
"Sayang, suruh dia menjauh dari kamar kita sebelum aku menyeretnya dengan kasar!" teriak Kivandra dari dalam kamar.
"Yumna, sebaiknya kau pergi dari kamarku. Suamiku sedang sensitif hari ini. Mungkin karena dia lelah, seharian ini dia melakukan perjalanan jauh. Tolong maklumi ya, jangan diambil hati ucapan suamiku. Dia sebenarnya baik, hanya saja jika dia belum mengenalnya maka dia akan bersikap arrogant seperti ini. Kau paham 'kan maksud saya?"
Yumna hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Naya. Tanpa berkata apapun, dia langsung membalikkan badannya dan pergi dari kamar Naya. Sementara itu, Naya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ART yang tidak punya akhlak itu.
Kemudian Naya masuk kembali ke kamarnya. Begitu dia masuk, dia melihat suaminya sudah tertidur di sofa. Naya tertawa kecil melihat suaminya yang sudah tertidur. Padahal jelas-jelas beberapa menit yang lalu dia sempat berteriak menyuruh Yumna untuk pergi.
Naya duduk di sebelah suaminya yang tengah tidur dengan posisi duduk. Karena tidak tega lihat posisi tidurnya Kivandra, dia pun meletakkan kepala suaminya di pangkuanya. Kemudian dia mengelus lembut kepala suaminya. Setelah beberapa saat kemudian, Naya pun ikut tertidur dengan posisi duduk.
****
Di kamar Yumna ....
Begitu sampai di kamarnya, dia benar-benar kesal karena Naya berani mengusirnya seperti itu. Dia juga tidak terima dengan perlakuan Kivandra yang kasar padanya. Tanpa pikir panjang, dia pun menghubungi bosnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alice.
Tak lama kemudian, Alice mengangkat teleponnya. Yumna memastikan dulu di luar kamarnya, apakah ada orang atau tidak. Setelah dia pikir aman, dia pun menempelkan ponsel di telinganya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Nyonya Alice," ucap Yumna setelah telepon tersambung.
"Ada apa? Apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanya Alice dari seberang telepon.
"Iya, Nyonya. Tadi saya sudah melakukan tugas saya, akan tetapi gagal," jawab Yumna.
"Apa? Gagal kau bilang?" pekik Alice dengan suara yang tinggi.
"Iya, Nyonya. Saya minta maaf, semua ini gagal karena istrinya Tuan muda Kivandra," jawab Yumna.
"Dasar bodoh! Bagaimana gadis kampungan itu menghalangi jalanmu? Kenapa tidak kau singkirkan saja dia dan rayu Kivan dengan sejuta pesonamu itu, hah?" protes Alice.
"Tuan muda Kivandra terlalu bucin pada istrinya. Dia sampai menghinaku di depan semua orang bahkan dia akan berbuat kasar jika aku mendekati kamarnya. Dan makanan yang sudah aku campur dengan obat yang sesuai Nyonya Alice berikan pun gagal diberikan karena Naya menolak makanan itu dengan alasan dia tidak menerima makanan dari sembarang orang apalagi makanan itu untuk suaminya."
__ADS_1
"Kivan tidak mungkin bucin pada gadis kampung seperti Naya itu! Saya tidak mau mendengar keluhanmu lagi, lagi pula saya membayar mahal dirimu untuk menjadi mata-mataku sekaligus menyingkirkan Naya dari kehidupan Kivan bukannya mengeluh seperti ini! Sekali lagi kau mengeluh dan gagal lagi maka aku akan menghentikan pengobatan ayahmu. Biar saja ayahmu mati!" ancam Alice dengan nada yang ditekankan.
"Jangan lakukan itu, Nyonya. Saya mohon, jangan hentikan pengobatan Ayahku. Saya janji, saya akan pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Naya akan segera keluar dari rumah ini," jawab Yumna dengan penuh keyakinan.
"Jangan cuma bicara saja, tapi buktikan! Aku butuh bukti! Tutt!" Alice memutuskan sambungan telepon.
Telepon terputus!
****
Yumna tidak tahu jika di luar kamarnya ada Farel yang sedang memegang ponselnya dan merekam setiap pembicaraan Yumna. Tanpa berlama-lama lagi, Farel pergi meninggalkan kamar Yumna. Dia berencana untuk mencari tahu siapa keluarga Yumna dan di mana ayahnya dirawat.
Dia ingin menjadikan Ayah Yumna sebagai alat untuk membuat Yumna berpihak padanya. Namun, sebelum itu terjadi, dia harus pergi untuk menguntit Alice. Dia harus mencari tahu di mana keluarga Yumna tinggal dan di mana ayahnya dirawat.
