
Zain melotot mendengar apa yang di katakan oleh Jane, dengan refleks ke dua tangannya langsung menutupi junior nya saat Jane memainkan ke dua alisnya naik turun.
"Jangan melotot begitu," ucap Jane sambil meraup wajah Zain. "Dan ngapain juga pakai di tutup segala, apa kamu lupa aku dulu pernah mainin burung kamu yang loyo,"
"Itu dulu Jane saat belum normal tapi sekarang aku sudah normal, dan juniorku hanya Zifa istriku yang boleh melihatnya tidak ada yang lain termasuk kamu,"
"Zain aku hanya ingin melihat saja, kamu tenang saja, paling milikmu hanya sebesar sosis kan? Ayo ngaku,"
"Jane!" teriak Zain sambil menyingkirkan tangan Jane saat ingin menarik tangannya yang masih menutupinya juniornya.
Sementara itu di sisi lain Zifa dan juga Jona langsung mengfokuskan tatapan matanya ke arah Zain dan juga Jane setelah mendengar teriakan Zain.
Jona menepuk jidatnya begitu juga dengan Zifa yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sang suami yang sekarang beranjak dari duduknya dan berlari mengelilingi sofa untuk menghindari Jane yang terus mengejarnya.
"Zain berhenti berlari, aku hanya ingin mengintip sedikit saja," ujar Jane sambil berlari mengejar Zain yang menghindari nya, dan ke duanya bagai anak kecil yang sedang main kejar kejaran.
Jona yang sudah mendekati sang istri menarik tangannya untuk menghentikan langkahnya yang ingin terus mengejar Zain, kemudian membawanya ke dalam pelukan nya.
"Sayang kamu seperti anak kecil main lari larian, cukup dan diam apa kamu tidak ingin makan pisang tanduk bersantan?" tanya Jona namun tidak mendapat tanggapan dari Jane yang sedang mengatur nafasnya lalu memeluk balik sang suami.
"Mau banget," jawab Jane singkat dan terus mengatur nafasnya.
Sementara itu Zain di sisi lain langsung memeluk sang istri yang mendekatinya.
"Jangan peluk peluk," ujar Zifa sambil melepas tangan Zain yang masih memeluknya.
"Kenapa sayang, apa salahku padamu, biasanya saat aku sudah berada di dalam rumah kamu tidak ingin lepas dari pelukan aku,"
__ADS_1
"Peluk saja tuh si Jane,"
"Apa kamu cemburu?"
"Kamu pikir sendiri," jawab Zifa tak lupa langsung melipat wajahnya murung.
"Ya ampun sayang ada apa denganmu sebenarnya, kamu tidak pernah cemburu saat aku sedang melakoni peran dengan lawan main ku di film, tapi kenapa kamu cemburu pada Jane. Kamu tahu Jane sahabatku sejak kecil,"
"Kalau di film kamu hanya bekerja. Tapi tidak dengan kamu dan Jane karena persahabatan kalian itu aneh dan aku tidak menyukai nya,
"Iya maaf kalau begitu aku akan menjaga jarak dengannya, jangan cemburu lagi oke. Karena cintaku hanya untukmu sayang," sambung Zain lalu membawa Zifa ke dalam pelukannya.
"Janji?"
"Iya sayang aku janji,"
"Cie cie cie berpelukan seperti Teletubbies saja," sambung Jane ketika mendekat ke arah keduanya, membuat Zifa langsung melepas pelukannya. "Maaf sekali lagi bu polisi jika aku sudah membuat kamu cemburu dengan ke dekatkan aku dan juga Zain, sekali lagi maaf ya," ucap Jane yang tadi sempat mendengar apa yang di katakan oleh Zifa.
"Iya tidak masalah. Oh ya Jane jangan panggil bu polisi ya. Panggil saja Zifa,"
"Oh baiklah Zifa," sambung Jane lalu menarik tangan Zifa. "Ikut denganku ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
"Tentang apa?" tanya Zifa penasaran saat Jane menarik tangannya meninggalkan suami masing masing.
"Perburungan," jawab Jane singkat.
Jona dan Zain yang mendengar ucapan Jane langsung menggelengkan kepalanya, kemudian saling tatap.
__ADS_1
"Itulah Jane istri kamu, dari dulu memang sudah bar bar,"
"Dan aku menyukai Jane istriku apa adanya,"
"Semoga kalian bahagia sampai tua nanti,"
"Amin, doa yang sama untukmu," sambung Jona.
"Amin. Kamu istirahatlah di kamar yang sudah aku siapkan untuk kalian. Aku ingin memasak makan malam, setelah siap aku akan memanggilmu,"
"Aku akan membantu dirimu,"
"Apa kamu bisa memasak?" tanya Zain penasaran.
"Tentu,"
"Apa Jane belum bisa–"
"Ya dia belum bisa memasak, tapi aku tidak mempermasalahkan toh aku bisa memasak," sambung Jona memotong perkataan Zain.
"Beruntung sekali Jane mendapat suami seperti kamu,"
"Dan aku juga beruntung mendapatkan Jane," sambung Jona.
Kemudian ke duanya menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam meninggalkan para istri mereka yang sedang tertawa entah apa yang sedang di bicarakan ke duanya.
"Zifa kamu sudah mencoba beberapa gaya, misalnya posisi kita di atas dan masih banyak yang lainnya, kamu sudah pernah mencoba belum?"
__ADS_1
Bersambung.............................