Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Ikhlas


__ADS_3

Zain menggandeng tangan sang istri mendekat ke arah Jane yang sedang terbaring lemah di atas ranjang perawatannya, dengan selang infus yang menempel di salah satu tangannya, ketika Jane sudah di pindah ke ruang perawatan yang ukurannya tidak lebih dari tiga kali tiga meter dan hanya ada ranjang perawatan yang sekarang Jane tiduri.


"Jane," panggil Zain saat sudah berada di sisi ranjang di mana Jane terbaring, dan menoleh mendengar Zain memanggilnya.


Senyum terukir dari bibir Jane, senyum yang di paksakan untuk menutupi kesedihan di dalam hatinya.


"Kalian masih berada di sini?" tanya Jane, dan air mata yang dari siang membasahi pipinya kini tidak ada lagi.


"Kenapa kamu mengatakan itu Jane. Tentu saja kita akan selalu berada di sini menemanimu," ucap Zain dan duduk di pinggiran ranjang di mana Jane berada.


"Pulanglah, aku baik baik saja. Kasihan Zifa jika harus berada di rumah sakit, apa lagi ini sudah larut malam," pinta Jane sambil mengukir senyum.


"Baik baik saja dari mana Jane, kamu kira aku akan percaya pada apa yang kamu katakan? Dan senyum yang kamu tunjukkan pada kami, aku tahu persis itu senyuman palsu Jane. Jangan menyakiti diri kamu sendiri dengan memendam kesedihan sendiri Jane," sambung Zain sambil menggenggam salah satu tangan sahabatnya, namun Jane segera menyingkirkan tangan Zain.


"Zifa ajak suami kamu ini pulang, telingaku sakit mendengar apa yang di katakan olehnya," ucap Jane sambil menatap Zifa yang berdiri di samping ranjangnya.


"Jane, jangan seperti ini. Benar apa yang di katakan oleh Zain, jangan pernah memendam kesedihan. Kita ada di sini untuk kamu Jane. Dan jangan bersikap seolah oleh kamu tidak membutuhkan siapa pun, aku tahu apa yang sekarang sedang kamu rasakan," sambung Zifa membenarkan apa yang di katakan oleh sang suami.

__ADS_1


"Pantas saja kalian berjodoh, kalian sama saja menyebalkan," ucap Jane dan ingin beranjak dari tidurnya.


"Jane kamu mau ke mana, dokter menyuruhmu untuk tetap berbaring," Zain menahan tubuh Jane namun Jane langsung menyingkirkan tangan Zain.


"Singkirkan tanganmu, aku baik baik saja untuk apa aku harus terbaring seperti orang sakit, tolong ambilkan remote televisi itu," perintah Jane sambil menunjuk remote televisi yang berada di atas meja tidak jauh dari tempatnya berada.


"Jane untuk apa?"


"Zifa tolong ambilkan remote televisi itu," pinta Jane tanpa menjawab pertanyaan Zain.


"Ya Tuhan kalian ini sungguh menyebalkan sekali," ucap Jane dan ingin turun dari tempat tidur namun segera di tahan oleh Zain yang masih duduk di pinggiran ranjang perawatan Jane.


"Iya aku akan ambilkan, kamu diam saja di sini," akhirnya Zain menuruti perintah Jane, dan beranjak dari duduknya untuk mengambil remote televisi yang di inginkan Jane. "Apa kamu ingin menonton sinetron kesukaan kamu?" tanya Zain saat sudah mengambil remote televisi dan kembali lagi mendekati Jane dan menyalakan televisi mencari stasiun televisi di mana Jane dulu suka melihat sinetron.


"Sini remote nya," Jane merebut remote yang ada di tangan Zain, lalu mengganti saluran televisi ke acara berita, yang kebetulan sedang memberitakan tentang pesawat yang jatuh ke dalam laut.


"Jane,"

__ADS_1


"Zain diam lah!" bentak Jane dan matanya terus tertuju ke arah layar televisi yang terpasang di tembok yang tidak jauh dari ujung ranjangnya.


Apa lagi acara televisi tersebut akan menyiarkan langsung dan mengumumkan nama nama penumpang yang terdapat di dalam pesawat yang jatuh ke dalam laut.


Zain yang tidak ingin membiarkan sahabatnya tersebut melihat acara berita tersebut, mengambil remote televisi yang berada di tangan Jane, lalu mematikan televisi dan melepas batu baterai remote tersebut kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Zain!" teriak Jane kesal.


"Jane aku hanya tidak ingin kamu melihat berita tersebut, yakinlah Jona pasti selamat dalam kecelakaan itu,"


"Selamat kamu bilang? Saat pesawat itu jatuh ke dalam laut dan sekarang belum juga di ketahui keberadaannya," sambung Jane dan air mata yang sedari tadi di tahannya kini meluncur bebas membasahi ke dua pipinya.


Zain kembali menghampiri sang sahabat lalu membawa ke dalam pukulannya.


"Zain aku akan coba ikhlas menerima semua ini, aku dan anakku akan baik baik saja tanpa ada Jona di samping ku, aku akan menjadi ibu dan juga ayah untuk anakku, biarkan aku melihat berita itu," ucap Jane di sela sela tangisnya namun tidak mendapat tanggapan dari Zain yang mengeratkan pelukan nya.


Bersambung...................

__ADS_1


__ADS_2