
Di sebuah ruangan yang cukup luas, seorang wanita tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang dengan kedua tangan dan kaki diikat ke sudut ranjang. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Asti Kanaya. Perlahan, Naya mulai membuka matanya secara perlahan. Ia mulai sadar setelah pingsan kurang lebih 47 menit.
Ia menyipitkan kedua matanya untuk fokus melihat ke sekitar ruangan itu. Namun, di ruangan itu tampak hanya dirinya saja yang berada di ruangan tersebut. Tidak ada orang lain selain Naya. Beberapa detik kemudian, ia baru menyadari jika kedua tangan, dan kakinya terikat. Bukan hanya itu, mulutnya pun tersumpal kain.
Hal itu membuat dirinya tak bisa melarikan diri. Jangankan melarikan diri, untuk berteriak pun tidak bisa. Tak mau menyerah, Naya pun berusaha untuk membuka ikatan yang ada di tangannya. Disaat ia, sedang berusaha sekuat tenaga untuk membuka ikatan itu tiba-tiba saja pintu terbuka dan terlihat beberapa pria masuk.
Kelima pria itu memakai pakaian yang sama seperti pria yang Naya lihat semalam, yaitu pakaian hitam. Namun, kali ini kelima pria itu tidak memakai masker. Tak berselang lama, masuk lagi seorang pria matang yang bertubuh kekar dan berambut sedikit pirang. Pria itu tampak tidak asing di mata Naya. Yup, pria itu adalah Nero Chalondra, yaitu papinya Kivandra.
'Pak Nero? Kk-kenapa dia menculikku? Apa yang dia inginkan dariku?' batin Naya bertanya-tanya disertai tatapan yang tajam ke arah ayah mertuanya.
Melihat tatapan menantunya yang cukup tajam membuat Nero tersenyum seraya berjalan mendekati Naya. Tentu, Naya kembali berontak dengan berusaha membuka ikatan itu.
"Mau saya bantu untuk melepaskan ikatanmu, cantik?" Pak Nero menawarkan bantuan kepada Naya.
"Tidak perlu, Pak. Naya bisa sendiri," jawab Naya setenang mungkin. Ia tidak ingin Nero mengetahui jika dirinya sedang takut.
"Kamu yakin? Jika tubuhmu masih terikat seperti ini, bagaimana jika kelima anak buahku ini berbuat macam-macam padamu, heum? Siapa yang akan menolongmu jika saya pergi?" Nero menakuti Naya disertai tatapan yang mengarah ke arah anak buahnya.
Gleuk!
Naya tertegun begitu mendengar perkataan Nero. Tidak terbayang jika ucapan Nero terjadi. 'Bagaimana jika pria gosong dan kepala bakso urat itu macam-macamin Naya? Bagaimana jika itu benar terjadi? Siapa yang akan menolongku? Apakah, Mas Kivandra akan menolongku? Aahh, tapi, apakah dia tahu aku ada diculik?' batin Naya bertanya-tanya sembari bergidik ngeri kala membayangkan hal itu.
'Tidak ada salahnya jika aku terima bantuan Pak Nero. Dengan begitu, ada kemungkinan aku bisa kabur dari sini,' batin Naya dengan sedikit tersenyum.
"Ekhem!" Nero berdehem kala melihat menantunya sedang tersenyum sendiri. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Baiklah, Pak. Tolong buka ikatan ini,"
__ADS_1
Nero tersenyum licik seraya naik ke ranjang untuk membukakan ikatan talinya. Sementara itu, tubuh Naya sedikit gemetar. Ia takut jika Nero berbuat macam-macam padanya. Karena, setahu ia Nero adalah pria genit.
'Aku harus berhati-hati dengannya,' lagi-lagi batin Naya berbicara.
"Lihat itu, Bos memang pria yang licik," ucap salah satu anak buahnya disertai tawa kecil.
"Hush! Bukan Bos yang licik tapi wanita itu terlalu bodoh. Dia pikir Bos akan membantunya begitu saja, kita lihat. Apa yang akan Bos lakukan pada wanita itu," timpal yang lain.
Dan benar saja ucapan anak buahnya, jika Nero punya maksud lain. Setelah ikatan di kedua tangan Naya terlepas, Nero duduk di sebelah Naya dengan tatapan yang nakal. Naya yang merasa risih pun dengan cepat menutupi dadanya meskipun ia masih mengenakan pakaian. Namun, pakaian yang Naya pakai adalah dress dinas yaitu lingerie.
