Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 93 > Belusukan Ke Hutan Perawan


__ADS_3

Naya berjalan keluar dari ruang penyekapan dengan mengendap-endap. Kedua matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan tangan kanan memegang tembok. Setelah di rasa cukup aman, Naya memastikannya lagi dengan sedikit mengintip. Dan benar saja, semua anak buah Nero sedang sibuk memadamkan api.


"Alhamdulillah, ini kesempatan Naya buat kabur. Semoga aja atuh si akang bakso urat teh enggak liat Naya," gumam Naya seraya berjalan lebih cepat.


Ia sedikit berlari untuk sampai di pintu keluar. Tidak ada pilihan lain selain terus berlari sebelum orang melihatnya. Mata Naya berbinar disertai senyuman kecil kala melihat pintu keluar sudah berada di depan matanya. Semangatnya semakin menggebu-gebu karena ia akan segera bebas dan kembali bertemu dengan keluarganya.


Sayangnya, sebelum kedua kaki Naya melewati pintu keluar, tiba-tiba suara tembakan terdengar. Seketika Naya menghentikan langkahnya seraya membalikkan badannya. Dengan kedua tangan diangkat ka udara, ia sedikit gemetar karena pria botak dengan tubuh besar itu semakin mendekatinya. Dan yang membuat Naya bergidik ngeri adalah di tangan pria botak itu sebuah pistol yang ditodongkan ke hadapannya.


"Jika berani melangkah satu pun saja, maka peluru ini akan menembus kepalamu!" pria botak itu mengancam Naya.


'Aduh, gimana ini teh? Naya malah ketahuan sama si akang bakso urat ini? Lari enggak ya? Tapi, gimana kalau dia beneran nembak Naya? Bisa mati di sini atuh. Enggak, Naya harus ngelabui dia agar Naya bisa kabur dari sini. Gimana caranya ya? Oh iya, Naya ingat,' Naya bermonolog dalam batinnya.


Tiba-tiba terlintas di benak Naya untuk memberi pelajaran kepada pria botak itu. Sewaktu Naya berusia 15 tahun, ia sempat belajar ilmu bela diri dari salah satu ayah dari temannya. Tak membuang waktu, sebelum semua anak buah Nero berdatangan, Naya mulai mencoba melawan pria itu dengan sangat hati-hati.


"Hei, Akang bakso urat. Sini, tangkap Naya. Jangan beraninya main senjata, Naya bukan ******* jadi tidak perlu menggunakan senjata itu. Kalau bisa tangkap Naya dengan tangan kosong. Berani enggak?" tantang Naya dengan bahasa campuran Indonesia dan Sunda.


"Wah, nantangin nih cewek. Okay, saya jatuhkan pistolnya, cewek mungil sepertimu bisa apa?" Pria botak itu tertawa meremehkan.


"Euleuh-euleuh meuni songong pisan! Awas ya, Naya akan buat perhitungan. Pria botak kek bakso urat aja songongnya naudzubillah," timpal Naya dengan nada ketus.


"Hei! Jangan sembarangan bicara kamu!" bentak pria itu seraya berjalan mendekati Naya.


Naya mempersiapkan diri untuk berduel dengan pria botak itu. Jangan tanyakan, apakah Naya tidak takut? Tentu jawabannya, ia sangat takut. Namun, tidak ada cara lain selain melawannya. Mau kalah atau menang itu urusan nanti yang terpenting ia berusaha terlebih dahulu.


'Pokoknya, aku harus ambil pistol itu gimana pun caranya. Dengan begitu, aku bisa sedikit melumpuhkan si pria bakso urat itu,' batin Naya berpikir keras untuk sampai ke posisi pistol yang dijatuhkan lawannya.


Naya berlari dengan lincah menghindari pria itu. Namun, dress Naya berhasil ditarik oleh pria botak tersebut, hingga membuat tubuh Naya ketarik dan jatuh ke tubuh pria itu. Meski ia telah tertangkap, ia tidak kehabisan ide.

__ADS_1


"Akang kasep, lepasin dulu atuh. Naya harus benerin sesuatu," bujuk Naya dengan suara yang dilembut-lembutkan.


"Tidak akan. Saya tidak akan melepaskanmu lagi, cewek tengil!" tegas pria itu.


