Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Dua Ratus Juta


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Jane membanting ponsel miliknya di atas tempat tidur, saat menghubungi Zain tapi ponsel sahabatnya tersebut tidak bisa di hubungi. "Menyebalkan sekali kamu Zain!" teriak Jane lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur kemudian melempar bantal dan juga guling ke sembarang arah, karena sudah hampir satu minggu Zain tidak dapat di hubungi, terakhir kali Zain menghubunginya saat sahabatnya tersebut baru tiba di kampung halamannya.


Bibi Berta yang baru masuk ke dalam kamar sang keponakan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bantal, guling dan selimut sudah berserakan di atas lantai, dan Jane sedang tengkurap di atas tempat tidurnya.


"Ada apa lagi, apa Zain tidak bisa di hubungi?" tanya bibi Berta pada sang keponakan yang begitu galau karena akhir-akhir ini sahabatnya hilang tanpa jejak.


"Begitulah bi, apa Zain terbawa lahar gunung meletus, atau terbawa banjir atau tertimbun tanah longsor?"


"Ish kamu ini Zain mati dong?"


"Lagian sudah satu minggu ponselnya tidak bisa di hubungi, menyebalkan sekali kan?"


"Buang pikiran negatif mu itu, kampung Zain tidak pernah terjadi bencana alam, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya, atau mungkin dia tidak memiliki uang untuk membeli pulsa, kita tidak tahu kan?"


"Tidak mungkin bi, sebelum pulang aku memberi dia uang, memang tidak banyak sih hanya lima juta, tidak mungkin kan uang itu habis,"


"Uang?"


"Iya bi, maaf aku tidak memberi tahu bibi,"


"Terus uang yang ada di laci meja rias kamu itu milik siapa?"


"Di meja rias?"

__ADS_1


"Iya bibi kemarin melihat ada uang di sana saat bibi sedang membersihkan meja rias kamu,"


Mendengar penjelasan bibi Berta, Jane beranjak dari tidurnya lalu turun dari tempat tidur dan segera menuju meja rias miliknya.


Jane menautkan ke dua alisnya menatap uang yang tersimpan di laci meja rias nya yang masih berada di amplop coklat, dan Jane yakin uang tersebut adalah uang yang dirinya berikan pada Zain seminggu lalu, saat melihat amplop tersebut. Dan Jane mengingat lagi sebelum keberangkatannya ke stasiun kereta api, Zain masuk kembali ke kamar Jane dengan alasan ingin buang air kecil.


"Zain sebenarnya ada apa denganmu?"


"Mungkin dia tidak enak menerima uang itu, sudahlah jangan di pikirkan lagi, pasti besok dia menghubungimu. Dan bibi ada kabar gembira untukku,"


"Apa?"


"Ada yang ingin menyewa jasamu, dengan bayaran dua kali lipat dari kemarin,"


"Benarkah bi?" tanya Jane penuh antusias dan seketika melupakan Zain, saat uang sudah berbicara. "Tua bangka seperti kemarin?"


"Benarkah bi?'


Bibi Berta langsung menganggukkan kepalanya dan menunjuk ponsel miliknya ke arah Jane, yang langsung melotot melihat bukti transfer di ponsel milik sang bibi.


"Dua ratus juta?"


"Betul, dan sekarang saatnya bibi mengantar kamu ke salon untuk memanjakan diri sebelum beraksi malam nanti,"


"Siap empat enam bi,"

__ADS_1


*


*


*


Malam hari, Jane yang hari ini akan memuaskan nafsu pria hidung belang dengan bayaran termahal selama melakoni pekerjaannya, terlihat begitu maksimal dari cara merias wajahnya dan juga pakaian yang di kenakan nya yang tentu saja harganya tidak murah.


Jane yang akan turun dari mobil yang di kendarai sang bibi, menatap bibi Berta saat tangannya di tahan oleh wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik di usianya. "Ada apa bibi sayang, tenang saja aku sudah menyimpan obat tidur dengan dosis dua kali lipat dari kemarin, bibi tidak perlu cemas.


"Bukan itu Jane,"


"Terus?"


"Pakaianmu malam ini terlalu minim, apa tidak sebaiknya kamu ganti saja, di jok belakang ada pakaian lain," usul bibi Berta saat gaun yang melekat di tubuh keponakannya tersebut begitu minim dengan punggung terbuka lebar dan belahan dadanya terlihat jelas, dan juga panjang gaun yang di kenakan Jane tidak menutup semua pahanya, saat Jane mengangkat pahanya untuk bertumpu pada satu pahanya yang lain kain segitiga miliknya nampak jelas terlihat.


"Tidak usah Bi, sekali kali aku menggunakan pakaian seperti ini, sebagai bonus karena dia sudah membayar mahal, lagian aku langsung ke kamar yang sudah di pesan kan?"


Dan bibi Berta pun langsung mengangguk, karena yang akan menyewa jasa Jane sudah terlebih dahulu masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang sudah di pesan sebelumnya oleh bibi Berta.


"Kalau begitu aku beraksi dulu,"


"Jaga dirimu baik-baik, setelah bibi memarkirkan mobil, bibi akan segera menyusul dan memantau seperti biasa,"


"Siap bi," ujar Jane yang langsung turun dari mobil dan berjalan dengan anggun memasuki hotel bintang lima tempatnya akan beraksi malam ini.

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2