
Sebuah pesan masuk yang membuat si pemilik ponsel tersebut menoleh seketika. Dengan gerakan yang cepat, Yumna meraih ponselnya serta membuka isi pesannya. Betapa terkejutnya ia pada saat membaca isi pesan dan disertai sebuah foto yang membuat kedua matanya terbelalak dengan sempurna. Setelah melihat itu, wanita itu bergegas keluar dari kamarnya dengan berlari serta menunjukkan kepanikan di wajahnya.
Brugh!
Tidak sengaja Yumna bertabrakan dengan seorang pria yang berada di hadapannya. Pria itu adalah Tuan Kivandra. Mengetahui bahwa pria yang ia tabrak adalah majikannya, Yumna langsung menundukkan kepalanya dengan mengutarakan permintaan maaf. "Maafkan saya, Tuan,"
"It's okay. Lain kali hati-hati," timpal Kivandra.
"Iya, Tuan. Saya permisi," ucap Yumna dengan membalikkan badannya dan hendak berjalan meninggalkan majikannya.
"Tunggu!" Kivandra merasa ada sesuatu yang aneh yang tidak biasanya dari Yumna.
Yumna seketika langsung menghentikan langkahnya dan kembali berbalik badan. "Iya, Tuan."
"Ada apa?" tanya Kivandra dengan singkat.
"Eoh?" Yumna yang sedari menundukkan kepalanya, reflek langsung mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Kivandra. Ia bingung dengan pertanyaan dari majikannya itu.
"Apa yang membuatmu berlarian seperti ini? Apakah ada masalah?" tebak Kivandra dengan tatapan yang tajam.
Gleuk!
Yumna tertegun dengan pertanyaan Tuan Kivandra. 'Apakah aku terlihat mencurigakan di hadapan Tuan Kivan? Haruskah aku katakan yang sebenarnya kalau semua ini ada sangkut pautnya dengan Alice?' batin Yumna bertanya-tanya.
"Ekhem!" Kivandra berdehem seraya melipat kedua tangan di dada.
"Begini, Tuan. Saya mau minta izin, saya ada urusan sebentar. Bolehkah saya pergi sebentar?"
"Tentu. Tapi, kamu harus diawasi! Ingat, Yumna ... saya masih belum percaya penuh sama kamu. Kamu akan ditemani oleh Farel!" tegas Kivandra.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Farel!" panggil Kivandra.
Tak membutuhkan waktu lama, si pemilik nama tersebut sudah menunjukkan barang hidungnya. "Iya, Tuan."
"Saya ada tugas untukmu. Kamu awasi Yumna, kamu ikutlah bersamanya! Beri tahu saya jika kamu mengetahui sesuatu. Jangan sampai kita kecolongan lagi yang akan membahayakan istri dan putri kembarku," perintah Kivandra.
"Siap, Tuan. Saya akan selalu mengawasi Yumna."
"Ya sudah, kalian boleh pergi!"
****
Yumna dan Farel segera memasuki mobil. Wanita itu duduk di depan tepat sebelah kursi kemudi Farel. Terlihat jelas jika Yumna tengah gelisah disertai dengan jari telunjuk yang ia gigit kecil. Sementara itu, Farel segera memakai sabuk pengaman dan segera melajukan mobilnya.
"Yumna, kita akan pergi ke mana?" tanya Farel dengan sedikit menoleh ke arah wanita itu.
"Ke rumah aja, Rel. Perasaan gue udah enggak enak banget, gue takut bokap gue kenapa-kenapa," jawab Yumna dengan wajah yang semakin menunjukkan kecemasan.
"Lu yakin? Bukannya bokap lu ada di rumah sakit?" Farel kembali bertanya pada Yumna.
"Okay. Lu tenang dulu, jangan panik. Gue yakin bokap lu baik-baik aja, palingan itu si wanita toxic hanya ancaman doang supaya lu mau lakuin sesuatu buat dia lagi," ujar Farel sembari menenangkan Yumna.
"Semoga aja perkataan lu benar," timpal Yumna dengan singkat.
Kemudian Yumna mengalihkan pandangannya dari yang awalnya menatap Farel, kini ia beralih menatap ke jalanan. Saat ini pikirannya kalut, dia benar-benar bingung. Wanita itu benar-benar tertekan dari segala sisi.
