Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Saudara


__ADS_3

Brak!


Albert menggebrak meja yang ada di dalam ruangan di mana sekarang dirinya berada, ruangan yang hanya berukuran kurang lebih dari tiga kali tiga meter.


Dan ruangan tersebut terdapat di sebuah rumah sederhana tempatnya beberapa hari ini bersembunyi dari incaran anak buah Tom yang ada di Paris.


Karena Albert belum bisa kembali ke negara asalnya, pasalnya semua anak buah Tom selalu berjaga dua puluh empat jam di semua bandara yang ada di kota Paris.


"Sial!" kesal Albert sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya kembali, ketika dirinya tahu anak buah di bawah pimpinan Tom sekarang begitu tangguh dan susah untuk di taklukkan tidak seperti saat Jona yang memimpin.


Apalagi Albert tidak lagi memiliki anak buah di Paris karena semuanya sudah di sekap oleh anak buah Tom, dan hanya ada satu kaki tangannya yang selalu bersamanya.


"Kamu suruh anak buah kita yang berada di Indonesia untuk mencari keberadaan Jona, dan langsung habisin dia. Aku tidak ingin mati duluan sebelum dia," perintah Albert pada anak buahnya.


"Siap bos," sambung anak buahnya dengan sigap. "Ada usul dariku bos,"


"Usul apa?" tanya Albert penasaran pada anak buahnya yang berdiri tidak jauh darinya.


"Bagaimana jika kita pergi ke negara tetangga lewat jalur laut, dan dari negara tetangga kita bisa kembali ke Indonesia dengan pesawat,"


Mendengar apa yang dikatakan oleh anak buahnya Albert mengukir senyum simpul, lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Kapan kita bisa ke negara tetangga dengan jalur laut?"


"Sekarang bos, kebetulan kurang satu jam lagi ada kapal di dermaga menuju negara tetangga," jelas anak buah Albert yang beberapa saat lalu memantau dermaga yang tidak jauh dari tempatnya bersembunyi sekarang.


"Baik, kita pergi sekarang."


"Siap Bos."


*


*


*


Senyum terukir dari bibirnya ketika melihat sang suami yang berada di sampingannya dan masih tertidur lelap.


Kemudian Jane membalik tubuhnya miring untuk menatap lekat wajah sang suami, pria yang sudah memenuhi hati dan hidupnya.


Senyum yang tadi menghiasi bibir Jane kini tidak ada lagi, saat satu tangannya sedang membelai wajah sang suami, karena dirinya melihat raut wajah kecemasan di wajah sang suami yang terus saja dirinya belai.


"Sayang jangan membangunkan aku lagi," suara parau khas bangun tidur dari bibir Jona dengan mata yang masih terpejam mengagetkan Jane yang langsung menarik tangannya yang terus membelai wajah sang suami.

__ADS_1


Namun Jona mencekal tangan sang istri lalu membawa ke dalam pelukannya.


"Sayang ini masih sangat pagi, kenapa kamu sudah bangun?" tanya Jona sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku hanya ingin bangun lebih awal mulai sekarang, karena akan tahu sebentar lagi aku akan mengerjakan semuanya sendiri tanpa ada yang membantu,"


Mendengar jawaban sang istri Jona langsung melepas pelukannya lalu menatap lekat wajah sang istri.


"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang, kamu pikir aku sudah tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya begitu?"


Bukannya merespon apa yang di katakan oleh sang suami, Jane malah beranjak dari tidurnya lalu duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


Dan Jona pun langsung mengikuti sang istri beranjak dari tidurnya lalu memegang ke dua bahu sang istri untuk menghadap ke arahnya.


"Sayang ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat murung? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Jona yang tidak mengerti dengan sikap sang istri yang tidak seperti biasanya.


"Aku tidak murung, siapa juga yang murung," jawab Jane sambil tersenyum ke arah sang suami, meskipun senyuman yang di tunjukkan tidaklah dari hati. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu sayang," ucap Jane yang sekarang meraih tangan sang suami dan menggenggamnya dengan erat.


Membuat Jona langsung menautkan ke dua alisnya melihat keseriusan dari wajah sang istri. "Jangan katakan apa pun sayang,"


"Aku akan tetap mengatakan apa yang ingin aku sampaikan padamu," sambung Jane sambil mengukir senyum. "Ikutilah saran Tom, selesaikan ini semua. Aku dan anak kita akan menunggu kamu hingga kembali, dan setelahnya kita akan hidup bahagia tanpa ada bayang bayang Albert di hidup kita seperti sekarang ini. Aku yakin pada apa yang di katakan oleh Tom. Dan kamu tenang saja aku akan selalu aman berada di sini dengan semua tetangga kita yang sudah seperti saudara,"

__ADS_1


"Sayang," Jona melepas genggaman tangan sang istri lalu membawa ke dalam pelukannya.


Bersambung...........................


__ADS_2