
Pagi Hari ...
Seperti biasanya, setiap pagi semua orang beraktivitas. Mulai dari yang menyiapkan sarapan, memandikan si kembar dan juga mencuci mobil. Aktivitas itu selalu dilakukan oleh para pelayan Kivandra. Sementara itu, sang pemilik rumah masih bersantai di kamarnya.
Ceklek!
Pintu kamar Mami Thalia terbuka. Keluarlah Mami Thalia yang sudah berpakaian olahraga. Sudah bisa dipastikan jika Mami Thalia akan berolahraga. Namun, olahraga kali ini berbeda dari biasanya. Mami Thalia kali ini ingin melakukan yoga di halaman belakang tepatnya tak jauh dari kolam renang.
Sebelum pergi, Mami Thalia berjalan menuju kamar menantunya. Begitu sampai di kamar sang menantu, Mami Thalia mengetuk pintunya sebanyak tiga kali. Namun, ditunggu punya tunggu Naya tidak kunjung membukakan pintu. Alhasil, Mami Thalia kembali mengetuk pintu kamarnya.
Sayangnya, setelah pintu diketuk beberapa kali, Naya tak juga membukakan pintunya. Karena penasaran, Mami Thalia memutuskan untuk membuka pintu dan masuk. Karena tidak biasanya Naya masih berada di kamar di jam-jam seperti ini. Yang ia takutkan adalah, Naya sakit.
Begitu menginjakkan kakinya di kamar sang menantu, Mami Thalia melihat sekeliling. Ia mengerutkan keningnya, karena kedua matanya tidak bisa menemukan sang menantu. Benar, saat ini di kamar Naya kosong tak ada orang.
"Loh, ke mana mereka? Apakah mereka pergi? Tapi, pergi ke mana sepagi ini?" Mami Thalia bermonolog dalam lamunannya.
"Ah, sudahlah. Mungkin mereka pergi jogging. Sebaiknya aku turun dan tanyakan pada Farel dan Yumna saja," ucapnya seraya keluar dari kamar sang menantu.
Tidak lupa, Mami Thalia menutup kembali pintunya. Kemudian ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Tinggal beberapa anak tangga lagu, tiba-tiba Mami Thalia mendengar suara telepon rumah. Ia mempercepat langkahnya menuju telepon dan mengangkatnya.
"Hallo," ucapnya begitu gagang telepon menempel di telinga kanannya.
"Hallo, Mami. Ini Kivan," tedengar suara Kivandra di seberang telepon.
"Kivan, kenapa kamu telepon ke telepon rumah?" tanya Mami Thalia dengan keheranan.
"Habisnya nomor istriku susah sekali di hubungi. Bisa Mami panggilkan Naya? Kivan mau bicara,"
"Sebentar ... jadi, kamu tidak sedang bersama Naya?" alih-alih memanggilkan sang menantu, Mami Thalia justru balik bertanya. Karena ia tidak bisa menemukan Naya di kamarnya.
"Tidak, Mi. Semalam Kivan pergi ke Buana Home. Dan semalam Naya tidak ikut."
"Naya tidak ada di rumah, Kivan. Kalau tidak percaya kamu pulang dan periksa sendiri saja. Mami sudah mencarinya di kamarmu tapi tidak ada. Sebenarnya, apa yang membuatmu semalam pergi ke Buana Home? Apa ada masalah?"
"Ceritanya panjang, Mi. Sekarang gini aja, Mami suruh Farel dan Yumna untuk memeriksa setiap sudut ruangan. Sekarang juga Kivan pulang,"
__ADS_1
"Okay, kamu cepat pulang!"
"Iya, Mi. Tutt!" panggilan telepon pun terputus.
Mami Thalia meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. "Farel! Yumna!" Mami Thalia dengan cepat memanggilnya Farel dan Yumna dengan suara yang lantang.
Tak lama kemudian, Farel dan Yumna menunjukkan batang hidungnya di hadapan Mami Thalia. "Iya, Nyonya."
"Saya mau tanya, apa kalian melihat menantuku pagi ini?" tanya Mami Thalia untuk memastikan.
"Tidak, Nyonya. Pagi ini saya bangun lebih awal tapi Nyonya Naya tidak ada," jawab Yumna.
"Saya juga tidak melihatnya, Nyonya. Apa mungkin Nyonya Naya masih berada di kamarnya?"
"Tidak, Rel. Saya sudah memeriksa kamarnya, tapi tidak ada. Saya mau kalian cari Naya sekarang juga. Periksa setiap sudut ruangan di rumah ini!" perintah Mami Thalia.
"Baik, Nyonya."
