
Begitu sampai di hotel, Kivandra langsung menempelkan card pada sensor pintunya. Kemudian Kivandra menarik lengan Naya dan membawanya masuk. Sedangkan Farel, dia pergi ke kamarnya.
"Duduk!" pekik Kivandra pada Naya.
Naya malas untuk berdebat, dia pun menuruti perintah suaminya. Naya enggan menatap Kivandra, matanya malah tertuju pada gordyn. "Naya!" panggil Kivandra sembari duduk di hadapan Naya dengan bertumpang kaki.
"Apa atuh manggil-manggil Naya terus? Kenapa sih Tuan Muda teh selalu marahin Naya? Apa Naya membuat kesalahan?" Naya bertanya dengan menyorotkan matanya yang kesal.
"Jelas saya marahin kamu karena kamu telah membuat kesalahan yang fatal!" timpal Kivandra dengan ketus.
__ADS_1
"Hah? Naya enggak salah dengar? Bukankah Tuan muda yang membuat kesalahan dengan menurunkan Naya di tengah jalan? Apakah Tuan muda tidak punya hati? Di mana hati nurani Tuan muda? Bagaimana Tuan muda bisa setega itu, meninggalkan gadis 19 tahun di negara asing seperti ini? Naya takut, Naya sangat ketakutan tadi." Naya meneteskan air matanya.
"Ya, kamu benar! Saya memang tidak punya hati nurani. Jadi stop berharap dan membuat hati saya luluh karena sampai kapanpun juga usahamu akan sia-sia! Air mata buayamu itu tidak akan membuat seorang Kivandra luluh dengan mudah. Bisa"nya kamu menangis setelah apa yang kamu lakukan." Kivandra berpindah posisi. Dia mendekati Naya.
Kivandra mendekatkan wajahnya pada Naya. "Berani sekali kamu mengakui jika kamu adalah istriku! Jika sampai saya telat datang mungkin temanku itu akan mengetahui tentang pernikahan palsu ini!" tutur Kivandra di depan wajah Naya.
"Ih Tuan muda mau ngapain, jangan dekat-dekat Naya! Naya teh tidak sudi menikah dengan Tuan muda apalagi berharap. Naya hanya berhutang budi pada Tuan Liam dan Ibu Thalia. Tuan muda jangan geer! Naya tidak pernah mengakui pernikahan palsu ini! Minggir!" Naya mendorong pelan dada bidang Kivandra.
Naya mulai ketakutan melihat kemarahan di mata suaminya terlebih lagi perlakuan kasarnya membuatnya ingin menangis. "Hiks hiks. Naya teh memang gadis kampung, tapi Naya juga punya hati. Naya sadar diri akan hal itu. Asal Tuan muda tahu saja, sedikitpun Naya tidak pernah mengharapkan identitas palsu ini. Naya tidak pernah mau. Jangan menghina Naya seperti itu, Naya juga sama seperti gadis lain. Naya punya hati, jika Tuan muda membenci Naya, Tuan muda bisa menjauhi Naya. Asalkan jangan menghina Naya seperti itu, apakah Naya segitu rendahnya sampai Tuan muda menghina Naya habis-habisan seperti ini?" Naya menatap Kivandra dengan mata yang terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
Kivandra terdiam mendengar semua perkataan Naya. Dia menghindari tatapan Naya. Entah kenapa dengan hatinya, melihat mata Naya hatinya seperti teriris. 'Apakah perkataanku segitu menyakitkannya untuk Naya? Haruskah aku meminta maaf padanya? Tidak! Apa kata dunia jika seorang Kivandra meminta maaf pada cucu pelayannya seperti itu.'
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dengan cepat Naya menyeka air matanya dan beranjak menuju pintu. Begitu Naya membuka pintunya, Nanya mengernyitkan alisnya melihat seseorang yang mengetuk pintu hotelnya.
"Siapa itu, Naya?" tanya Kivandra sedikit berteriak.
Tidak ada jawaban apapun dari Naya, Kivandra pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Begitu Kivandra berada di belakang Naya, matanya membola dengan sempurna melihat seseorang yang tengah berdiri. Wajahnya tidak asing bagi Kivandra namun, bagi Naya wajah orang itu sangat asing.
***