Selang beberapa menit kemudian, mobil mereka telah sampai di salah satu rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Farel menghentikan mobilnya di tepat di depan rumah Yumna. Benar, rumah tersebut adalah rumah Yumna. Rumah yang pernah Farel datangi pada saat ia sedang membuntuti Alice.
'Ini 'kan rumah yang Alice datangi saat itu? Jadi, memang benar jika Yumna ini adalah orang suruhan Alice saat itu,' Farel membatin sembari menatap ke arah Yumna.
"Ngapa lu liatin gue kek gitu?" celetuk Yumna dengan nada bicara yang sedikit ketus.
__ADS_1
"Enggak. Ayo kita keluar," ajak Farel sembari membuka sabuk pengaman tanpa menjawab pertanyaan Yumna.
"Tunggu deh, Rel. Liat itu!" Yumna menunjuk jari telunjuknya ke arah 4 pria kekar yang berada di depan pintu rumahnya.
"Iya, memang kenapa?"
"Lu tahu, Rel ... mereka itu anak buahnya Alice. Lebih baik lu pergi dari sini. Biar gue yang bicara sama Alice. Jangan sampai Alice tahu kalau lu ada di sini," ujar Yumna dengan wajah yang sedikit takut.
"Gila lu ya, gue udah dapat tugas dari Tuan Kivan kalau gue harus selalu awasi lu. Lagi pula udah tanggung gue berhentiin mobilnya di sini. Mereka juga lihat kali," timpal Farel sembari keluar dari mobil.
"Hei, Farel! Lu tuh ya, ngeyel amat jadi orang!" celetuk Yumna seraya keluar dari mobil dan menyusul Farel yang sudah keluar lebih dulu.
Begitu keluar dari mobil, Yumna langsung menghampiri Farel dan menarik lengan pria itu. "Sini lu!" Yumna mengajak Farel menjauh dari kediamannya.
"Apaan sih? Lu ngapa?" tanya Farel seraya melepaskan lengannya dari pegangan Yumna.
"Lu dengerin gue deh. Gue saranin lu buat pergi! Lu tahu 'kan gimana nekatnya Alice? Gue enggak mau lu jadi korban di sini. Lagi pula Alice tidak tahu kalau kita ini dekat, jangan sampai sandiwara gue ketahuan oleh wanita toxic itu!" tegas Yumna dengan menatap tajam Farel.
"Memang lu sedekat apa sama gue? Lu dengerin gue ya ... gue di sini karena gue dapat tugas dari Tuan Kivan. Gue ini pria sejati, gue tidak akan pernah mundur apalagi pergi ninggalin lu di sini. Mau sekekar apa itu anak buah Alice, gue tidak akan gentar sama sekali. Gue akan hadapi apa pun yang terjadi nantinya! Lu percaya deh sama gue." Farel menangkup kedua pipi Yumna sembari meyakinkan wanita itu.
Belum sempat Yumna menjawab, tiba-tiba Alice datang dengan bertepuk tangan. "Woah ... drama macam apa ini? Cuih!" Alice meludahi lengan Yumna secara sengaja.
Sontak, Yumna langsung menoleh ke samping, tepat Alice berada. Wajahnya merah padam menahan amarah. "Alice!" Yumna memanggil Alice disertai dengan bentakan.
"Turunkan suaramu! Jangan belagu, lu!"
Bugh!
Alice dengan sengaja memukul kepala Yumna di hadapan Farel. "Lu pikirkan kondisi bokap lu! Jangan berani main-main sama gue!" tegas Alice disertai sorotan matanya yang sedikit menakutkan.
Mau tidak mau, suka tidak suka Yumna harus mengalah. Dia menurunkan egonya dan mencoba menahan amarahnya. Saat ini dia hanya memikirkan nasib orang tuanya. Selain itu, dia juga memikirkan nasib Farel yang bisa saja Alice juga melukai pria itu.
__ADS_1
Dengan perasaan yang luar biasa malu, Yumna berlari memasuki rumahnya dan meninggalkan Farel. Bagaimana tidak, dia dipukul dan dicecar habis-habisan oleh Alice. Berbeda dengan Farel, saat ini dia tengah mengepalkan kedua tangannya dengan emosi yang terpancar di wajahnya. Sementara itu, Alice yang melihat ekspresi Farel seperti itu hanya tertawa kecil sembari pergi meninggalkan pria itu.
Stay tune :)