
"Kamu bilang aku kere ya sudah aku ingin menjual rumah ini," sambung Jona memotong perkataan Jane.
"Apa kamu yakin?"
"Tentu, kamu bilang aku suruh meninggalkan pekerjaanku dan sekarang aku akan mengikuti perintah mu,"
"Benarkah?" tanya Jane penuh antusias dengan senyum yang menghiasi ke dua sudut bibirnya lalu memeluk Jona, dan Jane jatuh lalu duduk tepat di pangkuan Jona. "Terima kasih, kamu sudah mau meninggalkan pekerjaan yang membahayakan itu," Jane melepas pelukannya dan ingin beranjak dari pangkuan Jona, namun Jona langsung menahan pinggangnya untuk tetep berada di pangkuannya. "Jona,"
"Ada apa?" tanya Jona sambil menatap wajah Jane yang hanya berjarak beberapa senti tidak jauh dari wajahnya.
"Lepaskan tidak,"
"Tidak, masa kamu hanya mengatakan terima kasih karena aku mau menuruti perintah mu?"
"Terus aku harus apa? Jungkir balik gitu, ada-ada aja," ucap Jane kesal sambil menatap Jona yang sedang tersenyum sambil menunjuk sebelah pipinya. "Jangan Macam-macam!"
"Hanya satu macam Jane, apa tidak boleh, dulu saja pas awal bertemu, kita lebih dari hanya mencium pipi iya kan? Masih ingat apa lupa ingatan?"
"Dulu berbeda, karena itu kan memang pekerjaanku dan aku harus bekerja dengan profesional,"
"Banyak alasan,"
"Biarin, oh iya setelah rumah ini di jual kita akan pindah ke mana?" tanya Jane yang masih berada di pangkuan Jona.
"Tom sedang mencari rumah yang nyaman untuk kita tempati, tentunya jauh dari keramaian,"
"Jangan bilang di tengah hutan,"
__ADS_1
"Bisa jadi,"
"Jona! Jangan bercanda," Jane mencubit dada bidang Jona yang begitu kekar.
"Jangan main cubit cubitan,"
"He he he maaf,"
"Kamu tidak akan meninggalkan aku jika suatu saat nanti aku tidak memiliki apa pun?"
"Jelas saja aku akan segera pergi meninggalkan kamu bila itu terjadi,"
"Kok begitu?"
"Ya jelas saja kamu ini pria, harusnya seorang pria tidak akan mengatakan hal seperti itu, pria yang bertanggung jawab akan selalu berusaha untuk selalu membahagiakan seseorang yang sangat berharga di dalam hidupnya begitu Jona,"
"Kok gitu sih janjinya kamu akan selalu berada di sampingku menjagaku,"
"Nanti kalau istri aku cemburu gimana? Gini saja deh, agar aku terus membahagiakan kamu, bagaimana kalau kamu saja yang jadi istriku oke,"
"No, no, no aku tidak mau titik!"
"Yakin?" dan Jane langsung mengangguk dan beranjak dari pangkuan Jona.
"Awas saja jika suatu hari nanti kamu menjadi istriku,"
"Itu tidak akan pernah terjadi Jona! Oh iya kamu sudah memutuskan ingin bekerja apa dan di mana?"
__ADS_1
"Entah aku masih memikirkan itu, aku tidak punya bakat lain selain dengan pekerjaan yang selama ini aku tekuni,"
"Aku ada saran pekerjaan yang cocok untuk kamu, mengingat kamu begitu tampan, tinggi, bertubuh kekar dan juga anu kamu–"
"Jangan basa basi katakan saja apa pekerjaan yang cocok untukku Jane," sambung Jona memotong perkataan Jane.
"Pekerjaan ini membutuhkan anu yang panjang dan juga kekar, dan satu lagi tentunya harus tahan lama,"
"Kamu bicara apa sih Jane anu anu, anu itu apa? Katakan saja,"
"Aku belum selesai bicara Jona, dan kalau kamu bekerja seperti saran aku, aku yakin kamu akan kaya mendadak,"
"Jane katakan saja apa?" tanya Jona begitu antusias.
"Pemuas nafsu tante-tante girang,"
"Ya ampun Jane, aku sungguh tidak yakin jika kamu masih gadis, kamu hafal sekali dengan begituan," ujar Jona lalu beranjak dari duduknya dan menarik tangan Jane kemudian memeluknya untuk menggelitik tubuhnya. "Rasakan ini,"
"Jona hentikan, geli tahu," ujar Jane dan terus tertawa, karena Jona terus saja menggelitik nya.
Dan Jona pun langsung berhenti menggelitik Jane dan membawa Jane ke dalam pelukannya, begitupun juga Jane yang refleks memeluk Jona saat merasakan lelah karena di gelitik oleh Jona. "Sampai kapan pun aku akan selalu membahagiakan kamu Jane,"
"Terima kasih," jawab Jane sambil melepas pelukannya lalu mencium pipi Jona, dan memeluk Jona kembali lalu keduanya terus berpelukan untuk beberapa saat sebelum Tom masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa Tom?"
Bersambung.................
__ADS_1