Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 85 > Mencurigai Pak Bagas


__ADS_3

"Ngaco kamu, Mas. Mana mungkin Pak Nero kirim pesan sama Naya. 'Kan Naya teh tidak pernah ngasihin no Naya sama dia," timpal Naya dengan logat khas Sunda.


Tatapan serta pemikiran Naya yang begitu polos membuat Kivandra tertawa. Ia menggelengkan kepala sembari mencubit pelan kedua pipi Naya. "Duh, Neng Naya. Kamu teh meuni polos-polos teuing. Coba kamu teh keluar dari bingkai kehidupan kamu, biar kamu memahaminya," kekeh Kivandra dengan menggunakan bahasa campuran antara bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia.


"Euleuh, euleuh ... si akang teh kalau bicara suka enggak jelas. Bingkai naon atuh? (Kakak nih kalau bicara suka tidak jelas. Bingkai apa sih?) dikira foto kali ah pakai bingkai. Lucu deh," Naya tertawa terbahak-bahak karena tidak memahami arti ucapan sang suami.


"Astagfirullah, Naya. Kamu ini ya." Kivandra menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa, Mas?" dengan polosnya Naya justru malah bertanya.


"Enggak. Aku pusing bicara sama kamu. Kamu itu terlalu polos untuk diajak bicara seperti ini. Lebih baik aku mandi saja." Kivandra berjalan menuju kamar mandi sambil menghembuskan napasnya.


"Yee, kalau gitu ngapain nikahin Naya coba," gerutu Naya dengan mata yang melihat ke arah sang suami.


"Naya! Aku bisa mendengar celotehanmu itu. Hati-hati kalau mau mengumpat," sindir Kivandra yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Siap, Tuan Bunglon. Silakan mandi terlebih dahulu, tubuhmu bau hangru," ledek Naya dengan tawanya yang terbahak-bahak.


Mendengar ledekan dari sang istri membuat kesabarannya mulai menipis. Kivandra mau marah tapi tidak bisa. Sebab rasa sayangnya telah mengalahkan rasa marah. Wanita polos dan selucu seperti istrinya itu sangat tidak pantas untuk dimarahi. Melainkan wajib untuk disayang.


Kali ini Kivandra tidak menggubris ledekan sang istri. Ia milih untuk mengalah dengan masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Naya asyik berjalan ke sana ke mari. Ia benar-benar bingung. Ia harus melakukan apa, sedangkan di kamar itu tidak ada sesuatu yang bisa ia kerjakan.


Sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan, Naya memutuskan untuk pergi ke arah balkon. Ia berniat untuk melihat mentari sekaligus merasakan hangatnya sang mentari kala menyelimuti tubuhnya dengan sinarnya yang begitu indah. Namun, disaat ia sampai di balkon, Naya dibuat terkejut dengan penglihatannya. Di mana, saat ini Naya tengah melihat Pak Bagas sedang berbicara dengan seorang pria dari dalam mobil.


Awalnya Naya tidak mengetahui siapa pria dalam mobil itu. Sehingga membuat Naya pergi ke kamar untuk mengambil ponsel. Ia bermaksud untuk memotret serta zoom orang yang ada di dalam mobil itu. Akan tetapi, begitu ia sampai di balkon Pak Bagas serta pria itu secara cepat mebghilang entah ke mana.


"Loh, bukannya tadi ada di sana. Ke mana perginya mereka? Cepat sekali perginya. Ah sudahlah, mungkin Pak Bagas hanya menyapa orang itu saja. Lebih baik aku selfie aja kali ya, buat enggak bosen," Naya bermonolog.


Kemudian Naya membuka IG dan mulai selfie dengan bantuan beberapa filter agar selfie-nya terlihat sedikit lucu. Jangan heran, usia Naya masih sangat muda. Walaupun ia sudah memiliki dua anak akan terapi jiwanya masih sangat muda. Naya tak mau kalah dengan perkembangan zaman yang sudah mulai modern serta serba canggih.


"Gadis kampung juga boleh kali selfie ngikutin trend," gumam Naya sambil tergelak melihat hasil fotonya.


