
"Jane kenapa kamu kembali lagi ke aula pertemuan, aku sudah menyuruhmu pulang kan?" tanya Jona saat ke duanya sedang berjalan kaki menuju rumah setelah dari aula pertemuan.
"Kamu lihat di sini gelap sekali, aku takut tahu, makanya itu aku kembali lagi," Jane terus mengedarkan pandangannya ketika melewati pepohonan tinggi di kanan dan kiri jalan menuju rumah. "Kenapa komplek ini sepi seperti kuburan, ke mana orang-orang ya? Padahal baru jam sembilan malam. Aku kan jadi takut,"
Mendengar ucapan Jane, Jona tidak ingin kehilangan kesempatan lalu dirinya melepas tangan Jane beralih memeluk bahunya. "Jona!" teriak Jane coba untuk melepas pelukan Jona.
"Jane diam lah, kata pak Joko di komplek ini angker, maka dari itu tidak ada warga yang berani keluar jika di malam hari,"
"Benarkah?"
"Iya Jane," jawab Jona yang langsung tersenyum senang pasalnya sekarang Jane balik memeluknya dengan erat.
"Kalau begitu jalannya buruan Jona!"
"Pelan-pelan saja, kakiku sedang sakit dari kemarin," bohong Jona padahal dirinya ingin terus berlama lama memeluk Jane yang sangat di rindukan nya, pasalnya selama seminggu jangankan memeluknya, melihatnya pun jarang karena Jane selalu menghindar darinya, dan kali ini Jona ingin berlama lama memeluk Jane, entah mengapa dengan memeluk Jane dirinya merasakan nyaman dan juga tenang hingga dirinya melupakan jika musuh bisa kapan saja menemukannya.
Jarak aula pertemuan dan juga rumah Jona sebenarnya tidak lebih dari tujuh menit berjalan kaki, tapi karena Jona berjalan bagaikan siput akhirnya keduanya sampai rumah setelah menempuh perjalanan lima belas menit lebih. Dan Jona sangat puas karena bisa lama-lama memeluk Jane yang tidak ingin melepasnya.
Jane langsung melepas pelukannya saat sudah di depan pintu lalu masuk ke dalam rumah dengan terburu buru meninggalkan Jona yang sedang kegirangan.
__ADS_1
Jona masuk ke dalam rumah lalu menautkan ke dua alisnya mantap Jane yang tiba-tiba menyambutnya sambil bertolak pinggang dan tak lupa menatapnya dengan tajam.
"Jane jangan menatapku begitu, kalau begitu kamu sungguh terlihat sangat cantik,"
"Cih," sambung Jane. "Kamu membohongi ku?"
"Bohong apa Jane? Tadi memang kakiku sakit tapi sekarang tidak lagi, sepertinya pelukanmu menjadi obat untukku," ucap Jona sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Jane.
"Ih kamu seperti om om genit,"
"Tidak apa kalau genitnya dengan calon istriku,"
"Istri istri kita menikah karena aturan ya, jangan macam macam,"
"Enak saja, kata kamu mau belah duren. Tapi aku cari durian di dapur tidak ada, dan bau durian juga tidak tercium di rumah ini, apa kamu membohongi ku?" tanya Jane penuh selidik.
"Tidak, aku tidak membohongimu, aku menyimpan durian di kamar ku, ambilah sama,"
"Mana ada orang menyimpan durian di dalam kamar, jangan mengada ada kamu Jona,"
__ADS_1
"Aku tidak mengada ada, kalau tidak percaya lihat saja sendiri," ujar Jona untuk meyakinkan Jane.
"Awas kalau kamu membohongi ku," sambung Jane lalu menuju kamar Jona dan masuk ke dalam.
"Asyik belah duren ini mah, tidak usah nunggu besok kelamaan, jika sudah ada kesempatan kenapa tidak di manfaatin ho ah ho eh," ucap Jona lalu menyusul Jane menuju kamarnya.
Jona yang sudah masuk ke dalam kamarnya, langsung menatap Jane yang mencari apa yang dirinya cari, dan Jane mendengus kesal saat tidak mendapati ada durian di kamar Jona. Lalu Jane menatap Jona yang berdiri tepat di depan pintu kamar yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Jona kamu membohongi ku kan? Di kamar mu tidak ada pun durian?" tanya Jane kesal sambil melipat ke dua tangannya.
"Ada sebentar ya," Jona langsung mengambil ponsel miliknya.
"Jona jangan bercanda itu ponsel bukan durian,"
"Nanti dulu dengarkan ini," sambung Jona yang langsung memutar lagu dangdut dengan lirik lagu belah duren.
Jane mendengar seksama lagu tersebut kemudian menautkan ke dua alisnya. Dan sekarang baru menyadari belah duren yang di maksud Jona. "Jona sialan kamu ya!" teriak Jane tapi tidak di hiraukan oleh Jona yang langsung menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. "Apa yang kamu lakukan Jona!"
"Belah duren dong, yuk mau ya?" tawar Jona sambil tersenyum lalu melepas kaos yang di kenakan nya dan berjalan mendekati Jane yang masih berdiri di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Jona! Jangan macam-macam ya, aku bikin rendang burung mu itu, Jona! "
Bersambung..........................