Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 19 > Disusul Mantan?


__ADS_3

"Tentu saja aku tahu, dia teman masa kecilku. Oh iya, kamu siapanya Kivan?" tanya Chiko.


"Aku is--"


"Naya!" panggil seorang pria dengan sedikit berteriak.


Naya tidak melanjutkan ucapannya, dia menoleh ke orang yang memanggil namanya. "**-tuan muda," ucap Naya dengan sedikit gelagapan.


Ternyata pria yang memanggil namanya tidak lain adalah Kivandra. Saat ini Kivandra terlihat jelas ada kekesalan di matanya. Kivandra berjalan cepat menghampiri Naya yang tengah mengobrol bersama Chiko.


"Sini kau!" Kivandra menarik kasar tangan Naya di hadapan Chiko.


Namun, Chiko menarik tangan Naya. "Tunggu!" Chiko berdiri dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Naya.


Kini Naya seperti sebuah mainan yang ditarik ke sisi yang berbeda. Sementara itu, Farel bingung dengan tingkah tuannya dengan teman masa kecil Tuan Kivandra. Memang benar, jika Chiko adalah teman masa kecil Kivandra sekaligus selingkuhan Alice.


"Kivan! Lo kalau sama cewek jangan kasar dong! Lo itu jadi cowok agak lembutan dikit jangan kek robot, KERAS!" omel Chiko.


"Diam lo! Jangan ikut campur!" sargah Kivandra.


"Udah atuh cukup! Naya teh bukan mainan yang bisa ditarik-tarik! Lepasin tangan Naya!" timpal Naya.


"Farel, bawa gadis kocak ini ke mobil!" perintah Kivandra pada Farel.


"Baik, Tuan muda. Mari, Nona muda," ajak Farel pada Naya.


Naya hanya mengangguk dan melepaskan kedua tangannya dari genggaman kedua pria itu. Setelah itu, Naya pergi bersama Farel dan menunggu Kivandra di dalam mobil. Sementara itu, Chiko membulatkan matanya dengan sempurna. Dia cukup terkejut pada saat Farel memanggil Naya dengan sebutan Nona muda.


'Mungkinkah gadis itu adalah istri Kivan? Tapi, masa iya Kivan menikahi gadis itu? Sejak kapan selera seorang Kivandra seperti ini?'


Tak!

__ADS_1


Kivandra menyentil dahi Chiko. "Jangan berpikiran macam-macam lo, Ko!" skak Kivandra. Dia yakin jika sahabatnya ini tengah memikirkan tentang hubungannya dengan Naya.


"Jangan sotoy, lo! Emangnya gue mikirin apa?" timpal Chiko dengan ketus seraya memegangi dahinya.


"Jangan ngeles, lo! Gue tau apa yang ada di otak lo itu. Lo enggak bakalan bisa bohongin gue!"


"Iya deh iya. Gue akui gue emang berbohong. Gue emang enggak bakalan bisa menang debat sama lo. Oh iya, siapa gadis polos itu? Apa dia istr--"


"Jangan ngaco, lo! Dia itu hanya pelayan pribadi gue!" sela Kivandra seraya memalingkan wajahnya. Matanya menatap ke sembarang arah agar dia bisa menghindari tatapan Chiko.


"Yakin, kalau dia itu cuma pelayan lo? Kok gue ngerasa kalau gadis itu adalah istri lo," goda Chiko.


"Omong kosong! Enggak mungkin lah gue jadiin istri! Kampungan kek gitu, bisa turun harga diri gue," jawab Kivandra penuh kebohongan.


"Jika memang benar gadis itu bukan istri lo, terus kenapa si Farel manggil Naya dengan sebutan Nona muda? Bisa lo jelasin." Chiko menik-turunkan alisnya.


"Pertanyaan macam apa ini? Sudahlah lupain gadis itu! Sedang apa kau di sini?" tanya Kivandra dengan mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengolok-olok gue kek gitu! Semua itu kemauan Grandpa. Sebenarnya gue malas pergi sama tuh gadis kocak! Darah tinggi gue semenjak satu rumah dengan gadis konyol itu." Kivandra duduk dengan mendengus kesal.


***


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar Alice diketuk oleh Denison. "Permisi, Nona Alice. Bolehlah saya masuk?"


