
Sesampainya di lokasi, Kivandra bersama istrinya dan juga Yumna keluar dari mobil dan berjalan memasuki restoran yang sudah dibeli sang kakek. Kivandra tampak biasa aja melihat restoran tersebut, sebab ia sudah terbiasa melihat model restoran seperti itu. Berbeda dengan Naya. Ia terlihat begitu senang karena restoran itu sesuai dengan yang ia harapkan. Ia sudah bisa membayangkan akan seperti apa restorannya nanti setelah di buka.
Namun, sebelum itu ia harus membeli beberapa barang untuk menghias restoran tersebut sekaligus membeli peralatan memasak dan barang-barang lainnya. Bukan hanya itu saja, Naya harus merekrut beberapa pegawai yang akan bekerja di restorannya nanti. Saat ini Naya, Kivandra dan Yumna sedang berjalan menyisir setiap sudut restorannya.
Sehingga tanpa mereka sadari, ada seorang pria dengan perawakan tinggi dan juga kekar sedang memperhatikan aktivitas mereka bertiga. Bukan hanya itu, pria tersebut juga mengabadikannya dalam sebuah kamera yang tengah ia pegang. Tentu hal itu sangat mudah karena pria tersebut dapat melihat mereka bertiga dengan leluasa tanpa memasukinya, sebab restoran itu dilapisi kaca. Sehingga aktivitas di restoran tersebut dapat terlihat.
Setelah menjepret beberapa foto, pria itu berjalan menjauh dari restorannya dan masuk ke mobil yang terparkir tak jauh dari mobil Kivandra. Kemudian, ia memeriksa hasil jepretannya sebelum ia mengirimkannya kepada sang Bos. Tak lama kemudian, setelah foto itu dikirim, sang Bos menghubunginya. Dengan cepat pria itu mengangkat teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Bos," sapa pria misterius itu setelah telepon tersambung.
"Cepat share lok di mana putraku berada! Jangan sampai saya melewati kesempatan emas ini!" perintah Bosnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nero.
"Baik, Bos. Akan saya sharelok."
"Okay, saya tunggu sekarang juga. Tutt!" ujar Nero sembari mengakhiri pembicaraannya.
Telepon terputus!
****
Nero Home ...
Ting!
Sebuah pesan masuk yang membuat sang duda bergerak cepat untuk menyambar ponselnya yang berada di meja kerja. Begitu ponsel berada di genggamannya, Nero langsung membuka pesan tersebut. Beberapa detik kemudian, setelah ia membuka pesannya, ia pergi meninggalkan ruang kerjanya dan pergi menuju basement untuk mengambil mobil.
Sesampai di basement, Nero langsung masuk dan tancap gas menuju tempat yang anak buahnya share. Hatinya sudah sangat menggebu-gebu karena sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan putranya. Selain itu, ia juga sangat penasaran dengan sang menantu. Ia ingin tahu, secantik dan semenarik apa Kanaya itu, sehingga membuat Alice bisa mengatakan seperti itu?
Dengan pikirannya yang ke mana-mana membuat sang duda ini sangat tidak sabar dan terus menambah kecepatan mobilnya. Sehingga beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di lokasi. Nero tidak langsung keluar dari mobil, melainkan ia mengamati kondisi di sekitarnya. Tak menunggu waktu yang lama, tiba-tiba Naya keluar dari restoran dan berjalan menuju mobilnya.
Nero yang melihat itu, tentu langsung bergerak cepat. Ia keluar dari mobil dengan senyuman yang penuh arti. Dengan cara berjalannya yang gagah dan ekspresinya yang arrogant serta tatapan yang genit mulai mendekati sang menantu. Naya tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang menghampirinya. Wanita itu hanya sibuk mencari sesuatu di dalam mobilnya. Entah apa yang ia cari.
"Ekhem!" Nero berdehem setelah berada di belakang Naya.
Sontak Naya terkejut sehingga kepalanya terjedak. "Aduh." Naya meringis seraya memegangi kepalanya.
Kemudian ia membalikkan badannya. Ia menoleh ke arah deheman itu. Tatapan Naya yang polos dan indah membuat sang duda terdiam membisu. Beberapa detik Nero memandang menantunya dengan tatapan yang tak biasanya.
__ADS_1
'Belum pernah saya temukan wanita semenarik ini. Tatapannya begitu lembut, ternyata memang benar jika menantaku ini wanita yang menarik. Pantas saja putraku menyukainya,' Nero bermonolog dalam lamunannya.
"Permisi. Bapak ini siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Naya tanpa mengetahui jika pria yang ada di hadapannya adalah ayah mertuanya.
"Hallo, cantik. Perkenalkan, saya Nero." Nero tersadar dari lamunannya dan mengulurkan tangan kepada sang menantu.
"Saya Kanaya." Naya berjabat tangan.
Setelah berkenalan, Nero tidak langsung melepaskan tangan Naya. Membuat Naya merasa risih dan tidak nyaman pada saat melihat tatapan genit sang duda ini. Ia mencoba melepaskan tangan pria itu, akan tetapi Nero memegangnya sangat erat.
"Maaf, Pak. Saya harus pergi," ucap Naya tanpa mengurangi rasa hormat.
