Gadis Kocak, Milik Tuan Muda

Gadis Kocak, Milik Tuan Muda
Bab 76 > Menghamili Wanita Lain?


__ADS_3

Malam hari ...


Naya bersama keluarga tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang bermain bersama si kembar yang sedang lucu-kucunya. Naya dan Mami Thalia dibuat sakit perut karena terlalu banyak tertawa. Bagaimana tidak, Tuan Liam sedang bermain kuda-kudaan dengan si kembar.


Tawa si kembar yang begitu menggemaskan membuat Naya dan Mami Thalia turut tertawa melihatnya. Malam ini suasana benar-benar harmonis. Ketika kedua matanya tengah asyik memperhatikan si kembar, tiba-tiba ia dikejutkan dengan ponselnya yang berdering.


Naya mengalihkan pandangannya dan melihat ke layar ponsel yang tengah ia genggam. Terlihat jelas panggilan masuk dari Kivandra, sang suami. Naya beranjak dari duduknya.


"Mami, Naya angkat telepon dulu ya," ucap Naya dengan santun.


"Iya, Sayang." Mami Thalia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah meminta izin pada ibu mertuanya, Naya pun berjalan menuju keluar rumah. Sesampainya di luar rumah, Naya sedikit berjalan lagi untuk pergi ke taman. Sembari berjalan, Naya mengangkat telepon suaminya terlebih dahulu.


Telepon terhubung!


"Hallo, Sayang," sapa Naya sembari duduk di kursi ayunan yang berada di taman.


"Hallo, Sayang. Kamu lagi ngapain?" tanya Kivandra basa-basi di seberang telepon.


"Aku lagi di taman, Mas. Aku lagi duduk sambil liatin bintang. Kalau Mas sendiri lagi ngapain?" Naya balik bertanya kepada suaminya.


"Mas lagi terpojok di pinggir jalan, Sayang. Hehe," jawab Kivandra dengan cengengesan.


"Terpojok gimana, Mas?" Naya mengerutkan keningnya karena bingung.


"Mobilku tiba-tiba mogok, Sayang. Bolehkah suamimu ini meminta bantuan istri kecilku ini?"


"Iya, tentu saja. Mas mau aku bantu apa?"


"Kamu jemput suamimu ini di jalan tak jauh dari kantor. Mas tunggu kamu di pinggir jalan ya."


"Okay, Sayang. Aku OTW sekarang,"


"Ya, Sayang. Hati-hati bawa mobilnya,"


"Iya, Tuan Kivan suamiku. Sudah ya, aku tutup teleponnya. Muach! Tutt!" Naya mencium suaminya secara virtual sebelum mengakhiri obrolannya.


Telepon terputus!


Setelah berbicara di telepon, Naya bergegas masuk untuk mengambil kunci mobil dan juga tasnya. Ia berlari menuju kamarnya untuk mengambil barangnya. Kemudian, ia pergi menemui Mami Thalia dan juga Grandpa Liam sebelum pergi. Tentu, Naya tidak pernah lupa untuk selalu meminta izin dari Mami dan Grandpa.


"Lho, Nak ... kamu mau pergi ke mana?" tanya Mami Thalia begitu melihat menantunya membawa tas serta kunci mobil.


"Mami, Grandpa. Naya izin keluar sebentar ya. Naya mau jemput Mas Kivan, mobilnya Mas Kivan tiba-tiba mogok," pamit Naya sembari mencium tangan keduanya.

__ADS_1


"Kenapa harus kamu, Sayang? Bukankah ada Farel di rumah ini. Atau, kalau kamu mau kamu bisa ditemani Pak Bagas," Mami Thalia mengusulkan menantunya untuk tidak pergi sendirian.


Mendengar itu, jelas Naya menolak. "Tidak perlu, Mami. Terima kasih banyak, tapi Naya bisa kok pergi sendiri. Lagian, lokasi Mas Kivan tidak terlalu jauh dari kantornya. Kalau begitu, Naya pergi sekarang ya, Mami. Naya titip si kembar,"


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Ingat, jangan terlalu ngebut!" Mami Thalia memberi pesan kepada menantunya.


"Baik, Mami. Naya pergi dulu, assalamu'alaikum." Setelah mengucapkan salam, Naya berjalan meninggalkan ruang keluarga dan pergi menuju basement.


****


Setelah kepergian menantunya, Mami Thalia berlari keluar rumah dan mencari keberadaan Pak Bagas. "Di mana Pak Bagas ini ya? Kok tidak ada," gumam Mami Thalia sambil melihat ke sana ke mari.


"Bu Thalia mencari saya?" tanya Pak Bagas secara tiba-tiba dari arah belakang.


"Astagfirullah! Pak Bagas ini, ngagetin saya aja." sontak Mami Thalia terlonjak kaget.


"Maaf, Bu."


