Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Kamu Cantik


__ADS_3

Zain membuka pintu rumah meskipun awalnya sedikit ragu, namun saat Zain membuka pintu tidak ada orang di depan pintu, Zain keluar dari rumah untuk memastikan, dan ternyata tidak ada orang, dan komplek tempatnya tinggal juga sudah sunyi, karena memang sudah jam dua belas malam.


"Zain," panggil Zifa membuat Zain yang masih berada di halaman rumah langsung membalik tubuhnya, lalu menghampiri Zifa yang baru saja mengambil sebuah amplop tepat di depan pintu, yang tadi luput dari penglihatan Zain.


"Aku akan membukanya," Zain mengambil amplop yang ada di tangan Zifa, lalu merangkul bahunya dan keduanya kembali masuk ke dalam rumah tentu saja tidak lupa mengunci pintu rumah.


Zain yang masih merangkul bahu Zifa membuka amplop tersebut yang berisi secarik kertas di dalamnya.


Zifa dan juga Zain saling tatap setelah membaca tulisan yang tertulis di secarik kertas tersebut, yang berisi sebuah ancaman untuk Zifa, yang harus segera meninggalkan Zain secepat mungkin, jika Zifa ingin selamat.


Zain yang sedari tadi merangkul bahu Zifa kini beralih memeluknya. Memeluk wanita yang sekarang memenuhi hatinya, dan wanita yang menjadi cinta pertamanya tidak peduli Zifa usianya lebih tua darinya.


"Aku tahu ini pasti surat yang di kirim oleh papa, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku tidak ingin kehilangan dirimu Zifa," ujar Zain sambil mengeratkan pelukannya, begitu pun dengan Zifa yang langsung balik memeluk Zain dan merasa sangat bahagia mendapati Zain sungguh sangat mencintainya, dan dirinya juga tidak akan pernah meninggalkan Zain pria yang sedari awal sudah membuka hatinya, tanpa peduli jika nyawanya dalam bahaya.


"Terima kasih Zain," sambung Zifa membuat Zain langsung melepas pelukannya lalu memegang ke dua bahu Zifa.


"Kamu tenang saja aku akan menemui papa,"


"Apa kamu tahu di mana dia? Aku saja belum menemukan dia Zain,"

__ADS_1


"Aku tidak tahu di mana dia, tapi aku akan mencarinya hingga ketemu,"


"Aku ikut denganmu,"


"Tidak, aku akan menemuinya sendiri,"


"Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu Zain,"


"Dan aku juga tidak ingin terjadi sesuatu padamu Zifa," sambung Zain lalu membawa Zifa ke dalam pelukannya. "Sekarang kita tidur, dan besok kita harus mencari tempat tinggal yang baru,"


"Bagaimana jika kita tinggal di apartemen milikku saja Zain,"


"Tapi Zain–"


"Sudah jangan di bahas lagi, sekarang sudah malam lebih baik kita tidur," ujar Zain memotong perkataan Zifa lalu beralih memeluk bahu Zifa dan membawanya menuju kamar.


"Zain,"


"Zifa malam ini aku ingin tidur bersama denganmu,"

__ADS_1


*


*


*


Setelah mengikat janji suci sehidup semati di hadapan Tuhannya. Jona dan juga Jane duduk di bangku pelaminan yang berada di aula pertemuan yang sudah di sulap sebagai tempat resepsi hanya dengan waktu semalam, dan aula pertemuan tersebut juga sudah di penuhi warga sekitar, dan tak lupa musik orkes mengiringi lagu yang di nyanyikan oleh biduan yang berada di panggung tidak jauh dari Jane dan juga Jona, yang membuat Jane tidak sama sekali menikmati lagu yang di nyanyikan biduan tersebut yang jauh dari seleranya. Karena yang dinyanyikan nya lagu tempo dulu.


Jane menoleh ke arah Jona yang duduk di sampingnya dengan menggunakan jas pengantin yang senada dengan gaun pengantin yang Jane gunakan. Jane langsung memicingkan matanya untuk menatap Jona yang sedang tersenyum bahagia yang kebetulan juga sedang menatapnya.


"Kamu cantik sekali Jane," Jona mengagumi Jane dari ujung kepala hingga ujung kaki, meskipun Jane berdandan dengan natural, namun gaun pengantin yang melekat di tubuh Jane begitu senada dengan warna kulitnya dan juga riasannya. Apa lagi baju yang di kenakan oleh Jane adalah baju yang Jona sudah pesan jauh jauh hari, yang memang sudah di siapkan oleh Jona.


"Memang dari dulu aku sudah cantik kali," sambung Jane.


"Iya aku tahu, tapi hari ini kamu terlihat sangat cantik,"


"Pret sudah jangan merayu, aku tidak mempan dengan rayuan mu. Oh iya Jona kok aku merasa ada yang aneh, baru semalam pak Joko menyuruh kita menikah, tapi kenapa acara ini sangat begitu matang, dan gaun yang aku kenakan ini, ini pesanan khusus loh. Aneh kan?"


"Tentu saja tidak aneh, ini kan sudah di persiapkan dari–" Jona tidak jadi meneruskan ucapannya beralih menutup mulutnya, membuat Jane memicingkan matanya kembali menatap ke arah Jona.

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2