"Masuklah!" terdengar suara Nona Alice dari dalam kamarnya yang memperbolehkan Denison untuk masuk.


Denison pun masuk dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat. "Duduklah!" perintah Nona Alice pada Denison.


Saat ini Alice tengah memeriksa beberapa job miliknya. Denison duduk di sofa berhadapan dengan Nona Alice. "Apa yang membuatmu datang menemuiku?" tanya Nona Alice tanpa menoleh sedikitpun. Matanya masih tertuju pada selembar kertas putih.

__ADS_1


"Saya sudah berhasil menemukan keberadaan Tuan Kivandra, Nona." Denison tersenyum kecil.


Alice menyimpan keras putih itu, kini matanya menatap ke arah Denison. "Kau yakin?"


"Iya, Nona. Ini bukti keberadaan Tuan Kivandra saat ini." Denison memberikan amplop coklat itu.


Alice langsung menyambar amplop berwarna coklat itu. Tanpa rasa sabar, dia membuka isi amplop tersebut. Setelah di buka, terlihat ada beberapa foto dan bukti keberangkatan Tuan Kivandra saat menuju ke Negara S.


"Dari mana kau mendapatkan ini semua?"


"Nona Alice tidak perlu tahu mengenai ini karena ini tidak penting. Yang harus Nona Alice tahu adalah ...."


Denison berpindah posisi, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Nona Alice. "Saat ini Tuan Kivandra sedang berbulan madu dengan gadis kampung itu. Bukan hanya Kivandra dan gadis polos itu, bodyguard Kivan, yaitu Farel. Dia juga ikut bersama Tuan Kivandra."


"Apa?" teriak Alice dengan berdiri. Dia benar-benar terkejut mendengar menyakitkan itu.


"Nona Alice, tenanglah dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang? Kivanku pergi untuk berbulan madu bersama gadis norak itu! Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak akan membiarkan mereka berbulan madu! Sekarang aku minta batalkan semua job dan pertemuan dengan klien untuk seminggu ke depan! Pesankan tiket pesawat sekarang! Aku akan pergi ke Negara S malam ini juga!" perintah Alice dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Nona Alice serius? Nona akan pergi menemui Kivandra lagi? Apa Nona sudah lupa jika Tuan Kivan sudah menikah dan apa yang Tuan Kivan lakukan pada Nona beberapa hari ke belakang? Apa Nona sudah lupa itu?" Denison kembali mengingatkan Nona Alice.


"Jangan mengingatkan hal itu lagi! Keputusanku sudah bulat! Aku akan pergi ke Negara S malam ini juga. Jadi, cepat pesankan tiket pesawat sekarang juga, batalkan semua meeting untuk seminggu ke depan. Apa perintahku kurang jelas?" tegas Alice dengan wajah yang berubah merah padam.


"Baiklah, Nona Alice. Saya akan persiapkan segalanya. Saya permisi." Denison menundukkan kepalanya, setelah itu dia keluar dari kamar Nona Alice.


Setelah kepergian Denison, Alice mulai membanting barang-barangnya untuk melampiaskan kemarahan yang membara saat ini. "Kivan! Takkan kubiarkan kau hidup tenang! Dan untuk kau, gadis norak! Aku akan membuatmu menderita! Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Akan kubuat Kivan melakukanmu seperti dia memperlakukanku beberapa tahun silam!" ancam Alice seraya menatap tajam dan penuh kemarahan pada sebuah foto yang tengah dia pegang.


Beberapa menit kemudian, Alice mulai packing barang-barangnya. Tinggal beberapa jam lagi dia akan pergi menyusul mantan tunangannya. Selama ini Alice memang masih mencintai Tuan Kivandra, baginya Kivandra adalah pria yang membuatnya berhasil gagal move on.


Setelah kepergiannya beberapa tahun silam, tepat disaat hubungannya kandas dengan Kivandra. Alice memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat untuk melupakan Kivandra. Namun, setelah kepergiannya itu, Alice tidak berhasil melupakan Kivandra justru dia semakin menyayangi Kivandra sampai rasa sayang itu telah berubah menjadi obsesi dan takut akan kehilangan Kivandra. Itulah kenapa Alice selalu mencari tahu tentang kehidupan Kivandra.

__ADS_1


***


__ADS_2