
Setelah melakukan hubungan badan di bathroom, mereka pun mandi. Selesai bersih-bersih mereka pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah Nek Aminah. Sebelum pulang, mereka membeli oleh-oleh untuk Nek Aminah dan tetangganya.
Di mobil ....
"Sayang, sepertinya lusa kita harus pulang ke Buana Home. Aku tidak bisa cuti terlalu lama. Kasihan Grandpa jika harus menghandle pekerjaanku," ujar Kivandra seraya menyentuh tangan istrinya dengan lembut.
"Iya, Mas. Aku terserah Mas saja." Naya tersenyum manis pada suaminya.
****
Setelah kurang lebih 2 jam, Naya dan Kivandra pun telah sampai di kediaman Nek Aminah. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan. Sebelum mereka masuk ke rumah, mereka menurunkan 2 kotak besar yang berisi ikan-ikan segar yang akan diberikan kepada Nek Aminah beserta tetangganya.
Kivandra mengangkat kedua kotak besar itu dan membawanya ke rumah. Sedangkan Naya, dia yang membukakan pintu rumahnya. "Assalamu'alaikum, Nek. Naya sama Mas Kivan pulang," ucap Naya dengan lantang.
Setelah mendengar itu, Nek Aminah pun datang menghampiri cucunya. "Wa'alaikumsalam, kalian sudah pulang. Nak Kivan, kotak apa itu?" tanya Nek Aminah.
"Ini ikan, Nek. Sebelum pulang, kami beli ikan untuk Nenek dan untuk tetangga Nenek," jawab Kivandra.
"Biar Nenek yang bawa, Nak."
"Eh, tidak perlu. Ini berat, Nek. Biar Kivan saja yang bawa dan menyimpannya di dapur." Kivandra membawa dua kotak itu ke dapur.
Sementara itu, Naya dan Nek Aminah pergi ke ruang tengah. "Nek, besok lusa aku akan kembali ke Buana Home. Nenek tidak keberatan 'kan jika Naya pulang sama Mas Kivan?" Naya memeluk lengan neneknya.
"Hei, tentu saja tidak. Dia 'kan suamimu. Pulanglah, jangan cemaskan Nenek. Nenek akan baik-baik saja, Nenek juga akan selalu mengabarimu. Hanya ada beberapa pesan yang harus kau ingat selalu. Kau harus menjadi istri yang penurut, yang sayang sama suami, jangan menolak apapun yang suamimu inginkan. Layani dia sebagai mestinya, dampingi suamimu dalam keadaan apapun. Kau akan ingat selalu pesan Nenek 'kan?" Nek Aminah mengelus lembut kepala cucunya.
"Itu pasti, Nek. Naya akan selalu ingat pesan Nenek ini." Naya memeluk Nek Aminah dengan erat.
****
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Malam berganti pagi, hari berganti hari. Kini Naya dan suaminya sedang bersiap-siap untuk pulang ke Buana Home. Sebelum pulang, Kivandra menyelipkan sebuah cek yang nominalnya kurang lebih 35 juta kepada Nek Aminah.
"Nak Kivan, ini cek apa?" tanya Nek Aminah dengan wajah yang kebingungan.
"Kivan ada rezeki, aku ingin memberikan sedikit rezeki untuk Nenek. Terserah Nenek mau pakai untuk apa uang ini. Intinya Kivan mau Nenek menerima uang ini ya," jawab Kivandra dengan mencium punggung tangan nenek istrinya.
"Tapi, Nak Kivan. Uang ini terlalu banyak."
"Tidak apa-apa, Nenek bisa Menyimpannya di tabungan Nenek. Biar nanti seketika Nenek sedang membutuhkan uang, Nenek tinggal ambil uangnya," timpal Kivandra.
__ADS_1
"Ya Allah, Nak. Baik banget, semoga Allah limpahkan rezeki yang berlipat ganda ya. Nenek berdoa yang terbaik untukmu dan Buana Family," ucap Nek Aminah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Do'ain Kivan ya, Nek. Semoga Kivan bisa segera menjadi seorang ayah. Kivan menginginkan 6 orang anak dari rahimnya Naya," celetuk Kivandra.
Uhuk! Uhuk!
