
Jona yang sudah tidak bisa lagi menahan hasrat di tubuhnya, menurunkan tali gaun yang di kenakan oleh Jane yang baru saja menyadari jika tubuhnya sudah di bawah kungkungan Jona.
"Fixs hari ini aku akan merasakan bagaimana rasanya di sodok pria yang begitu sempurna ini," gumam Jane saat hasrat di tubuhnya sudah tidak bisa di tahan lagi dan kedua tangannya langsung melepas ikat pinggang yang Jona kenakan.
Jona membuka matanya saat merasakan tangan Jane sudah berhasil melepas ikat pinggangnya. "Jona bukan ini yang ingin kamu lakukan, ingat tujuan awal kamu," Entah dari mana perkataan itu datang dan memenuhi kepala Jona yang langsung melepas tautan bibirnya dan turun dari sofa, lalu mengacak acak rambutnya kasar, pasalnya selama ini dirinya tidak akan pernah tergoda pada puluhan wanita yang datang padanya, dan Bela satu satunya wanita yang bisa merebut hatinya. Tapi entah mengapa dengan gadis yang bersamanya sekarang Jona sangat tergoda. Padahal tujuan awalnya hanyalah membalas dendam.
Jane menautkan ke dua alisnya lalu beranjak dari sofa dan tetap membiarkan tali gaunnya jatuh tidak ingin membenarkan nya, kemudian mendekati Jona dan memeluknya dari belakang. "Kenapa? Apa tidak suka melihat aku pasif, baiklah aku akan bermain aktif, dan kamu tinggal menikmatinya," Jane lalu melepas pelukannya beralih meraih tangan Jona dan menariknya menuju ke arah tempat tidur.
"Lepaskan!"
Jane begitu terkejut saat Jona berkata dengan kencang dan melepaskan tangannya dengan kasar. Lalu beralih meraih tangan Jane dengan kasar dan menariknya menuju pintu kamar hotel tersebut.
__ADS_1
Jane mendapati perlakukan kasar tersebut sekuat tenaga menghentikan langkahnya. "Ada apa denganmu?"
Jona yang juga menghentikan langkahnya langsung membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Jane. "Kita lakukan di tempat spesial, dan aku yakin kamu akan menyukainya," bohong Jona sebisa mungkin untuk tidak terlihat kesal.
"Tapi kenapa tadi kamu menarik ku dengan kasar," suara manja Jane membuat Jona harus pintar-pintar menyembunyikan kekesalannya, lalu mengukir senyum paksa dari ke dua sudut bibirnya.
"Aku sudah tidak bisa menahan lagi,"
"Ya sudah lakukan saja di sini, aku juga ingin tahu rasanya di sodok itu bagaimana,"
"Kenapa kamu menatapku? Jangan berfikir macam-macam meskipun aku sudah sering melayani pria hidung belang, aku masih tetap virgin, dan aku suka rela untuk melakukannya denganmu,"
__ADS_1
Dan kali ini, ucapan Jane benar-benar tidak bisa di terima oleh Jona, bagaimana bisa seorang wanita yang bekerja di dunia malam seperti ini masih menjaga kehormatannya.
"Baiklah aku akan membuktikannya, tapi bukan di sini," ujar Jona mengiyakan apa yang di katakan oleh Jane tidak ingin meladeni omong kosongnya, lalu Jona menarik tangan Jane keluar dari kamar hotel tersebut.
Bibi Berta yang merasa tidak beres dengan sang keponakan, karena sudah hampir dua jam Jane belum kembali juga, akhirnya bibi Berta yang sedang menunggu Jane di salah satu kafe yang berada di hotel tersebut memutuskan untuk menghampiri kamar hotel di mana Jane berada.
Bibi Berta yang memiliki kunci cadangan langsung masuk ke dalam kamar hotel di mana keponakannya berapa.
"Jane," panggil bibi Berta saat sudah masuk ke dalam kamar, lalu menghentikan langkahnya saat melihat ranjang yang berada di dalam kamar tersebut masih rapi dan tandanya tidak ada aktivitas yang terjadi di atas ranjang tersebut.
Bibi Berta terus memanggil Jane, dan menyusuri kamar hotel tersebut dan berakhir di kamar mandi yang kosong.
__ADS_1
"Jane jangan membuat bibi kuatir," lalu pandangan bibi Berta tertuju pada tas milik Jane yang terdapat di atas meja, dan bibi Berta langsung membuka tas tersebut dan mendapati obat tidur yang selalu Jane bawa masih tersimpan di dalamnya. "Jane," kekuatiran jelas terlihat dari bibi Berta dan langsung mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi pria yang menyewa jasa Jane, bibi Berta menjatuhkan pantatnya kasar dia atas sofa setelah menghubungi pria yang menyewa jasa Jane, karena nomor ponselnya tidak aktif.
Bersambung............