Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 58 > Feeling Farel


__ADS_3

"Masih muda 'kan, saya sengaja mencari ART yang usianya masih muda agar Farel kita ini tidak jomblo lagi. Menikahlah dengan seseorang, jangan terlalu lama melajang," canda Tuan Liam.


"Tuan ini kalau bicara suka jujur sekali, hehe. Saya juga ingin menikah, hanya saja saya belum menemukan pasangan yang pas untuk saya. Saya tidak ingin menikah dengan terburu-buru apalagi sampai salah pilih. Pernikahan itu sekali seumur hidup jadi saya ingin memilih wanita yang bisa mendampingi saya dalam suka dan duka," timpal Farel.


"Wah wah, Farel. Perkataanmu bijak sekali, seharusnya cucuku banyak belajar darimu," kekeh Tuan Liam.


"Haha, Tuan Liam bisa saja," kekeh Farel.


****


Di taman belakang Buana Home ....


Terlihat seorang gadis muda yang cantik tengah berbicara di saluran telepon dengan seorang wanita. Obrolan mereka terlihat begitu serius seakan membicarakan sesuatu. Di tengah keasyikannya yang sedang mengobrol dengan lawan bicaranya, gadis itu terlonjak kaget pada saat melihat seorang pria tampan yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tertuju padanya.


Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Farel. Dia merasa aneh dengan tingkah gadis muda ini. Kenapa juga dia terlihat sangat terkejut begitu melihatnya seakan melihat orang jahat saja.


Farel semakin penasaran dengan gadis muda ini. Dari awal dia berpapasan dengan gadis ini, entah kenapa hatinya mengatakan jika gadis ini bukanlah sembarangan gadis. Dia merasa ada sesuatu yang gadis ini sembunyikan. Yup, gadis ini adalah Yumna, sang ART baru Buana Home.


Yumna menundukkan kepalanya, dia pun langsung menutup sambungan teleponnya dan berbalik badan. Pada saat Yumna hendak pergi, Farel langsung memanggilnya.


"Tunggu!" Farel berjalan ke arah Yumna.


Yumna seketika langsung menghentikan langkahnya. Dia terdiam dengan posisi membelakangi Farel. Farel tahu jika gadis ini sedang gugup. Bagaimana dia tahu? Tentu saja dia tahu, karena terlihat jelas jika Yumna sedang meremas jemarinya.


"Siapa kau sebenarnya?" bisik Farel di telinga Yumna.


Yumna bergidik begitu mendengar bisikan dari Farel. Yumna berusaha menenangkan dirinya yang sedang gugup. Setelah merasa sedikit tenang, dia membalikkan badan dan memberanikan menatap kedua mata Farel.


"Aku Ufairah Yumna, ART baru di sini," jawab Yumna.


"Aku tahu itu, maksudku ... siapa yang menyuruhmu untuk bekerja di sini? Siapa yang telah menyuruhmu memasuki kediaman Buana?" pancing Farel untuk memastikan dugaannya.


"Aa-apa maksud, Tuan? Aku datang Kemari atas kemauanku sendiri karena aku membutuhkan pekerjaan ini untuk menyambung hidupku dan juga keluargaku," jawab Yumna dengan gelagapan karena takut.

__ADS_1


"Apakah kau sedang berbohong?" Farel semakin menatap tajam Yumna.


"Aku tidak berbohong, Tuan. Aku berkata jujur," jawab Yumna.


"Lalu, kenapa suaramu terlihat begitu gelagapan? Kau tahu, orang yang gelagapan itu adalah orang yang sedang menyembunyikan sesuatu," pancing Farel lagi.


Pada saat gadis itu hendak menjawab pertanyaan Farel tiba-tiba datang beberapa ART lainnya yang menghampiri Yumna. "Rupanya kau di sini, Yumna. Kau harus membantu kami, Ayo." Salah seorang wanita mengajak Yumna pergi dari hadapan Farel.


Tanpa berpikir panjang, Yumna langsung pergi meninggalkan Farel. Sementara itu, Farel merasa kesal karena sedikit lagi dia akan tahu mengenai gadis muda itu. Dia yakin jika gadis muda itu pasti ada apa-apanya. Dia sangat yakin jika Yumna memiliki maksud lain untuk memasuki kediaman Buana.


'Aku harus memantau Yumna. Aku juga harus memperhatikan gerak-geriknya, karena aku sangat yakin jika feelingku benar tentang gadis muda itu bukanlah gadis yang baik.'


