
Zain mengendari motor keluar dari rumah papa Albert pada tengah malam, entah motor siapa yang dirinya gunakan karena selain mobil yang di berderet di garasi bawah tanah rumah papa Albert, di situ juga banyak puluhan motor yang berjajar rapi di garasi tersebut, Zain pernah sekali dulu menanyakan apa pekerjaan sang papa, tapi jawaban Albert "Kamu anak kecil, tidak usah tahu apa pekerjaan papa, yang penting kamu memiliki semua yang kamu mau," Dan itu jawaban nya, bukan hanya sekali tapi berulang kali yang selalu keluar dari bibir papa Albert saat Zain menanyakan tentang pekerjaan.
Zain menyusuri jalan pedesaan yang sudah sangat sunyi dan hanya beberapa suara hewan seiringan dengan suara motor yang di kendarai nya, sudah hampir setengah jam Zain menyusuri jalan pedesaan, tapi belum juga dirinya sampai ke tempat tujuan.
"Aku yakin ini jalan menuju rumah nenek," ucap Zain dan mengingat lagi saat dua orang yang membawanya dengan paksa juga melewati jalanan yang sekarang di lalui nya. Saat Zain memutuskan untuk kembali ke tempat neneknya, yang papa Albert katakan itu bukanlah nenek Zain, padahal Zain dari kecil sudah menganggapnya sebagai nenek.
Ssssttttt
Zain mengerem motor yang di kendarai nya secara mendadak, saat tiba-tiba ada sebuah motor yang menghalangi laju motornya.
"Menyingkir lah," ujar Zain saat dirinya tahu persis siapa pria yang masih berada di atas motor yang menghalangi laju motornya. "Om Son kembalilah, dan katakan pada papa aku tidak akan pernah kembali,"
"Om juga tidak akan pernah kembali,"
Zain menautkan ke dua alisnya mendengar ucapan salah satu anak buah papa Albert yang sudah Zain kenal lama. "Om akan mengantarmu ke rumah nenek Wiji,"
Dan Zain pun langsung mengikuti motor om Son dari belakang, entah mengapa Zain langsung percaya pada pria tersebut.
Dan benar saja Zain memarkirkan motor yang di kendarai tepat di depan rumah sang nenek setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Zain menoleh ke arah om Son yang juga turun dari motor yang di kendarai nya, lalu Zain menautkan ke dua alisnya menatap pelipis om Son yang berdarah.
"Ini sudah malam lebih baik kita segera masuk ke dalam, dan om akan menceritakan semuanya padamu," ujar om Son saat dirinya tahu pasti Zain akan menanyakan bekas luka nya, yang di dapatkan dari pukulan Albert, saat Albert tahu jika Zain mendengar ucapan Sam dan Son, lewat kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah papa Albert. Dan Zain pun langsung mengikuti perintah om Son dan langsung mengetuk pintu rumah sederhana yang di kelilingi sawah di sekelilingnya.
__ADS_1
*
*
*
Jona membuka matanya saat ada seseorang yang baru masuk ke dalam kamarnya dan membangunkan nya, ketika jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul enam pagi, dan itu artinya baru beberapa jam dirinya memejamkan mata.
"Maaf bos, aku membangunkan bos terlalu pagi," ucap seseorang membuat Jona langsung beranjak dari tidurnya dan menatap seseorang yang amat sangat di kenalnya.
"Kau, kenapa kamu ada di sini apa–
"Sial," Jona langsung meraup wajahnya kasar lalu turun dari tempat tidur.
Plak!
Tamparan mendarat di sebelah pipi Tom anak buah Jona, yang di layangkan oleh bosnya tersebut.
"Kamu memang tidak pernah bisa di andalan Tom!"
"Maaf bos, mereka datang dengan tiba-tiba, dan ternyata banyak mata-mata Albert yang bekerja dengan kita," jelas Tom membuat Jona langsung mengepalkan tangannya menahan emosi.
__ADS_1
"Bagaimana barang-barang kita?"
"Di bawa kabur semua oleh anak buah Albert, dan anak buah kita hampir semua tewas, sebelum aku menyuruhnya mundur dan pergi lewat jalan rahasia,"
"Apa polisi tahu?"
"Tentu, dan aku sarankan bos tetap tinggal di sini,"
"Argghhh, sial!" kesal Jona lalu memukul meja kaca yang terdapat di kamarnya hingga pecah dan melukai tangannya. "Awas kau tua bangka aku akan menghabisi putrimu!"
"Bos tunggu," Tom menarik tangan Jona yang akan keluar dari kamar, lalu membalik tubuhnya untuk menatap Tom. "Sepertinya informasi yang kita dapatkan tentang anak Albert salah, karena anak buah kita yang kita suruh untuk mencari tahu siapa anak Albert adalah mata-matanya,"
"Apa!"
"Dan satu lagi, anak Albert ternyata laki-laki, dan aku yakin gadis yang bos sekap adalah anak Jack,"
"Apa!" teriak Jona begitu terkejut dengan pernyataan Tom, lalu Jona menatap ke arah Tom.
"Aku rasa Albert sudah merencanakan semua ini,"
Bersambung.................
__ADS_1