
Kediaman Alice ....
Sesampainya di rumah Alice, Nero dengan sang pemilik rumah bergegas menuju ke ruang keluarga. Mereka sudah tidak merasa canggung sama sekali. Kedekatan sang duda dengan mantan tunangan Kivandra membuat keduanya merasa memiliki hubungan layaknya seorang ayah dan anak.
Meski begitu, Nero dan Alice ini pernah melakukan suatu kesalahan fatal yang membuat pernikahan sang duda dengan Thalia hancur. Benar, secara sembunyi-sembunyi mereka melakukan hubungan terlarang di belakang Thalia. Saat itu, Alice memang berstatus tunangannya Kivandra akan tetapi perasaan cinta itu belum muncul sehingga ia mudah tergoda dengan pria lain termasuk ayah tunangannya sendiri.
Itulah yang membuat seorang Kivandra sangat membenci ayahnya sendiri. Baginya, Nero adalah ayah yang buruk. Bahkan Nero tidak pantas dipanggil dengan sebutan Papi. Karena pada dasarnya, seorang ayah tidak akan mengkhianati putranya sendiri dengan menggoda tunangannya.
Sejak saat itulah hubungan Thalia dan Nero menjadi kandas. Bukan hanya itu, hubungan Kivandra dan Alice juga kandas dengan membatalkan pernikahan mereka. Bagaimana tidak, Alice bukan hanya mengkhianati Kivandra dengan berselingkuh dengan sang ayah melainkan juga dengan sahabat kecil Kivandra sendiri. Sangat wajar jika Kivandra marah besar dan mengakhiri hubungan yang sudah tidak sehat itu.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu di saat Kivandra sudah move on dan menikahi gadis lain, Alice muncul di kehidupan Kivandra dan kembali menggodanya bahkan meneror keluarga kecil Kivandra. Alice yang dulu telah menyia-nyiakan Kivandra atas dasar tergiur harta milik ayahnya, kini berubah dengan bertumbuhnya benih-benih cinta di hatinya. Kini Alice sudah sangat terobsesi pada Kivandra sehingga dia bertekad untuk merebut Kivandra dan berpikir jika hanya dia lah yang berhak memilikinya.
Kembali ke topik pembicaraan Nero dan Alice. Saat ini mereka sedang duduk bersebelahan. Kedua mata mereka saling bertatapan beberapa detik sebelum memulai pembicaraan.
"Alice, apa kamu sudah mengetahui kabar kalau istri kampungan putraku akan memulai bisnis baru?" tanya Nero.
"Bisnis? Bisnis apa, Om?" alih-alih menjawab, Alice justru balik bertanya pada Nero.
"Jadi benar kamu tidak mengetahuinya?"
"Belum, Om. Alice belum mengetahui kabar ini. Sepertinya si kecebong Yumna telah mengkhianatiku. Aku belum mengirim mata-mata lagi saat ini. BTW, Om tahu kabar ini dari siapa? Apa Om menemui Kivan?"
"Tentu tidak. Saya telah mengirim seseorang ke Buana Home. Dan orang suruhanku itu akan menghancurkan rumah tangga putraku. Akan kupastikan putraku menjauh dari wanita kampung itu!" tegas Nero dengan penuh keyakinan.
"Alice pun berharap seperti itu, Om. Tapi, selama ini misi Alice selalu gagal dan gagal. Tapi, Alice ada ide untuk membuat mereka salah paham dah hilang rasa kepercayaan mereka." Alice tersenyum penuh teka-teki.
"Apa itu, Sayang?"
__ADS_1
"Oh my god. Om menggodaku lagi?" Seketika Alice terkejut sembari menutup mulutnya serta kedua matanya terbelalak setelah mendengar sang duda memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Anak manis." Nero mengedipkan matanya seraya mencolek dagu Alice.
Kemudian Nero menggeser duduknya sehingga tubuhnya cukup dekat dengan Alice. Dengan cepat Nero mendekatkan bibirnya ke telinga Alice serta membisikkan sesuatu. "Apakah kamu tidak merindukan sentuhanku, Honey? Kebetulan cuaca lagi dingin, jika kamu mau kita bisa melakukannya lagi. Setelah itu, akan kuberi tahu misiku," goda Nero dengan memancing Alice agar mau melakukan hubungan intim dengannya.
'Dasar duda gatal! Jika bukan karena misi, sudah aku tendang dia dari rumahku!' gerutu Alice dalam batinnya.
"Ini sudah larut, Om. Kita bicarakan masalah ini nanti. Aku hanya ingin mengetahui misi Om saja," ujar Alice dengan nada yang menolak.
