Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 51 > Sisi Lain Seorang Kivandra


__ADS_3

Pada saat Naya dan Farel sedang tertawa bersama di dapur, tiba-tiba Kivandra datang dan berdiri di belakang istrinya. "Apa yang sedang kalian bicarakan sampai kalian tertawa seperti ini?" tanya Kivandra yang membuat Naya terlonjak kaget.


Naya menoleh ke belakang. Bibirnya langsung bungkam, dia tidak tertawa lagi. "Nona muda sedang membicarakanmu, Tuan muda," celetuk Farel seraya menaik-turunkan alisnya pada Naya.


"Ih, dasar mulut jolang! Malah dibilangin lagi pada Mas Kivan," umpat Naya dengan pelan.


"Jadi benar, jika istri kecilku ini sedang membicarakanku, hemm?" sindir Kivandra.


"Aku tidak membicarakanmu, Mas. Aku hanya bertanya sedikit tentangmu pada Kak Farel," jawab Naya, cemberut dengan bibirnya yang mengerucut.


"Gemesin deh!" Kivandra menyomot bibir Naya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu boleh membicarakanku kapanpun kamu mau. Jika kamu ingin mengenal aku lebih jauh, kenapa tidak bertanya padaku saja?" Kivandra menangkup kedua pipi istri kecilnya.


"Nah, aku setuju dengan Tuan muda. Memang seharusnya seperti itu, jika Nona muda ingin mengetahui tentang kehidupan dan masa lalu Tuan muda, Nona muda bisa bertanya langsung pada Tuan muda," timpal Farel.


Naya terdiam, dia tidak mengatakan apapun. "Oh iya, Farel. Bukankah kau harus pulang ke Buana Home? Apakah kau masih betah di sini?" tanya Kivandra seraya menatap Farel.


"Iya, Tuan muda. Aku akan berangkat sebentar lagi. Aku sedang menunggu Nek Aminah untuk berpamitan," jawab Farel.


"Memangnya Nenek ke mana?" tanya Naya.


"Nek Aminah pergi ke pasar, Nona muda. Nek Aminah bilang jika hari ini dia akan mengadakan acara syukuran untuk rumah ini. Nek Aminah juga akan menggelar pengajian di rumah ini, makanya dia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan untuk dimasak," jawab Farel.


"Kau ini gimana sih? Kenapa tidak mengantar Nek Aminah ke pasar dengan mobilmu?" protes Tuan muda Kivandra.

__ADS_1


"Aku sudah mengantarnya dengan mobil, Tuan muda. Hanya saja setelah sampai di pasar, Nek Aminah menyuruhku untuk pulang ke rumah. Nek Aminah takut kalian kebingungan karena kami tidak ada di rumah."


"Baiklah, kalau begitu aku sama istri kecilku ini akan menyusul Nek Aminah ke pasar. Kau tetap di rumah jaga rumah kalau kau mau, kau bisa membersihkan rumah ini sambil menunggu kami," ledek Kivandra dengan tertawa kecil.


"Jahat sekali Tuanku ini. Tapi, apa Tuan muda yakin akan menyusul Nek Aminah ke pasar? Lagian, sejak kapan Tuan muda mau menginjakkan kaki di pasar?" Farel meremehkan Kivandra.


"Sejak aku menikahi Naya. Sudah, jangan banyak bertanya. Kami pergi dulu. Ayo, Sayang." Kivandra menarik pelan tangan Naya dan membawanya pergi.


Begitu sampai di luar, Naya dan Kivandra dibuat kebingungan melihat banyak sekali anak kecil di luar rumahnya. Mereka pun saling menatap satu sama lain setelah melihat anak itu. "Nay, siapa anak-anak ini?" tanya Kivandra dengan menatap ke arah 7 orang anak-anak itu.


"Dia mantan muridku, Mas."


"Murid? Apa kau seorang guru? Tapi 'kan usiamu masih sangat muda, bagaimana kau bisa menjadi seorang guru?" tanya Kivandra dengan mengerutkan dahinya.


"Assalamu'alaikum, Kak Naya dan Kakak tampan," ke tujuh anak itu mengucapkan salam kepada Naya dan Kivandra.


"Wa'alaikumsalam," jawab Naya dan Kivandra.


Kivandra berjalan menghampiri ke tujuh anak itu. Tiba-tiba, tangan Kivandra mengelus kepala anak-anak itu dengan lembut serta senyuman di bibirnya. Naya yang melihat itu ikut tersenyum serta berjalan menghampiri suaminya.


'Baru kali ini aku melihat sikap suamiku yang seperti ini. Ternyata dia soft boy,'


"Apa kalian kemari untuk menemui istri kecilku ini, hmm?" tanya Kivandra.


"Kak Naya istrinya Kakak tampan?" alih-alih menjawab salah satu anak berkulit hitam itu malah balik bertanya.

__ADS_1


Kivandra menganggukkan kepalanya. "Iya, Dek. Guru kalian yang cantik ini sekarang sudah menjadi istriku," jawab Kivandra dengan menoleh ke arah istrinya.


Naya merasa malu jika suaminya mengatakan itu di depan anak-anak. Naya menyenggol lengan suaminya. Kemudian dia berbisik di telinga Kivandra.


"Mas, jangan katakan ini di depan anak-anak. Aku malu," dibalas dengan senyuman oleh Kivandra.


"Yah, sekarang Kak Naya sudah menikah. Katanya Kak Naya tidak akan menikah sampai kami menikah lebih dulu," jawab anak-anak dengan serentak disertai ekspresi yang cemberut.


"Wah, benarkah? Istri kecilku ini mengatakan itu?" Kivandra tertawa mendengar serta melihat ekspresi ke tujuh anak itu.


Semua anak itu mengangguk dengan cepat. "Sudah, jangan bersedih. Guru kalian yang cantik ini akan aman denganku. Untuk menebus rasa bete kalian bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku akan membelikan apapun yang kalian inginkan, bagaimana?" bujuk Kivandra dengan menaik-turunkan alisnya.


Mata ke tujuh anak itu langsung berbinar disertai senyumannya yang lebar. "Benarkah? Kami akan diajak jalan-jalan dengan mobil Kakak tampan yang itu?" tanya salah satu anak dengan menunjuk ke arah mobil Kivandra.


"Iya, bagaimana? Apa kalian mau?"


"MAU!" jawab semua anak-anak serentak dengan sangat antusias.


"Lets go!" ajak Kivandra seraya membawa anak-anak ke mobil. Diikuti oleh Naya dari belakang.


Naya tersenyum bangga, dia tidak menyangka jika sikap arrogant suaminya akan berubah menjadi hangat seperti ini. Dia sangat bersyukur karena suaminya telah berubah menjadi pria yang lebih baik. Naya tidak menyangka jika seorang Kivandra yang sebelumnya dia katain beruang kutub sangat menyukai anak-anak.


'Mas, aku suka melihatmu seperti ini. Aku sedikit tidak percaya jika Mas begitu menyukai anak-anak. Aku sangat bersyukur atas apa yang terjadi akhir-akhir ini,'


****

__ADS_1


__ADS_2