"Siapa bilang kamu gadis, heum?" sahut Kivandra yang tiba-tiba menunjukkan batang hidungnya.


Naya yang sedang asyik berpose pun seketika terkejut dan hampir saja mau menjatuhkan ponsel. Namun, ia masih bisa memegangnya dengan baik. "Ih, Tuan Bunglon! Nape ngagetin gue aja sih?" omel Naya dengan bahasa yang mengikuti khas betawi.


"Cielah ... sok-sok'an mau pakai bahasa betawi, bahasa indo saja masih suka dicampur. Udah kek bubur merah bubur putih aja," ledek Kivandra dengan maksud bercanda.


"Terus aja ledekin! Dasar Bunglon tua!" caci Naya dengan raut wajah yang sebal.


"Ciee, ada yang marah nih," sindir Kivandra dengan berjalan mendekati sang istri.


****

__ADS_1


Tak!


Nero menyentil dahi Pak Bagas. "Untung saja kita berhasil pergi. Kalau enggak, wanita itu akan memotret kita dengan ponselnya. Bisa-bisa rencana kita batal," tegur Nero dengan matanya yang melotot.


"Maaf, Bos. Saya tidak tahu kalau wanita itu akan sedang memperhatikan kita," Pak Bagas meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.


"Makanya, lain kali hati-hati. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Sekarang, kembali ke tugasmu seperti biasa. Jangan sampai ada yang melihat kita di sini dan melaporkannya pada Tua bangka Liam itu!"


"Baik, Tuan." Dengan cepat, Pak Bagas berlari ke mobilnya.


Pak Bagas kembali bersikap seperti biasa, seakan semua baik-baik saja. Saat ini, ia sedang berdiri di depan mobil dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Sambil menunggu Kivandra dan juga Naya keluar dari hotel, Pak Bagas menyeruput kopi hangat itu dengan santai. Selang beberapa menit, tiba-tiba ponselnya bunyi.


Pak Bagas menaruh kopi tersebut di atas body depan mobil dan merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Setelah ponsel berada digenggaman, ia melihat dengan jelas jika Tuan Liam meneleponnya. Dengan gerakan yang cepat, jari jempol menggeser layar tanda ia mengangkat telepon dari tuannya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Tuan," sapa Pak Bagas setelah telepon tersambung.


"Hallo, Bagas. Bagaimana, apakah Kivandra dan Naya sudah ada tanda-tanda mau pulang hari ini?" tanya Tuan Liam dari seberang telepon.


"Belum, Tuan. Semalaman saya berjaga sampai sekarang Tuan Kivandra dan Nyonya Naya tidak keluar dari hotel. Mungkin mereka sedang menikmati momen berdua," jawab Pak Bagas tanpa rasa canggung sama sekali.


"Ya sudah, kalau begitu kau pulang ke kediaman cucuku dan antar saya pulang ke Buana Home!" perintah Tuan Liam.


"Saya tunggu. Tutt!" Tuan Liam mengakhiri obrolannya dengan memutuskan sambungan telepon.


Telepon terputus!


Setelah bicara di telepon, Pak Bagas membuang kopinya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian dia mengitari mobil dan segera masuk. Tanpa menunggu waktu lama, ia memakai seat belt serta mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


****


Terlihat seorang wanita dengan barang belanjaannya berlari kecil menuju dapur. Dengan wajah yang sedikit pucat serta banjir dengan keringat membuat tubuhnya terasa lemas dan sehingga tanpa sengaja bertabrakan dengan Farel yang tiba-tiba melintas di hadapannya wanita itu. Dan wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Yumna.


Brugh!


Yumna terjatuh dengan barang belanjaannya tepat di hadapan Farel. Melihat itu, tentu Farel tidak diam saja. Ia mengulurkan tangannya ke arah Yumna. "Ayo, bangun," ujar Farel.


Yumna memegang tangan Farel dan bangun. "Sorry, Rel. Gue enggak sengaja," tutur Yumna.


"It's okay. Lu ngapain lari-lari kek gitu? Apa lu dikejar preman atau jangan-jangan lu dikejar hantu?" celetuk Farel.