Mendengar nada penolakan dari Nero membuat sang duda terlihat kecewa. Dengan sigap ia menarik tubuh Alice ke dalam dekapannya. "Ingat, Alice! Bahwa saya tidak suka penolakan. Jika sekali saja kamu menolak, maka aku tidak akan membantumu dan aku bisa melakukan apa pun padamu!" Nero mengancam Alice dengan mata yang menatap tajam.
Gleuk!
Alice tertegun begitu mendengar ancaman Nero. Ia tahu, pria seperti apa Nero ini. Jika pria itu sudah mengeluarkan kata-kata tersebut, itu artinya Nero tidak main-main. Dan sesuatu hal buruk akan menimpanya.
"Katakan!"
Alice mendekatkan bibirnya di telinga Nero. "Jika Om ingin kenikmatan sesaat, maka lakukan hal ini dengan menantu kampungmu itu. Sebab, gadis itu masih pabrikan belum di modif apa-apa. Alice bisa jamin itu, Om akan menyukai tubuh Naya," jelas Alice yang tak mau kalah liciknya dari Nero.
"Apa? Sudah gila kamu! Mana mungkin saya berhubungan intim dengan menantu kampung itu!"
"Om yakin? Apa Om sudah melihat seperti apa seorang Kanaya itu, heum?" tanya Alice dengan suara manjanya sambil meniup manja leher sang duda.
"Oh, Alice. Hentikan itu dan tunjukkan seperti apa Naya!" Rupanya Nero belum mengetahui tentang Naya. Ia hanya tahu dari cerita orang suruhannya saja.
"Okay, akan kuperlihatkan. Sebaiknya Om jagain burungnya agar tidak meronta-ronta nantinya," kekeh Alice dengan mengejek Nero sebagai candaan.
__ADS_1
"Perlihatkan saja! Jangan membuatku penasaran!"
"Baiklah, sepertinya Om ini sudah tidak sabar ingin melihat menantumu itu," ledek Alice seraya mengambil ponsel yang tengah berada di meja.
Selang beberapa menit, Alice berhasil mendapatkan foto Naya dengan full body. Tak membuang waktu lebih banyak lagi, Alice menunjukkan foto Naya melalui ponselnya kepada Nero. Dengan cepat, Nero mengambil ponsel Alice dan melihatnya sendiri soal menantunya.
Gleuk!
Setelah menatap foto Kanaya beberapa detik, kini berhasil membuat sang duda terpikat. Matanya yang berbinar disertai sapuan lidah dengan menyapu bibirnya sendiri. Tak lama setelah itu, tatapannya mulai nakal dengan melihat foto Naya pada area tertentu. Sehingga membuat burungnya berontak.
"Aaww!" Reflek Alice meringis ketika Nero mer*mas salah satu bukitnya.
Karena sudah tidak tahan lagi menahan b*r*hi yang kian memuncak, membuat seorang Nero menaruh ponsel itu dan menarik tubuh Alice ke salah satu kamar tak jauh dari ruang keluarga. "Kamu harus tanggung jawab, Alice! Kamu telah memancing saya seperti ini!" ucap Nero dengan suaranya yang berat.
"Lho, kenapa harus saya, Om? 'Kan Om sendiri yang mau lihat, harusnya Om culik Naya dan s*tubuhi wanita itu!" Alice mencoba untuk berontak, akan terapi tenaga Nero lebih kuat.
"Sudahlah, jangan munafik. saya juga yakin kalau kamu butuh servis'an 'kan. Saya tahu, wanita seperti apa kamu. Jadi, jangan jaim dan mari kita bersenang-senang." Nero tersenyum sinis sembari membuka pakaiannya secara satu persatu.
Mendengar itu, Alice tidak berkutik sedikitpun. Karena memang benar jika ia merupakan wanita kesepian. Ia paling tidak bisa menahan sesuatu itu. Akan tetapi, sekarang Alice sudah mulai berubah semenjak benih cinta terhadap Kivandra muncul.
"Tapi, Om. Sekarang Alice sudah berubah. Alice mencintai Kivan, Alice tidak mau melakukan kesalahan untuk yang ke sekian kalinya," tutur Alice dengan nada yang menolak.
"Kelamaan! Sini, kamu!" Nero yang saat ini tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun mulai membuka paksa semua pakaian Alice.
"Ah, tidak! Jangan lakukan itu lagi, Om!" teriak Alice dengan sedikit m*ndes*h akibat permainan benda lunak di area privasinya.
****
__ADS_1
Stay tune :)