****


Kediaman Nek Aminah ....


Saat ini Kivandra dan Naya tengah bersiap-siap untuk pergi ke pantai tak jauh dari tempat tinggal Naya. Jarak antara rumah Naya ke pantai kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebihan. Naya sudah berjanji pada suaminya jika hari ini dia akan mengajaknya pergi ke pantai.


Setelah kurang lebih satu jam mereka bersiap-siap, mereka pun segera berpamitan kepada Nek Aminah. Selesai itu, mereka keluar dari rumah dan memasuki mobilnya. Sebelum mobilnya melaju, Naya sempat melambaikan tangannya kepada Nek Aminah sebelum akhirnya mobilnya melaju.


Mereka berdua berjalan di tepi pandai dengan bergandengan tangan. Angin yang begitu sejuk mengibaskan rambut Naya yang panjang, harus serta halus itu tepat mengenai wajah suaminya. Kivandra memejamkan serta menghirup wangi rambut Naya yang tercium segar.


"Mas, maaf. Seharusnya Naya mengikat rambutnya." Naya segera mengikat rambutnya dan dibuat seperti sanggul pramugari.


Namun, baru saja dia selesai menganggul rambutnya, Kivandra menarik lembut rambut istrinya sehingga rambut halus itu jatuh terurai. Naya menatap suaminya. Dia heran, kenapa Kivandra membuka sanggulannya.


"Ada apa, Mas? Kenapa Mas membuat rambutku kembali terurai?" tanya Naya.


"Jangan mengikat atau menganggul rambutmu lagi! Biarkan rambutmu terurai seperti ini," tegas Kivandra.


"Loh, kenapa?" Naya semakin penasaran.


"Karena aku menyukaimu jika rambutmu terurai. Jadi, jangan pernah mengikat rambutmu di tempat umum!" tegur Kivandra.

__ADS_1


Dia berjalan berjalan beberapa langkah dan membisikkan sesuatu. "Aku tidak ingin mau mengikat rambutmu seperti itu karena nanti leher jenjangmu akan terlihat banyak orang dan aku tidak suka hal itu,"


Gleuk!


Naya tertegun mendengar ucapan suaminya. "Baik, Mas. Aku tidak akan mengikat rambutku," ucap Naya.


"Bagus, istri kecilku ini memang istri yang penurut." Kivandra mengelus lembut kepala istri kecilnya itu.


****


Di kamar Thalia ....


Saat ini Thalia tengah memakai body lotion di lengan dan kakinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia segera meraih ponsel yang berada di atas ranjangnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Begitu dia melihat layar ponsel, ternyata putranya, Kivandra sedang melakukan video call.


Thalia menyudahi rutinitas selesai mandinya dan mengangkat video call dari putranya. Begitu dia mengangkat video call, dia pun mengarahkan kamera depan ke wajahnya. Setelah video call tersambung, dia melihat wajah putra dan menantunya dengan jelas.


Video Call tersambung!


"Hallo, mami." Terlihat Kivandra dan Naya sedang melambaikan tangannya ke arahnya.


"Hallo, Sayang. Bagaimana kabar dan liburan kalian?" tanya Thallia.


"Alhamdulillah, kami sehat. Liburan kami juga sangat menyenangkan. Eumm ... bagaimana dengan Mami?"


"Mami juga baik, Nak. Kalian sedang di pantai?" tebak Thalia dengan matanya yang menatap ke layar ponsel.


"Iya, Mami. Kami sedang di pantai. Mami tahu, pantai di sini tiketnya sangat murah tapi pantai ini benar-benar terawat. Pantai ini bersih dari sampah dan airnya juga jernih. Kivan merasa betah tinggal di sini, Mami. Lain kali, Mami dan Grandpa harus pergi ke pantai ini. Kivan yakin, kalian pun akan merasakan hal yang sama sepertiku," ujar Kivandra dengan begitu antusias.


"Benarkah? Seseru itu di sana? Mami jadi ingin menyusulmu ke sana, Nak." Thalia tersenyum.


"Sini, Mami. Ajak Grandpa juga," kekeh Kivandra.


"Tidak sekarang, lain kali saja. Sekarang Mami tidak mau mengganggu honeymoon kalian," goda Thalia disertai candaannya.

__ADS_1


"Mami, mulai deh nyebelinnya,"


****


__ADS_2