****
Saat ini Farel sudah stanby di depan kediamannya Alice. Dia sedang menunggu Alice keluar. Sambil menunggu wanita berbisa itu keluar, dia pun menghubungi tuannya. Setelah menunggu beberapa detik, teleponnya pun diangkat oleh Tuan muda Kivandra.
Telepon terhubung!
"Ada apa, Rel?" tanya Tuan muda Kivandra to the point.
"Saya minta izin keluar selama beberapa jam,"
"Apa yang kau lakukan selama itu?"
"Saya mau menguntit Alice, Tuan," jawab Farel.
"Apa kau sudah waras? Kau mau menguntitnya? Why?"
"Semua ini ada hubungannya dengan latar belakang Yumna. Saya sudah menemukan titik terang tentang latar belakang Yumna. Dan saat ini aku sedang mencari tahu keberadaan keluarga Yumna. Saya sudah merekam pembicaraannya Yumna di telepon. Seperti yang saya duga, ternyata Yumna melakukan ini karena keluarganya. Ayahnya dirawat, entah dirawat karena apa yang jelas saya mendengar jika Yumna melakukan ini karena bayaran Alice cukup besar dan juga bisa membayar administrasi rumah sakit untuk perawatan ayahnya."
"Baiklah, kalau begitu kau boleh keluar. Tapi sebelum itu, kau kirimkan rekaman itu padaku!" perintah Kivandra.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Akan saya kirimkan sekarang,"
"Ya, cepatlah! Tutt!" Kivandra memutuskan sambungan teleponnya.
Telepon terputus!
Setelah berbicara di telepon, Farel pun segera mengirim rekaman itu pada tuannya. Tak lama kemudian, orang yang sedang Farel tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Dia melihat Alice keluar dengan mobilnya.
Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung menancap gas mengikuti mobil Alice. Dia menjalankan mobilnya sedikit lebih lambat agar Alice tidak sadar jika ada seseorang yang mengikutinya. Namun, setelah melihat mobil Alice sedikit menambah kecepatan, Farel pun menambah kecepatan mobilnya.
Setelah beberapa saat, mobil Alice pun berhenti di salah satu rumah. Rumah yang tidak terlalu besar paling hanya memiliki beberapa kamar di dalam rumah itu. Untuk memastikan siapa yang Alice temui, Farel pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, jauh dengan mobil Alice. Kemudian Farel keluar dari mobil dan mendekati rumah itu.
****
Buana Home ....
Kini Kivandra dan Naya sudah selesai mandi. Mereka baru saja menyelesaikan kewajibannya Sebagai suami dan istri. Kini mereka sedang bersiap-siap untuk dinner ke luar. Mereka berpenampilan begitu berbeda dari biasanya.
Naya yang awalnya sangat kampungan sekali dan tidak tahu cara berpenampilan yang elegant dan berkelas itu seperti apa, kini lambat laun dia sudah terbiasa dengan berpakaian yang elegant dan selalu menggoda Kivandra dengan pesonanya. Tak kalah dengan istrinya, Kivandra pun berpenampilan jauh lebih berkharisma lagi dari biasanya. Dia ingin membuat istrinya semakin jatuh cinta padanya.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, mereka pun keluar dari kamar secara bersama-sama. Mereka bergandengan tangan menuruni anak tangga. Sebelum mereka pergi, mereka akan berpamitan terlebih dahulu pada kakek dan ibunya.
Sesampainya di salah satu ruangan, yaitu ruang keluarga mereka melihat Thalia dan Tuan Liam sedang membicarakan mengenai bisnis keluarganya. Kivandra berjalan memasuki ruangan itu. "Grandpa, Mami," panggil Kivandra.
Thalia dan Tuan Liam menoleh ke arah Kivandra. "Kivan, ada apa, Nak?" tanya Grandpa dengan menutup berkas yang sedang dia tandatangani.
"Kami mau pergi dinner, sebelum pergi kami mau berpamitan terlebih dahulu dengan Mami dan Grandpa," jawab Kivandra.
"Wah, wah ... sejak kapan cucuku ini berpamitan seperti ini. Setahu Grandpa dulu kau kalau mau pergi, tak pernah berpamitan baik itu sama Grandpa atau sama Mamimu," ledek Tuan Liam.
"Mungkin ini pengaruh positif dari Naya, Dad. Makanya Kivan kita ini berubah menjadi sosok yang baik seperti ini," timpal Thalia dengan sedikit tertawa.
****
__ADS_1