"Sudah, tidak apa-apa. Oh iya, aku mau kamu ikuti menantuku dari belakang. Aku sangat mengkhawatirkan menantuku." Mami Thalia meminta Pak Bagas untuk mengikuti Naya.


"Memang Nona Naya pergi ke mana, Bu?" tanya Pak Bagas.


"Menantuku pergi untuk menjemput suaminya. Mobilnya baru aja jalan. Sekarang cepat ikuti mobilnya!"


Mami Thalia membalasnya dengan anggukan kecil. Kemudian Pak Bagas pun masuk mobil dan segera mengejar mobil yang dikendarai Naya.


****


Di tengah-tengah perjalanan, Naya menyadari jika ada sebuah mobil yang sedang mengikutinya. "Lho, bukannya itu mobil Grandpa?" gumam Yumna sembari melihat ke arah mobil yang berada di belakang dari pantulan spion kanannya.


Kemudian Naya mempercepat laju mobilnya. Ia takut jika yang mengendarai mobil itu adalah Pak Bagas. Tak lama kemudian, Naya melihat mobil suaminya terparkir di pinggir jalan. Wanita itu pun segera menghentikan mobilnya tepat di depan mobil sang suami.


Naya keluar dari mobil dan menghampiri mobil suaminya. Namun, ia tidak melihat suaminya di dalam mobil maupun di pinggir jalan. Tentu, hal ini membuat Naya kebingungan karena mobil Kivandra ada di sini sedangkan pemiliknya tidak ada.


"Mas Kivan mana ya? Katanya standby di sini," omel Naya sembari berjalan menuju mobilnya untuk mengambil tas serta ponselnya.


Hup!


Belum sempat Naya membuka pintu mobil, tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seseorang. Reflek Naya menginjak kaki orang itu serta mencakar lengan orang tersebut. Sehingga pelukan pun terlepas.


Begitu Naya membalikkan badan, kedua bola matanya membulat dengan sempurna. Ia terkejut bukan main pada saat melihat suaminya. Ternyata, orang yang memeluknya adalah Kivandra. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah melukai lengan sang suami.


"Hehe, maafin Naya, Mas. Naya kira Mas orang jahat tadi, makanya Naya serang," ucap Naya cengengesan dengan wajah yang merona karena malu.


"Galak amat istri kecilku ini. Bukannya senang dipeluk suami malah nyerang gini. Kamu itu kek macan tahu," timpal Kivandra dengan nada yang merajuk.

__ADS_1


"Maafin aku ya, please." Naya membujuk suaminya dengan mata yang dikedip-kedipkan.


Muach!


Sungguh di luar dugaan, seorang Kivandra tiba-tiba menc*um bibir Naya di tempat umum seperti ini. Padahal yang Naya tahu, suaminya ini tidak pernah mau mengumbar kemesraan di tempat umum. Tapi, kali ini benar-benar mengejutkan dari biayanya.


"Mas! Ini tempat umum. Apa Mas lupa?" Naya bertanya dengan mata yang terbelalak.


"Enggak apa-apa, mumpung sepi," celetuk Kivandra disertai tawa kecilnya.


"Ish, kamu ini. Udah yuk kita pulang, di rumah ada Mami sama Grandpa." Naya menggandeng lengan suaminya dan mengajaknya pulang.


"Yah, kok pulang sih? Padahal aku ingin ngajak kamu dinner malam ini," 


"Dinner? Malam ini?" Naya menatap lekat suaminya.


"Iya, Sayang. Mau ya, cuma sebentar kok. Ada yang mau aku bicarakan denganmu,"


"Heum ... ya udah, kita dinner. Kebetulan, Naya juga mau ngasih tahu Mas sesuatu." Naya tersenyum manis.


"Ya udah, ayo kita pergi. Sekarang biar aku yang nyetir." Kivandra membuka pintu mobilnya untuk sang istri.


Kemudian Naya masuk bersamaan dengan suaminya yang masuk melalui pintu mobil sebelah kanan. Tanpa membuang waktu lama, Kivandra mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


****


Di restoran ....


Di saat makanan pesanannya sudah ada di meja, Kivandra terus menatap istrinya dengan tatapan yang dalam. Sama seperti suaminya, Naya pun menatap suaminya seakan menunggu sang suami untuk mengatakan sesuatu. Sehingga beberapa detik kemudian, Kivandra memegang kedua tangan istrinya.


"Mas, ada apa? Apa ada sesuatu yang Mas sembunyikan dariku?" tanya Naya karena penasaran dengan arti tatapan suaminya.


"Sayang, aku--"


"Ya, Mas kenapa? Jangan membuatku penasaran," ujar Naya dengan wajah yang penasaran.


"Aku telah menghalimi wanita lain, maafkan aku."


Deg!


"Hamil?" Seketika bola mata Naya terbelalak seakan mau loncat dari tempatnya.


****


Stay tune :)

__ADS_1


__ADS_2