
Brak!
Untuk ke dua kalinya Albert menggebrak meja yang ada di hadapannya, saat mendengar jika Zain sang putra akan menikah hari ini dengan Zifa polisi yang terus mencari keberadaan nya.
"Di mana sekarang meraka?"
"Mereka baru masuk ke tempat ibadah untuk pemberkatan, yang kebetulan tidak jauh dari sini bos,"
Albert menatap ke arah anak buahnya yang baru saja memberi tahu informasi yang mengejutkan untuk nya. Kemudian Albert beranjak dari duduknya.
"Antar kan aku ke sana sekarang juga,"
"Baik bos," sambung anak buah Albert dan keluar lebih dulu dari ruangan di mana Albert berada.
Albert yang akan melangkahkan kakinya dirinya urungkan, lalu membuka laci meja yang tidak jauh dari jangkauannya, kemudian mengambil pistol dan menatapnya sebentar sebelum menyembunyikan nya di balik jaket kulit yang dirinya kenakan.
"Aku tahu kamu menikah dengan Zain, hanya untuk memancingku keluar bukan? Baiklah aku akan keluar dan aku akan segera membunuhmu," ucap Albert lalu keluar dari dalam ruangan nya dengan langkah pasti.
*
*
*
Orang tua mana yang tidak bahagia melihat putranya menikah, tapi tidak dengan Albert yang sedang duduk di dalam mobil tidak jauh dari tempat ibadah, di mama Zain sedang mengucap janji suci sehidup semati di hadapan Tuhannya.
__ADS_1
Senyum sinis tersungging dari sebelah sudut bibirnya, saat melihat Zain keluar dari tempat ibadah dengan menggandeng seorang wanita yang sangat cantik dengan penampilan anggun dengan gaun yang melilit tubuh rampingnya, wanita yang sangat Albert, siapa lagi kalau bukan polisi wanita yang selalu mencari keberadaanya.
Albert mengambil pistol yang dirinya simpan di balik jaket kulitnya dan membuka jendela mobil di mana dirinya duduk, dan mengarahkan pistol yang berada di tangannya ke arah Zifa.
"Tuan biar aku saja yang melakukannya," ucap anak buah Albert yang sedang duduk di bangku pengemudi, namun tidak di hiraukan oleh Albert yang mengangkat ponsel miliknya yang berdering.
"Turunkan pistol mu, jika tidak aku juga akan menembak putramu," ucap seseorang dari balik sambungan ponsel Albert, dan bola mata Albert langsung menyusuri seluruh area tempat ibadah tersebut, dan menatap satu mobil yang sangat dirinya hafal, mobil Bagas yang juga sedang mengarahkan pistol di tangannya ke arah Zain. "Bagus," ucap singkat Bagas dari balik sambungan ponsel nya ketika Albert menarik pistol yang ada di tangannya, dan Albert langsung mematikan sambungan ponselnya.
"Pulang sekarang!" Perintah Albert pada anak buahnya, yang langsung melajukan mobilnya mengikuti perintah Albert.
"Sekali lagi selamat untuk kalian," ucap mama Linda untuk yang kesekian kalinya saat berjalan tepat di belakang Zain dan juga sang putri yang keluar dari tempat ibadah setelah keduanya mengikat janji suci sehidup semati di hadapan Tuhan.
Membuat Zain dan juga Zifa langsung membalik tubuhnya untuk menatap mama Linda.
"Terima kasih Ma," ucap ke duanya dan langsung memeluk mama Linda.
"Angkatlah," perintah Zifa yang tahu persis pasti yang menghubungi adalah managernya, karena hari ini Zain harus syuting film.
"Zifa ma–"
"Iya tidak masalah pergilah," sambung Zifa memotong perkataan Zain, karena dirinya tahu pasti Zain akan pergi syuting.
"Terima kasih, tapi aku janji aku akan pulang cepat,"
"Iya Zain, aku akan selalu menunggumu kembali," sambung Zifa sambil tersenyum dan Zain langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya, dan terakhir mencium bibirnya.
__ADS_1
*
*
*
Satu minggu kemudian kehidupan rumah tangga Jane dan juga Jona, layaknya pengantin baru pada umumnya, tidak ada malam tanpa main kuda kudaan.
Jona yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat bekerja, keluar dari kamar dan menghampiri sang istri yang ada di dapur.
"Sayang kamu sedang masak apa?"
"Biasa," jawab Jane balas mencium bibir Jona yang memeluk nya dan menciumnya dari belakang.
"Mi goreng lagi?" tanya Jona yang melihat Jane sedang mengaduk mi instan goreng di dua piring.
"Iya, kamu bosan ya?" tanya Jane karena setiap pagi pasti memasak mi goreng, padahal dirinya sudah belajar memasak dari tetangga sebelah nya namun tetap saja Jane belum bisa memasak.
"Tentu saja aku tidak akan bosan," jawab Jona lalu membalik tubuh Jane untuk menghadapnya lalu mengangkat tubuhnya dan mendudukkan nya di atas meja dapur.
"Jona nanti kamu terlambat," ucap Jane saat Jona mulai menciumi ceruk lehernya dan meremas ke dua gunung kembarnya, yang Jane yakini akan berakhir mendeesah bersama di meja dapur seperti beberapa kali keduanya lakukan.
"Tidak akan sayang," sambung Jona dan mencium bibir Jane lalu melummatnya, dan tak lupa ke dua tangannya masuk ke dalam daster yang Jane gunakan, dan meremas ke dua gunung Jane yang akhir akhir ini tidak pernah menggunakan pembungkus sesuai keinginan Jona.
"Ya ampun," kesal Jona sambil melepas tautan bibirnya saat pintu rumahnya di ketuk beberapa kali dari luar.
__ADS_1
Bersambung................
Berubah jam up date ya sekarang jadi pagi dan sore, dan akan selalu up rutin jika tidak dusta 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