
"Makanlah jangan banyak bicara, kalau kamu sampai sakit aku akan merasa berdosa pada om Jack," ujar Jona tanpa menjawab pertanyaan Jane.
"Hei, si kopet, bunglon, pafia, kamu sudah melukaiku, apa kamu lupa," ucap kesal Jane dan melirik ke arah Jona yang beranjak dari duduknya.
"Itu sebelum aku tahu kamu anak om Jack, dan sekarang aku sudah tahu, dan aku tidak akan melukaimu sedikit pun,"
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi,"
"Tidak ada jawaban dari pertanyaan kamu,"
"Aku akan membunuhmu jika kamu sampai melukai Zain, hanya karena ingin membalas dendam pada om Albert, ingat itu baik-biak, dia sama seperti aku tidak tahu apa-apa," ujar Jane menghentikan langkah Jona saat akan meninggalkan ruang makan, dan Jona melangkahkan kakinya kembali tanpa menghiraukan perkataan Jane.
*
*
*
Malam hari setelah pesawat yang di naiki Zain dan juga om Son tiba di salah satu bandara yang ada di pinggiran ibu kota, Zain dengan segera mencari taxi untuk menuju rumah bibi Berta, yang memberi tahu jika Jane hilang dan di bawa kabur oleh pria yang menyewa jasanya.
Zain turun dari taxi yang di tumpangi nya tepat di halaman rumah sederhana di mana rumah bibi Berta, Zain menautkan ke dua alisnya saat rumah tersebut gelap gulita.
__ADS_1
"Apa bibi tidak berada di rumah, kenapa lampunya tidak ada satu pun yang di nyalakan," ujar Zain dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah tersebut di ikuti om Son dari belakang.
Zain mengetuk pintu untuk beberapa kali, tapi tidak ada tanda-tanda pintu tersebut akan di buka, lalu Zain mengambil ponsel miliknya yang ada di kantong, untuk menghubungi bibi Berta namun ponselnya di matikan.
"Di mana bibi Berta," ujar Zain dan coba untuk membuka pintu rumah tersebut, dan alangkah terkejutnya Zain mendapati jika pintu rumah bibi Berta tidak di kunci. "Bibi selamat malam, ini Zain bi," panggil Zain saat sudah masuk ke dalam rumah, dan langsung menghidupkan saklar lampu yang berada tembok samping kanan pintu.
Alangkah terkejutnya Zain saat lampu di nyalakan dirinya bukan hanya melihat bibi Berta yang sedang di apit dua pria bertubuh kekar di samping kanan dan kirinya, tapi dirinya melihat sosok pria yang sangat di kenalnya, lalu Zain menoleh ke arah om Son yang ada di sampingnya, yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Selamat datang putraku, papa yakin tujuan mu adalah ke rumah ini,"
"Papa lepaskan bibi Berta!" ujar Zain pada papa Albert yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menghisap rokok yang di selipkan di kedua jarinya.
"Ada syaratnya, dan kamu ikut kembali bersama papa,"
Mendengar perkataan Zain papa Albert hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri sang putra.
Plak!
"Son!" teriak papa Albert saat dirinya akan menampar Zain, malah om Son yang terkena tamparan, karena ingin melindungi Zain, lalu papa Albert menarik kerah baju yang di kenakan oleh om Son dan mendorong tubuh nya untuk menjauh dari hadapan sang putra.
Plak!
__ADS_1
Kali ini tamparan mendarat tepat di pipi Zain yang di layangkan oleh papa Albert. "Anak tidak tahu diri, beraninya bicara seperti itu pada papamu sendiri!"
"Kenapa? Tidak suka?"
"Zain! Papa hanya ingin melindungi mu,"
"Melindungi," sambung Zain di akhiri dengan tertawa. "Dari siapa? Bukannya om Jack sudah tewas dan kamu sendiri yang membunuhnya Albert!" Zain menunjuk papa Albert dengan jari telunjuk nya. "Aku sudah tahu semuanya dan aku benar-benar menyesal karena sudah terlahir menjadi anak seorang mafia kejam seperti dirimu yang tega membunuh om Jack dan juga istrinya hanya karena salah pahaman,"
"Kamu tidak tahu apa pun Zain!"
"Dan sekarang aku sudah mengetahuinya," sambung Zain lalu berjalan mendekati bibi Berta. "Lepaskan dia,"
Tapi tidak di hiraukan oleh ke dua anak buah papa Albert yang masih terus menahan tangan kanan dan kiri bibi Berta.
"Apa kalian tidak mempunyai telinga!"
Bugh!
Papa Albert memukul bahu Zain hingga jatuh pingsan, lalu memanggil anak buahnya untuk membawa Zain keluar rumah, begitu pun dengan anak buah nya yang lain, yang juga membawa paksa om Son keluar rumah. Papa Albert berjalan menghampiri bibi Berta lalu mengambil sebuah koper yang berada di atas meja.
"Di sini ada uang lima ratus juta, uang ini akan menjadi milikmu jika kamu bisa membawa keponakan kamu ke hadapanku," ujar Albert sambil menunjuk koper yang berada di tangannya, karena sampai saat ini dirinya belum mengetahui keberadaan Jane, ketika dirinya yakin Jona yang sudah di buat salah paham, sudah mengetahui siapa Jane yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung.....................