Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Ladang Bisnis


__ADS_3

Ke empat pria yang masih berada di dalam aula pertemuan, semuanya menoleh ke arah sumber suara dari pintu masuk aula tersebut, dan ke empat nya saling pandang.


"Mas Jono apa–"


"Tenang saja pak Joko," sambung Jona memotong perkataan pak Joko yang begitu terkejut melihat Jane kembali masuk ke dalam aula, apa lagi sekarang Jane menghampiri ke empat pria yang sedang menatap Jane.


Jane yang sudah mendekati ke empat pria tersebut langsung bertolak pinggang sambil memicingkan matanya menatap satu persatu pria yang ada di hadapannya dan terakhir menatap Jona tajam.


"Bagus ya, kamu enak enakan makan durian tapi aku di suruh untuk pulang kejam kamu Jona, kamu tidak tahu aku juga menginginkan makan durian,"


Hembusan nafas lega keluar dari bibir ke empat pria yang berdiri tepat di hadapan Jane setelah mendengar apa yang di katakan nya, tak lupa salah satu dari tangan mereka mengelus dadanya masing-masing dan senyum terukir dari bibir ke empat nya.


"Untunglah pak Joko, Mbak Juminten budeg,"


Beg!


"Ach pak Joko apa yang pak Joko lakukan? Ini aset berharga satu satunya untuk Surti," ucap Bejo sambil memegangi burung miliknya yang baru saja di pukul menggunakan tangan oleh pak Joko.


"Cangkemu kondisikan, Surti Surti mana mau dia sama kamu yang pengangguran, aset berharga dari mana wong burung mu saja sekecil lombok kriting,"


"Biarpun kecil tapi tahan lama pak Joko,"


"Pret kaya sudah pernah praktek saja,"


"Sudah pak Joko,"

__ADS_1


"Sama guling?"


"Itu pak Joko tahu," sambung Bejo sambil tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Lambemu," Pak Joko menoyor kepala Bejo. Lalu meng fokuskan matanya menatap ke arah Jane dan tak lupa senyum manis di perlihatkan pak Joko pada Jane. "Maaf mbak Juminten iklan sebentar,"


"Ah pria memang begitu pak pakai tangan juga sudah puas, yang aku pertanyakan emang enak?"


"Tentu saja enak mbak Juminten kan kita sambil ngebayangin cewek cantik nan bahenol," sambung Paimin yang langsung mendapat keplakkan di kepala dari tangan pak Joko.


"Mbak Juminten jangan dengarkan mereka, mereka bujang lapuk yang sudah karatan maklumin saja," jelas pak Joko.


Tapi tidak mendapat tanggapan dari Jane yang malah tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya. "Ladang bisnis ini, apa aku open po ya pijit anu,"


"Jangan macam-macam," Jona mendekati Jane dan langsung menoyor kepalanya saat mendengar apa yang di katakan oleh nya padahal Jane mengatakannya dengan sangat pelan.


"Aku ikat tangan kamu kalau sampai itu terjadi Jane, aku belum miskin. Aku bisa membelikan apa pun yang kamu mau,"


"Pret kamu bukan pengusaha, kamu hanya pekerja di showroom mobil, mana bisa membelikan apa yang aku mau,"


"Kamu mau apa tinggal bicara saja,"


"Aku mau mobil keluaran baru,"


"Besok kalau ada hujan duit. Sudah jangan banyak bicara kita pulang saja," Jona menarik tangan Jane namun Jane langsung melepas tangan Jona. "Jane!"

__ADS_1


"Jona kenapa pulang katanya mau makan durian, dan tadi juga Bejo bilang ada Gudeg juga, aku ingin tahu bagaimana rasanya makan durian dan gudeg bersama,"


Jona menepuk jidatnya. "Ya ampun Jane, durian nya belum mateng, masih di pohon milik pak Joko, yang ada belah duren kamu mau?"


"Mau, eh nanti dulu kan duriannya belum mateng apa yang mau di belah?"


"Nanti saja di rumah,"


"Pasti enak, aku sudah lama tidak makan durian,"


"Tentu saja enak, makanya ayo kita pulang,"


"Ayo," sambung Jane lalu memeluk lengan Jona dengan antusias keluar dari aula pertemuan meninggalkan ke tiga pria yang sedang menatap ke duanya.


"Jiwa jomblo ku meronta pak Joko mendengar belah duren,"


"Aku juga sama pak Joko, kapan ada yang memeluk lenganku," sambung Paimin yang sekarang langsung melihat lengannya yang di peluk oleh pak Joko.


"Nih sudah aku pukul,"


"Amit-amit," ujar Paimin yang langsung melepas tangan pak Joko. "Aku masih normal pak,"


"Kamu kira aku tidak normal," sambung pak Joko yang langsung bertolak pinggang. "Jangan banyak bicara tugas kita masih banyak, sebentar lagi tukang tenda datang untuk menghias aula ini,"


"Siap pak Joko."

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2