Alice selesai memakai pakaiannya, dia pun berjalan menghampiri Kivandra yang tengah berdiri di sebelah gordyn. Alice memeluk Kivandra dari belakang dan tangan nakalnya hendak menyentuh sesuatu yang sangat berharga bagi Kivandra. Sebelum sampai di benda tersebut, Kivandra menepis tangan nakal Alice.
"Dasar murahan! Apa yang kau lakukan?" Kivandra membalikkan badannya dan kembali mendorong Alice sejauh 1 meter.
"Aku hanya ingin merasakan syurga dunia yang kita lakukan beberapa jam yang lalu. Aku tidak bisa melupakan setiap kita melakukan berbagai gaya yang bisa membuat kita merasa melayang di udara. Kivandra, aku akui. Kau adalah pria yang berhasil membuatku ketagihan sungguh kau sangat gantle dan sexy ketika di ranjang." Alice menggigit bibir bawahnya serta menatap Kivandra dengan tatapan yang nakal.
Kivandra Menggidik ngeri melihat tingkah Alice. "Menjijikan! Jangan katakan hal itu lagi! Aku yakin jika kita tidak pernah melakukan itu! Aku tidak akan melakukan itu denganmu!" tegas Kivandra. Dia protes dengan apa yang Alice katakan.
"Terserah kau saja. Yang jelas, aku sangat puas karena aku telah menikmati tubuh mantan tunanganku ini yang sudah lama aku inginkan. Oh iya, Sayang. Jika kau ingin melakukannya lagi, kabari aku. Aku akan melayanimu." Alice mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan mimpi! Aku masih waras, aku tidak akan sudi melakukan hal keji bersama jal*ng sepertimu!" cibir Kivandra.
"Kau itu munafik, Kivandra! Kau bilang tidak sudi tapi kau menikmati setiap gerakan yang aku lakukan. Aneh sekali. Oh iya, tadi Farel telepon dan aku terpaksa menjawabnya karena dia sangat menggangguku!" Alice memainkan kuku-kuku cantiknya itu.
"Apa yang kau katakan pada Farel?" Kivandra mencengkram kedua lengan Alice.
"Eum ... aku katakan semua yang terjadi di sini. Aku tidak mungkin berbohong pada bodyguard-mu itu 'kan." Alice menatap dengan Walah tanpa dosa.
"Dasar gila!" Kivandra menyenggol tubuh Alice dan membawa jas serta ponselnya. Kemudian dia pergi dari kamar Alice.
Begitu keluar dari kamar Alice, dia memasuki kamarnya dan mencoba menghubungi Farel. Tak lama kemudian, Farel mengangkatnya. Kivandra menempelkan ponsel di telinga kanan.
Telepon terhubung!
"Hallo, Farel."
__ADS_1
"Tuan muda, apa yang terjadi? Apakah wanita berbisa itu melukai Tuan muda?" tanya Farel dengan nada yang cemas dari seberang telepon.
"I'm okay, but ... apa yang wanita jal*ng itu katakan padamu?"
"Dia hanya mengatakan jika aku tidak boleh mengganggu Tuan Muda. Apakah terjadi sesuatu pada Tuan muda? Apa Alice melukai Tuan muda?"
"Syukurlah. Aku khawatir jika dia mengatakan sesuatu yang gila," Kivandra tidak menjawab pertanyaan Farel. Dia menjawab dengan jawaban yang lain dari pertanyaan Farel.
"Tuan muda, Tuan Liam menyuruhku untuk memberi tahu Tuan muda untuk segera pulang."
"Apa? Kenapa Grandpa menyuruhku untuk segera pulang? Apa kau menceritakan sesuatu pada Grandpa?"
"Maafkan saya, Tuan muda."
"Bodoh! Bagaimana kau bisa menceritakan itu pada Grandpa? Bagaimana jika kesehatan Grandpa menurun? Aku kecewa padamu, Farel! Tutt!" Kivandra memutuskan sambungan teleponnya.
Telepon terputus!
Selesai bicara dengan Farel, Kivandra dengan cepat mengemasi barang-barangnya. Tidak lupa, dia juga telah memesan tiket pesawat untuk kembali ke Buana Home. Dia yakin jika di Buana Home sedang terjadi kekacauan.
Saat ini Kivandra sangat mengkhawatirkan kesehatan Grandpa-nya. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Grandpa Liam. Grandpa yang juga berperan sebagai Daddy setelah ayah kandung Kivandra pergi meninggalkannya. Itulah kenapa Kivandra begitu menyayanginya.
***
Di kamar ...
Naya sedang merapikan pakaiannya dari dalam koper ke dalam lemari khusus pakaian. Sedangkan sepatu dan aksesoris ada di lemari yang berbeda juga. 'Apa yang Tuan muda sembunyikan dariku? Kenapa aku selalu memikirkannya? Sadarlah, Naya! Aku hanya istri di atas kertas. Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak perlu aku harapkan!' Naya bermonolog dalam lamunannya.
Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku bergetar membuyarkan lamunan Naya sampai tersadar dari lamunannya. Dia merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Kemudian Naya melihat layar ponsel yang terlibat jelas nomor yang tidak dikenal mengirimnya beberapa foto melalui aplikasi chat berwarna hijau.
Naya penasaran, sehingga dia pun membuka isi chat yng berisi foto tersebut. Betapa terkejutnya Naya pada saat melihat beberapa foto yang begitu menjijikan. Saking terkejutnya, Naya sampai menjatuhkan ponsel itu disertai tubuhnya yang merosot ke lantai.
__ADS_1
Naya terdiam bagaikan patung. Dia bingung, siapa orang yang telah mengirim foto itu padanya? Dan apa tujuannya dengan mengirimkan foto-foto menjijikan itu kepadanya?
***