Tanpa berlama-lama, Farel dan Yumna segera menyisir setiap ruangan. Sedangkan Mami Thalia pergi ke ruang CCTV untuk melihat rekaman semalam. Namun, sesampainya di ruang CCTV, Mami Thalia justru dibuat terkejut dengan tergeletaknya sang penjaga CCTV.
Karena penjaga bernama Hilman ini tak kunjung bangun, Mami Thalia berdiri dan menyambar segelas air yang berada di meja. Setelah itu, ia menyiramkan air tersebut ke wajah Pak Hilman. Dan benar saja, cara ini cukup berhasil membangunkan Pak Hilman. Melihat itu, Mami Thalia melipat kedua tangan di dada disertai dengan tatapan yang sinis.
"Bagus kau sudah bangun, Pak Hilman! Sekarang, katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mami Thalia.
"Semalam ...."
{Flashback ....
Pak Hilman yang sedang asyik menyeruput kopi dan juga gorengan tiba-tiba melihat rekaman CCTV yang merekam sebuah mobil mencurigakan. Beberapa orang keluar dari mobil itu dan memukuli security sampai pingsan. Kemudian mobil hitam itu masuk dan berhenti di depan rumah.
Dua orang pria berpakaian serba hitam dengan memakai masker keluar dari mobil dan menghampiri Naya yang saat ini berdiri di depan rumah. Tentu, melihat itu Naya bergegas pergi untuk masuk kembali ke rumah. Sayangnya Naya berhasil dihadang dan dibekap sampai akhirnya tak sadarkan diri. Dengan begitu, kedua pria itu dengan mudah menggendong tubuh Naya dan memasukkannya ke dalam mobil.
Setelah itu, mobil hitam pergi dengan kecepatan tinggi. Pak Hilman yang melihat plat mobil itu pun segera mencari kertas dan pulpen. Ia berniat untuk mencatat plat nomor mobil tersebut. Namun, pada saat ia sedang sibuk mencari pulpen dan kertas tiba-tiba seseorang masuk dan menghantam kepalanya. Hingga akhirnya pandangan Pak Hilman menjadi gelap dan jatuh pingsan}.
"Apa kau masih ingat plat nomor mobilnya?" tanya Mami Thalia.
__ADS_1
"Saya tidak ingat, Nyonya. Saya minta maaf,"
"Bodoh! Bagaimana bisa kau melupakan hal sepenting itu! Saya tidak mau tahu, sekarang tunjukkan rekaman semalam!" hardik Mami Thalia dengan nada kesal.
"Baik, Nyonya." Pak Hilman duduk di kursinya dan hendak memutar rekaman semalam.
Begitu rekaman di putar, Mami Thalia menarik satu kursi dan duduk di sebelah Pak Hilman. Ia melihat rekaman itu dengan seksama. Namun, ada durasi yang hilang. Pak Hilman yang mengetahui itu tentu terleranjat dari duduknya dengan mata yang membela lakukan.
"Nyonya, saya yakin jika rekaman itu masih ada. Dan saya melihatnya dengan jelas," jelas Pak Hilman.
"Sudahlah. Lain kali, jangan ceroboh! Saya sudah tahu siapa pemilik mobil itu," ujarnya dengan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Mami Thalia berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Setelah itu, ia berlari menuju basement. Sesampainya di basement, Mami Thalia masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pada saat ia hendak keluar dari kediaman sang putra, ia melihat mobil Kivandra masuk. Sejenak ia menghentikan mobilnya dan membuka kaca mobilnya. Begitupun dengan Kivandra. Ia juga membuka kaca mobilnya.
"Kivan, Mami sudah tahu di mana Naya. Mami akan pergi menjemputnya,"
"Biar Kivan saja, Mi. Mami sebaiknya ke rumah sakit."
"Ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?"
"Grandpa, Mi. Beri tahu Kivan di mana Naya berada,"
"Apa?" Mami Thalia terkejut bukan main. "Apa yang terjadi pada, Daddy?" tanya Mami Thalia dengan panik.
"Semalam ada penyusup di Buana Home dan melukai Grandpa. Untungnya Pak Arman dengan sigap membantu Grandpa dan dilarikan ke rumah sakit. Itu alasan Kivan pergi ke Buana Home malam tadi. Pokoknya ceritanya panjang, akan Kivan beri tahu nanti. Sekarang Kivan harus mencari Naya."
"Bagaimana mungkin ada penyusup? Bukankah di Buana Home selalu ketat penjagaannya?"
"Sepertinya ada orang dalam yang terlibat, Mi. Mi, ayolah Kivan harus mencari Naya, Kivan takut dia kenapa-kenapa. Beri tahu Kivan, di mana Naya berada?" Kivandra menatap Mami Thalia dengan mata yang menunjukkan kecemasan.
"Saat ini, Naya ada di ...."
****
__ADS_1
Stay tune :)