Bahannya terlalu tipis dan cukup transparan sehingga kedua bukitnya terlihat menyembul. Napas Naya semakin memburu saking takutnya begitu melihat reaksi Nero yang tengah menyapu bibir dengan lidahnya. Nero sang pria c*b*l melihat keindahan itu tentu semakin tergiur terlebih melihat paha Naya yang mulus tanpa cacat sedikitpun.
Tak mau berlama-lama menjadi objek **** para pria, Naya duduk dan mencoba menggapai ikatan di kakinya. "Aaarrgghh!" teriak Naya frustasi karena ikatan itu sulit sekali tergapai.
"Mau saya bantu, Nona sexy?" tawar Nero sekali lagi.
"Tidak perlu! Sebaiknya Bapak pergi tinggalkan aku sendiri. Aku yakin Mas Kivan akan datang menolongku," ucapnya dengan yakin.
"Itu tidak mungkin, Bos. Tempat ini sulit ditemukan, jika pun Tuan Muda datang, ia akan mati diterkam binatang buas," jawab salah satu anak buahnya. Mendengar itu, Nero beranjak dari ranjang dan menghampiri salah satu anak buah yang mengatakan itu.
Bugh!
Buugh!
Sebuah pukulan keras melayang di wajah pria itu. Reflek pria yang terkena pukulan itu membelalakkan matanya menatap lantai. Matanya merah pekat menandakan jika ia tidak terima dengan pukulan yang dilayangkan sang Bos. Meski ia merasa sangat marah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kau dengar baik-baik! Tidak sepantasnya kau mengatakan hal buruk tentang putraku! Saya memang menginginkan istrinya tapi, saya tidak ingin dia mati begitu saja. Saya ingin melihatnya mati secara perlahan melihat istrinya tercinta menjadi milik papinya. Setelah itu, dia boleh mati!" tegas Nero seraya mencengkram leher pria itu.
__ADS_1
Deg!
Naya yang mendengar itu terkejut bukan maen. kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Bagaimana tidak, ayah mertuanya sendiri punya niatan seperti itu. Ayah mertua yang seharusnya menjaga dan merestui hubungan putranya justru tega ingin mengambil kebahagiaan putranya.
'Mas, cepat datang. Aku takut di sini,' batin Naya dengan nada lirih dan menitikkan air mata.
"Bos, lihat itu."
Nero melepaskan cengkeramannya itu dan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh anak buahnya. Kini mata mereka tertuju pada Naya yang sedang menangis. Dengan cepat Nero melangkah mendekati sang menantu.
"Sstt! Kenapa kamu menangis, Nona?" Nero menangkup kedua pipi Naya. Kemudian tangan jemarinya menyeka air mata sang menantu.
"Jauhi aku dan jangan sentuh aku!" tegas Naya disertai mata yang menunjukkan kekesalan.
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu. Kamu aman bersamaku," turut Nero dengan suara yang dilembut-lembutkan.
PLAKK!
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Nero. Sehingga membuat kepala pria matang itu miring. Tentu Nero terkejut dan membelalakkan matanya menatap lantai. Seketika pipi Nero berubah menjadi merah.
Pipi Nero terasa panas dan cukup menyakitkan. Bukan hanya itu, ini juga terasa amat memalukkan. Sebelumnya ia belum pernah ditampar oleh seorang wanita. Dan ini kali pertamanya mendapatkan tamparan dari seorang wanita yang merupakan menantunya sendiri tepat di hadapan kelima anak buahnya.
Bukan Nero saja yang terkejut, melainkan kelima anak buahnya pun turut terkejut dengan mata yang membelalakkan serta mulut yang menganga menandakan jika mereka belum pernah melihat hal ini terjadi. Mereka langsung menundukkan kepalanya kala Nero menoleh ke arah mereka. Bisa kena hajar jika Nero tahu kelima anak buahnya menyaksikan hal memalukan itu.
"Kalian semua keluar! Tinggalkan saya dengan menantuku di sini!" perintah Nero dengan suara yang serak.
Dengan cepat kelima anak buahnya itu keluar. Sedangkan Naya, ia sedang menutupi dada disertai dengan rasa takut yang menyelimutinya kala melihat mata Nero merah pekat dengan wajahnya yang merah padam. 'Mampus! Pak Nero sangat marah. Entah apa yang akan dia perbuat kepadaku nanti,' batinnya dengan dipenuhi rasa takut.
__ADS_1
****
Stay tune :)