
Di Resto ....
"Kamu mau pesan apa?" tanya Kivandra tiba-tiba.
"Hah? Tuan muda kesambet apa? Tumben banget nanyain Naya mau pesan apa, biasanya juga suka pesan makanan tanpa bertanya dulu." Naya menatap suaminya dengan wajah yang keheranan.
"Kamu ini gimana sih, saya nanya salah. Enggak nanya pun salah. Maunya apa sih? Apa kamu ingin saya bersikap dingin lagi padamu?" Kivandra menatap tajam ke arah Naya.
"Eh, jangan. Naya sih senang aja jika Tuan muda mau sedikit berubah. Jangan menjadi Tuan robot lagi ya, jadilah pria yang lembut," ucap Naya seraya menaik-turunkan alisnya.
"Kebanyakan nawar! Cepat, mau pesan makanan apa?"
"Seafood aja deh, Naya sudah lama sekali tidak makan seafood." Naya cengengesan seraya malu-malu kucing.
"Mbak, kemari!" panggil Kivandra pada salah satu pelayan resto.
Pelayan yang merasa dirinya terpanggil itu langsung menghampiri meja Kivandra dan Naya. "Iya, Tuan. Mau pesan apa?" tanya Pelayan setelah sampai di meja Kivandra.
"Bawakan kami seafood 2 porsi dengan 2 minuman segar andalan resto ini!"
"Baik, Tuan." pelayan itu segera pergi menyiapkan pesanan Naya dan Kivandra.
***
Buana Home ....
__ADS_1
Tuan Liam sedang berbicara dengan Farel di ruangan privatnya. "Farel, saya ada tugas untukmu," ucap Tuan Liam.
"Iya, Tuan. Tugas apa itu?" tanya Farel dengan wajah yang penasaran.
"Saya ingin kau carikan sebuah apartemen mewah untuk Kivandra dan Naya tinggali. Saya ingin mereka hidup mandiri dan membangun rumah tangganya berdua. Jika sudah menemukan apartemen yang sesuai dengan selera cucuku, segera proses transaksi pembayarannya. Saya percayakan semuanya padamu!" perintah Tuan Liam.
"Baik, Tuan. Saya akan segera membeli apartemennya."
"Jangan beri tahu Kivan dulu, biarkan ini menjadi surprise untuknya dan Naya. Oh iya, sebelum kau pergi ... suruh Nek Aminah untuk datang ke ruanganku sekarang juga!" perintah Tuan Liam.
"Baik, Tuan. Akan saya panggilkan. Saya permisi," ucap Farel sembari meninggalkan ruangan privat Tuan Liam.
Tak lama kemudian, Nek Aminah datang. Dia memasuki ruangan Tuan Liam dengan kepala yang menunduk hormat. "Tuan memanggil saya," ucap Melissa.
Nek Aminah duduk di sofa yang berhadapan dengan tuannya. Kemudian Tuan Liam mengambil sebuah dokumen dan memberikannya pada Nek Aminah. "Baca dan tandatangani," ujar Tuan Liam.
Nenek Aminah mengambil dokumen itu dan membacanya. Betapa terkejutnya dia saat membaca isi dokumen itu yang berisikan jika dia diberhentikan dari pekerjaannya dan menerima sebuah pesangon berupa uang 150 juta dan sebuah rumah beserta isinya di kampung halamannya T. Dia bingung kenapa Tuan Liam tiba-tiba menyuruhnya berhenti dari pekerjaan sedangkan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Tuan Liam, apakah saya membuat kesalahan? Apakah pekerjaan saya kurang maksimal? Jika Tuan kurang puas dengan kinerja saya, saya akan memperbaikinya," ucap Nek Aminah.
"Bukan begitu, Nek Aminah. Saya tidak enak jika besan saya harus bekerja di rumah saya. Jadi, saya memutuskan untuk memberikan Nek Aminah modal usaha di kampung. Lagian, usia Nek Aminah sudah tidak muda lagi, sudah saatnya Nek Aminah beristirahat. Jangan memikirkan biaya hidup lagi, karena semua itu sudah saya tanggung bersama Naya. Nek Aminah juga tidak perlu khawatir tentang Naya, karena kami akan menjaganya dengan sangat baik. Kami akan memberikan kasih sayang yang tulus seperti yang Nek Aminah berikan pada Naya," jelas Tuan Liam.
"Saya percaya jika Tuan Liam akan menjaga Naya dengan sangat baik. Saya akan menerima keputusan Tuan Liam."
"Terima kasih, Nek Aminah. Besok pagi, Nek Aminah akan diantar oleh Farel. Jangan lupa, beri tahu Naya tentang ini."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan memberi tahu Naya setelah dia pulang. Kalau begitu, saya permisi."
"Ya, silakan."
****
Naya begitu lahap makannya, Tuan muda Kivandra sampai membulatkan matanya melihat seorang gadis makan sebanyak ini. Bukan hanya makannya saja yang banyak, Naya juga makan sedikit belepotan. Kivandra mengambil tisue lalu membersihkan bibir Naya yang belepotan itu.
Naya menatap dalam suaminya. Matanya berkedip-kedip saat tangan Kivandra menyentuh bibirnya. "Kalau makan itu yang benar. Kamu itu sudah besar, masa belepotan kek gini sih." Kivandra mendekatkan wajahnya pada wajah Naya.
Tak bisa dipungkiri jika saat ini detak jantung Naya berdegup kencang. 'Kenapa Tuan muda selalu membuatku ketar-ketir seperti ini? Semoga aja dia tidak mendengar detak jantungku.'
Tak!
Kivandra menjentikkan jarinya di depan wajah Naya membuat istrinya tersadar dari monolognya. "Kenapa bengong? Ayo habiskan makannya!" Kivandra melihat ke arah makanan Naya yang belum habis.
"Euh ... iya, Tuan muda." Naya melanjutkan makannya lagi.
"Nay, saya ingin ungkapin sesuatu sama kamu. Nanti malam saya ingin ajak kamu dinner, kamu mau enggak?"
"Dinner?" Naya membulatkan matanya.
'Apa yang akan Tuan muda ungkapin? Tumben sekali dia mengajakku dinner? Aduh, kok aku jadi deg-degan gini sih?'
****
__ADS_1