Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 81 > Akhirnya Naya Tahu


__ADS_3

Kediaman Kivandra ...


Begitu mereka sampai di rumah, Kivandra keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki rumah dan meninggalkan Naya yang masih di halaman depan bersama Yumna. Tatapan Naya terus tertuju pada sang suami. Ia sangat paham jika hari ini suaminya sedang marah.


"Nyonya, baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa Tuan begitu sangat marah dan mengabaikan Nyonya?" tanya Yumna dengan wajah yang penasaran.


"Entahlah, mungkin suamiku cemburu karena melihatku didekati oleh pria bernama Nero," jawab Naya.


"Oalah ... ya udah, Nyonya. Sekarang gini aja, mulai sekarang Nyonya jauhi saja pria bernama Nero. Kalaupun Nyonya bertemu dengan pria itu, lebih baik diabaikan saja," Yumna memberi saran pada majikannya.


"Aku tidak masalah soal itu, Yumna. Cuma yang aku herankan, kenapa Mas Kivan semarah ini? Toh, aku hanya berjabat tangan saja karena Pak Nero yang memperkenalkan diri lebih dulu. Aku bingung, sebenarnya siapa sih, Pak Nero itu?" tanya Naya dengan ekspresi yang bingung.


Mendengar itu, Yumna tercekat. Ia tidak berkutik sama sekali. Bagaimana mungkin ia memberi tahu Naya sedangkan suaminya saja belum memberi tahunya. Sementara itu, Naya yang melihat Yumna diam membisu semakin heran. Ia merasa jika Yumna terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Soal itu, sebaiknya Nyonya tanyakan pada Tuan Kivan saja. Saya tidak berani mengatakannya. Saya minta maaf, Nyonya," jawab Yumna dengan kepala yang tertunduk.


"Eumm ... Baiklah. Aku akan menanyakannya pada Mas Kivan. Ya udah, yuk kita masuk." Naya berjalan memasuki rumah.


Yumna mengangguk seraya berjalan di belakang majikannya. 'Semoga Tuan Kivan mau memberi tahumu, Nyonya,' batin Yumna berbicara.


****


Brakk!


Terdengar suara pintu kamar dibanting begitu keras, membuat semua penghuni rumah berdatangan menuju sumber suara. Kini Naya, Tuan Liam, Mami Thalia, Yumna dan juga kedua pengasuh si kembar sudah berkumpul di kamar Naya. Benar, suara itu berasal dari kamar Naya.


Sekilas, Naya melihat Mami Thalia dan juga Tuan Liam saling bertatapan satu sama lain. Mata keduanya seakan berbicara. Namun, entah apa arti tatapan matanya.


"Pergilah! Tinggalkan kamu di sini!" tegas Mami Thalia kepada Yumna dan kedua pengasuh si kembar.

__ADS_1


Mendengar perintah sang ibu mertua majikannya, mereka bertiga pun bergegas pergi meninggalkan sang pemilik rumah. Sementara itu, lengan Naya ditarik lembut oleh ibu mertua dan membawanya ke kamar Mami Thalia. Bukan hanya mereka berdua saja, melainkan Grandpa Liam juga mengikuti putrinya, Thalia.


Sesampainya di kamar Mami Thalia, Naya disuruh duduk di salah satu sofa bersama dengan mereka. Naya terlihat begitu bingung. Ia tidak tahu, kenapa Mami Thalia membawanya ke kamar. Ia semakin bingung ketika melihat tatapan ibu mertua dan juga sang kakek terlihat begitu serius seakan mau membicarakan sesuatu yang penting.


'Ada apa ini sebenarnya? Kenapa hari ini orang-orang terlihat sangat aneh? Apakah mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku?' batin Naya bertanya-tanya setelah menyadari sikap semua orang berbeda dari biasanya.


Mengetahui sang menantu tengah kebingungan, Mami Thalia mulai membuka topik pembicaraan. "Naya, sebelumnya Mami ingin tanya sesuatu padamu," ujar Mami Thalia.


"Iya, Mami. Silakan," jawab Naya dengan santun nan lembut.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya Mami dengan tatapan yang cukup tajam.


"Tidak, Mami. Sebenarnya Naya juga bingung, kenapa Mas Kivan tiba-tiba marah seperti ini. Naya belum pernah melihat suami Naya semarah ini," jawab Naya dengan jujur.


"Kamu yakin, Nak? Karena setahu Mami, Kivan itu tidak pernah marah tanpa sebab. Ia akan marah jika sesuatu telah terjadi yang membuat dirinya terpancing seperti sekarang."