"Ngaco. Mana ada di jam-jam segini ada hantu. Gini loh, Rel. Ada sesuatu yang mau gue omongin sama lu. Dan ini sangat penting," timpal Yumna disertai tatapan yang begitu serius.

__ADS_1


"Apa?"


"Ya, enggak bicara di sini juga kali, Rel. Udah sekarang lu bantuin gue dulu beresin ini. Setelah itu gue kasih tahu lu,"


"Alah ... modus, lu." Farel memutar bola matanya malas.


"Gue serius, Farel! Lu ini ngapa sih kagak percaya amat sama gue," omel Yumna dengan nada yang kesal.


"Musrik gue percaya sama lu," skak Farel.


"Astaga, nih cowok. Minta dijitak kali ya. Ngeselinnya minta ampun. Udah lu, sono! Males gue ngadepin cowok somplak kek elu!" bentak Yumna karena kesal.


Saking kesalnya, Yumna bergegas pergi dengan belanjaannya meninggalkan Farel. Melihat Yumna yang tengah merajuk, bukan membuat Farel tergerak untuk membujuk Yumna apalagi meminta maaf. Justru hal ini membuatnya tertawa karena melihat Yumna merajuk seperti ini sangat langka dan juga menggemaskan.


"Dasar maung kecil," gumam Farel diakhiri tawa kecilnya.


****


Setelah beberapa jam kemudian, Farel tiba-tiba kepikiran tentang ucapan Yumna tadi. 'Kira-kira si maung kecil itu mau ngasih tahu apa ya? Apakah ada sesuatu yang serius? Tapi, apa itu?' batin Farel bertanya-tanya sembari mendongak menatap langit yang cukup cerah.


Tin! Tin!


Lamunan Farel buyar ketika mendengar suara klakson mobil. Lantas, Farel mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang baru saja datang dan terparkir. Rupanya mobil itu adalah yang dipakai Pak Bagas, supir baru di Buana Home. Terlihat, Pak Bagas berjalan ke arah Farel disertai dengan tatapan yang dingin.


Begitu berhadapan dengan Farel, Farel menyapa Pak Bagas dengan ramah. "Pagi, Pak. Baru pulang ya," sapa Farel dengan senyuman kecil.


"Hmm," jawabnya dengan singkat. Setelah itu, Pak Bagas nyelonong pergi meninggalkan Farel sendirian.


"Hmm ... doang? Gila, udah gue sapa baik-baik malah singkat begitu jawabannya. Kek mayat hidup aja," gumam Farel dengan pelan.


Tak mau memikirkan tingkah jutek Pak Bagas. Farel pun memutuskan untuk menemui Yumna di dapur. Namun, sesampainya di dapur, Yumna tidak ada. Dengan terpaksa ia harus mencari keberadaan Yumna di setiap sudut rumah itu.


Ketika ia sedang berjalan tepat menyusuri salah satu lorong, ia melihat Pak Bagas sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Karena penasaran, Farel pun bersembunyi di balik tembok kecil seraya mengeluarkan ponsel untuk merekam aksi Pak Bagas yang cukup mencurigakan. Namun, ia tidak bisa mendengar dengan jelas tentang apa yang sedang dibicarakan oleh pria matang itu. Ketika, Farel sedang berhati-hati merekam aksi Pak Bagas, tiba-tiba terdengar suara di belakangnya.


Sontak, Farel segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Bersamaan dengan itu, Pak Bagas berbalik badan dan menghampiri suara itu. Dengan rasa yang panik, Farel berusaha menenangkan diri dengan berpikir apa yang harus ia lakukan agar tidak kepergok oleh Pak Bagas. Beberapa langkah lagi Pak Bagas mendekati tempat persembunyian Farel, tiba-tiba seorang wanita memanggil Pak Bagas.


"Pak Bagas!" panggil wanita itu yang tidak lain adalah Yumna.


Farel ikut menoleh ke arah Yumna. 'Syukurlah si maung kecil datang,' gumam Farel dengan perasaan yang lega.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2