Naya terbatuk-batuk begitu mendengar celetukan suaminya. Wajahnya kembali merona mendengar kata anak. Dia malu jika suaminya mengatakan itu pada neneknya.
"Sayang, kenapa kau tiba-tiba terbatuk? Aku ambilkan air ya." Kivandra hendak mengambil air tapi lengannya ditarik oleh Naya.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, keburu panas nanti," ucap Naya dengan mengalihkan pembicaraan.
"Iya udah, ayo. Nek kami berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum."
"Naya berangkat ya, Nek. Assalamu'alaikum," ucap Naya berpamitan dengan neneknya.
"Wa'alaikumsalam, kalian hati-hati di jalannya. Kabari Nenek jika sudah sampai rumah."
"Iya, Nek."
****
Saat ini dia sedang mengotak-atik ponselnya untuk mencari tahu, siapa orang yang telah menyuruh Yumna datang ke Buana Home dan apa kira-kira tujuannya. Farel sedang memastikannya dengan panggilan video. Begitu panggilannya tersambung, alangkah terkejutnya dia kata saat melihat seorang wanita yang wajahnya tidak begitu asing baginya.
Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah mantan tunangan Kivandra, yaitu Alice. Seketika saat itu juga, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Dia tidak ingin Alice mengetahui jika dialah yang menghubunginya.
"Apa rencana Alice dengan mengirim mata-mata ke Buana Home? Apa ini demi mencari informasi mengenai Tuan muda? Ya, sepertinya dia mengirim Yumna untuk berniat buruk ada Tuan muda dengan Nona muda. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Aku harus memberi tahu Tuan muda agar lebih berhati-hati lagi," gumam Farel.
Tanpa berlama-lama lagi, Farel segera menghubungi Tuan muda Kivandra untuk memberi tahu masalah yang terjadi di rumahnya. Tak lama kemudian telepon pun diangkat oleh Kivandra. Farel memakai earphone sebelum bicara dengan tuannya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Tuan muda," sapa Farel setelah telepon tersambung.
"Hallo, Rel. Ada apa?" tanya Tuan muda Kivandra dari seberang telepon.
"Ada yang ingin saya sampaikan, ini masalah serius."
"Soal apa? Apa ini menyangkut Grandpa?" tebak Kivandra.
__ADS_1
"Bukan, Tuan muda. Tapi, ini mengenai Alice."
"Alice? Kenapa lagi dengan wanita itu?"
"Apa saat ini Nona muda sedang bersama Tuan muda?"
"Iya, saya sedang bersama istriku. Kami sedang di jalan menuju Buana Home,"
"Tuan sedang di jalan. Maafkan saya Tuan muda, aku akan sampaikan ini setelah Tuan muda sampai di rumah saja. Bahaya jika menyetir sambil telponan. Hati-hati di jalan, Tuan muda."
"Ada denganmu, Rel? Aneh sekali. Akan kututup telponnya. Kita bicara saat aku sampai saja. Tutt!" Kivandra memutuskan sambungan teleponnya.
Telepon terputus!
Pada saat Farel tengah bicara di telepon dengaan tuannya, Yumna diam-diam menguping dari balik pintu. Sebenarnya dia tidak sengaja menguping tapi pas dia berjalan melewati kamar Farel, dia mendengar nama Tuan muda Kivandra. Saat itu juga dia langsung menguping pembicaraan Farel.
Mengetahui Kivandra akan segera pulang, dia pun cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk menyampaikan berita ini pada bosnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alice. Begitu sampai di kamarnya, Yumna mengunci pintu rapat-rapat. Dia berjalan ke ranjangnya dan menelpon Alice.
Telepon terhubung!
"Hallo, Nyonya."
"Ada apa? Apa kau ada berita penting tentang Kivanku?" terdengar suara Alice dari seberang telepon.
"Iya, Nyonya. Aku punya berita gembira buat Nyonya,"
"Apa itu?"
"Tuan muda Kivandra sedang berada di perjalanan menuju Buana Home."
"Apa? Kau yakin?" terdengar Alice seperti sedang terkejut.
"Iya, Nyonya. Aku mendengarnya dengan jelas di kedua telingaku jika Tuan muda akan pulang hari ini."
"Kalau begitu, aku ada tugas yang harus mau lakukan."
"Apa itu, Nyonya?"
"...."
__ADS_1
****