Nero tidak mempedulikan ucapan sang menantu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, bagaimana caranya ia bisa mencicipi tubuh menantunya. Meski ia tahu Naya adalah istri dari putranya, tetap saja ia penasaran.
'Aku akan mengulangi kesalahan itu sama seperti yang aku lakukan pertama kali dengan Alice, tunangan putraku,' batin Nero disertai senyuman nakal.
"NAYA!" panggil Kivandra dengan suara yang tegas.
Kivandra berjalan menghampiri istrinya yang saat ini sedang berjabat tangan dengan Nero. Nero adalah pria yang sangat ia benci sedari dulu. Ia sangat yakin jika papinya ini punya niat lain pada istrinya. Sehingga, tangan kekar Kivandra melepas paksa tangan Nero dan menarik tangan Naya. Kemudian ia membawa sang istri masuk ke restorannya kembali.
Tentu, Naya yang melihat kekesalan di wajah suaminya merasa keheranan. Sebelumnya ia tidak pernah melihat reaksi suaminya sekesal ini ketika melihat ia berjabat tangan dengan orang lain. Tapi, entah kenapa setelah ia berjabat tangan dengan pria matang bernama Nero membuat suaminya kesal.
"Mas marah sama Naya?" tanya Naya dengan pelan.
Gleuk!
Naya menelan salivanya dan langsung duduk begitu Kivandra menyuruhnya duduk. Mengetahui jika suaminya sedang marah, Naya hanya bisa menundukkan kepala tanpa mau mengangkat kepala apalagi menatap mata suaminya. Sebab, jika suaminya sedang marah itu terlihat sangat mengerikan.
"Angkat kepalamu dan lihat aku!"
Naya segera mengangkat kepalanya dan juga menatap kedua mata suaminya yang sudah berubah menjadi merah pekat. Bukan hanya matanya yang berubah, akan tetapi wajahnya pun berubah merah padam seperti menahan amarah. Kivandra menggenggam kedua tangan Naya dan menghembuskan napasnya yang kasar.
"Dengarkan aku, Naya! Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria genit itu!" ujar Kivandra dengan tegas.
"Mas cemburu?" alih-alih menjawab, Naya justru balik bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Ini bukan soal cemburu tapi lebih dari itu! Kamu tidak tahu siapa pria itu,"
"Kalau tidak salah tadi Bapak itu bilang kalau namanya Nero," timpal Naya dengan polosnya.
__ADS_1
"I know. Tapi, kamu tidak tahu pria seperti apa dia." Kivandra mengalihkan tatapan istrinya yang begitu polos dengan menatap ke sembarangan arah.
"Apa Mas mengenalnya?"
"Sudahlah, jangan tanyakan itu. Kamu tidak akan mengerti. Kamu terlalu polos jadi orang." Kivandra melepaskan kedua tangan sang istri.
"Yumna! Ayo kita pulang, ajak istriku! Aku tunggu di mobil!" teriak Kivandra seraya berjalan meninggalkan Naya.
"Baik, Tuan."
"Aneh sekali. Tadi dia baik-baik saja, tapi sekarang ... kenapa dia marah? Dasar bunglon!" celetuk Naya dengan pelan sembari melihat kepergian suaminya.
"Bunglon? Apa Nyonya melihat di sini ada bunglon?" sahut Yumna setelah berada di sebelah Naya.
"Iya, Yumna."
"Di mana?"
"Bunglonnya baru aja pergi. Udah yuk, kita pulang." Naya mengajak Yumna untuk pulang.
"Iya, Nyonya. Mari." Yumna mempersilakan Naya untuk berjalan lebih dulu.
Sementara itu, ia berjalan di belakang Naya. Tidak lupa, sebelum pergi, Yumna mengunci restorannya dulu. Setelah beberapa langkah menuju mobil, tidak sengaja ia melihat Nero di seberang jalan dengan tatapan yang misterius.
Deg!
Seketika jantung Yumna tiba-tiba berdegup kencang. Bagaimana tidak, ia tahu siapa pria itu dan seperti apa dia. Tak mau berlama-lama, Yumna mempercepat langkahnya dan masuk mobil.
Di dalam mobil, Yumna terdiam dengan wajah yang pucat. Ia tidak ingin insiden buruk kembali terjadi seperti insiden Kivandra dengan Alice. Ia berharap semoga, hubungan Kivandra dan Naya baik-baik saja.
Melihat wajah Yumna yang pucat dan sedikit bergetar membuat Kivandra dan Naya bertanya secara bersamaan.
"Kamu kenapa?" tanya Naya dan Kivandra bersamaan.
Mereka saling menatap satu sama lain. Namun, Kivandra segera menoleh ke belakang ke arah Yumna. "**-tadi, Tuan. Ss-saya melihat ada Pak Nero," jawab Yumna dengan gelagapan.
"Sudah cukup! Jangan katakan apa pun lagi tentang pria itu!" bentak Kivandra dengan ekspresi yang marah.
Dengan penuh rasa kesal, Kivandra segera melajukan mobilnya. Sedangkan Naya dan Yumna hanya saling menatap melihat perubahan Kivandra. 'Sebenarnya suamiku kenapa? Lagian siapa sih pria itu, sehingga membuat mood suamiku hancur?' batin Naya bertanya-tanya.
__ADS_1
****
Stay tune :)