"Sebenarnya--" Naya menghentikan pembicaraannya karena tidak berani untuk menceritakan bahkan bertanya mengenai pria yang ia temui saat di restoran tadi.


"Naya tidak tahu apakah Mas Kivan cemburu atau tidak. Yang jelas, ketika Naya dihampiri seorang pria dan berkenalan dengan Naya, Mas Kivan langsung marah dan menarik tangan Naya. Terakhir Mas Kivan bilang kalau Naya tidak usah dekat dengan pria genit sepertinya. Entah kenapa Mas Kivan bicara seperti ini. Naya juga tidak berani bertanya apakah Mas Kiva mengenal pria itu atau tidak," jelas Naya sedetail mungkin.


"Siapa nama pria itu?" tanya Mami Thalia to the point.


"Pak Nero," jawab Naya dengan penuh keyakinan.


"Apa?" Sontak kedua mata Mami Thalia dan Grandpa Liam membulat dengan sempurna.


Sang Ayah dan Putri ini begitu terkejut setelah Naya mengatakan nama pria itu. Naya yang melihat itu semakin yakin jika ibu mertua dan sang kakek tengah mengetahui sesuatu. Terlihat sangat jelas di mata keduanya jika mereka mengetahui sesuatu tentang pria itu.


'Kenapa Mami dan Grandpa begitu terkejut? Apakah Mami dan Grandpa mengetahui sesuatu tentang pria itu?' lagi-lagi batin Naya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kamu yakin jika pria itu bernama Nero?" Tiba-tiba Grandpa Liam bertanya kepada Naya.


"Iya, Grandpa. Naya mendengarnya dengan jelas jika pria itu mengatakan namanya Nero. Sebenarnya siapa pria itu? Apakah Grandpa dan Mami mengetahui sesuatu tentang pria itu?" Akhirnya Naya memberanikan diri untuk bertanya mengenai rasa penasarannya itu.


"Kamu yakin ingin mengetahui siapa pria itu?" Grandpa Liam kembali bertanya.


"Iya, Grandpa. Naya ingin mengetahuinya."


"Baiklah. Grandpa harap, setelah putriku ini memberi tahukan siapa pria itu, kamu tidak merasa takut dan menyesal menikah dengan cucuku." Grandpa Liam menatap Naya dengan tatapan yang sendu.


"Naya janji, Grandpa." Naya tersenyum meyakinkan sang kakek.


"Baik, tunggulah. Akan Mami tunjukkan sesuatu padamu." Mami Thalia beranjak dari duduknya Dan mengambil sesuatu dari lemarinya.


Setelah itu, Mami Thalia kembali duduk bersama Naya dan Daddy-nya. "Bukalah!" pintar Mami Thalia kepada Naya dengan memberikan sebuah map.


Naya mengambil map tersebut dan segera membukanya. Begitu map dibuka, Naya melihat ada beberapa foto. Dengan seksama ia memperhatikan orang-orang yang ada di foto tersebut.


Setelah melihat foto-foto itu, ekspresi Naya seketika berubah. Matanya langsung berkaca-kaca seakan mau meneteskan air mata. Namun, ia sadar jika saat ini dirinya sedang bersama dengan ibu mertua dan juga Grandpa Liam, sehingga ia bisa menahannya.


"Mami, Naya harus temui Mas Kivan. Naya permisi." Naya berpamitan seraya beranjak dari duduknya.


Naya berlari keluar dari kamar Mami Thalia menuju kamar suaminya. Sesampainya di kamar, Naya menggedor-gedor pintunya. "Mas, maafin Naya. Buka pintunya!" teriak Naya dari luar pintu.


Meski Naya sudah berteriak seraya menggedor-gedor pintu, tetap saja suaminya tak kunjung membukakan pintu. Namun, Naya tidak menyerah begitu saja. Ia terus membujuk suaminya agar mau membukakan pintu. Kali ini Naya membujuk suaminya dengan lembut.


"Mas, buka pintunya! Kita harus bicara. Naya mohon, buka pintunya," ucap Naya dengan lembut.


Lagi-lagi pintu tak kunjung dibuka. Tubuh Naya merosot ke lantai sembari memeluk kedua lututnya. "Seharusnya aku menghindar dari pria itu. Seandainya aku tahu jika pria itu adalah orang yang telah melukai suamiku aku tidak akan mau berjabat tangan dengannya. Maafin aku, Mas. Aku terlambat menyadari semua ini," ucapnya dengan nada yang lirih disertai berlinangnya air mata.

__ADS_1


****


Stay tune :)


__ADS_2