"Ayolah, akang. Sekedar, moal lami. Naya teh mau benerin ikatan bra Naya yang lepas." Naya menatap pria itu dengan tatapan yang lembut.


Melihat tatapan Naya yang begitu lembut membuat pria botak itu luluh. "Baiklah, saya beri waktu 1 menit untuk membenarkannya." Pria botak itu melepaskan dress Naya yang ia tarik tadi.


"Ya udah, Akangnya balik badan atuh. Masa mau ngintip, nanti bintitan loh," ucapnya dengan berpura-pura mau membenarkan ikatan bra-nya.


"Ribet!" omel pria itu dengan wajah kesal.


Tanpa merasa curiga sedikitpun, pria botak itu pun berbalik badan. Setelah melihat itu, tentu Naya segera menjalankan misinya. Dengan secepat kilat, Naya menyambar pistol yang berada di bawah kaki si pria itu.


BUGH!


"Diam! Jika Akang berteriak, maka Naya akan menembak burung kecilmu itu, MAU?" Naya mengancam pria itu dengan menodongkan pistolnya ke arah pria itu.


"Jangan macam-macam padaku, Nona. Kamu akan menyesalinya nanti!"


"Pria toren! Banyak bicara, lihat apa yang akan Naya lakukan!"


DORR!


Naya dengan terpaksa menembak betis pria yang sedang meringis kesakitan itu. Pria botak malang itu kembali berteriak kesakitan. Belum reda rasa sakit yang ia rasakan di kelaminnya tiba-tiba ia harus merasakan rasa sakit di betisnya.


"Si*lan! Woiiy, Naya kabur! Buruan tangkap dia!" teriak pria itu dengan lantang.

__ADS_1


"Wah ... gawat, aku harus kabur sekarang juga." Naya mulai panik dan memutuskan kabur dari tempat itu dengan membawa pistol pria botak.


Tak lama setelah Naya melarikan diri, datanglah beberapa pria menghampiri pria botak. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau terluka seperti ini?" tanya salah satu pria bertubuh tinggi namun badannya cukup atletis. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bayu, pria yang membantu Naya untuk melarikan diri.


TAK!


Pria botak itu menyentil dahi Bayu, hingga membuatnya sedikit meringis. "Dasar bodoh! Cepat kejar cewek tengil itu!" perintah pria botak itu kepada Bayu.


"Okay, okay. Saya akan kejar dia," timpal Bayu dengan berlari mengejar Naya.


"Kalian juga, cepat berpencar dan temukan wanita itu! Jangan sampai dia lolos!" perintah pria botak kepada yang lainnya.


Mengetahui hal itu, Bayu bergerak lebih cepat. 'Aku harus menemukan Naya sebelum mereka yang menemukannya lebih dulu,' batin Bayu dengan berlari menuju hutan.


****


Di sisi lain, tepatnya di hutan perawan. Saat ini Naya terpaksa belusukan menembus pohon-pohon yang begitu rapat. Tidak ada pilihan lain selain ia mengikuti saran dari Bayu. Rasa takut masih menyelimuti Naya, sebab hutan itu benar-benar terasa berbeda dari hutan yang lain. Sepertinya jarang ada orang yang memasuki hutan ini sehingga Naya harus menemukan jalan sendiri dengan mengandalkan suara aliran sungai.


Ia terus berjalan menyusuri aliran sungai. Entah berapa lama ia akan sampai di rumah yang dimaksud Bayu itu. "Benarkah di hutan selebat ini ada rumah? Ah, semoga aja Pak Bayu tidak membohongiku," gumam Naya dengan melihat ke sekelilingnya.


Setelah beberapa kurang lebih dua jam lamanya ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar sesuatu di semak-semak. Dengan sigap, Naya memegang pistol itu dan mengarahkan ke arah semak-semak, karena yang ia takutkan adalah hewan buas yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Semak-semak itu bergerak dan suaranya semakin jelas di telinga Naya, membuatnya harus bersembunyi di balik pohon besar. Secara tiba-tiba, muncul ....


"Aaahhh!" teriak Naya sembari menutup kedua matanya. Namun, ia masih bisa melihat dari sela-sela jemarinya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2