
Bu Joko dan bu Tuti memanggil semua warga yang sedang berkumpul di tukang sayur langganan penghuni komplek tempatnya tinggalnya, kemudian menggiring ke rumah Jona dan juga Jane dimana rumah tersebut di kunjungi beberapa pria dengan tubuh kekar.
Pasalnya bu Joko dan juga bu Tuti, tahu persis ke mana Jona dan Jane pergi, karena kemarin sudah Berpamitan kepada seluruh penghuni komplek.
"Ya ampun mas mas kalau bertamu tuh dengan sopan mengucap salam ke, mengetuk pintu dengan sopan ke atau ape begitu. Jangan kaya tukang kredit yang mau nagih kredit panci yang belum lunas," ucap bu Joko saat sudah mendekat ke teras rumah milik Jona, dan melihat ke empat pria bertubuh kejar mengelilingi rumah Jona, dan menggebrak pintu beberapa kali.
"Iya nih, tinggi besar tidak punya sopan santun, mending yang kecil pendek tapi memiliki perasaan kan jadi enak," sambung bu Tuti.
Bu Joko dan beberapa ibu-ibu yang berada di sekelilingnya langsung menatap ke arah bu Tuti.
"Kenapa ibu-ibu lihatin aku?" tanya bu Tuti saat menyadari dirinya menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang lainnya.
"Mulut kamu itu mengandung unsur dua puluh satu plus bu Tuti," jawab bu Joko sambil menyenggol lengan bu Tuti yang berdiri di sampingnya.
"Tapi nyata loh, kalau besar dan panjang kalau main dan tidak dengan perasaan pasti hambar,"
"Emang sudah pernah? Sama siapa? Milik bojomu katanya hanya sebesar pisang uli,"
"Terong mungkin, atau tidak timun, kan bu Tuti tuh suka beli timun dan terong," sambungan ibu-ibu yang berdiri di belakang bu Tuti.
"Kok tahu," sambung bu Tuti dan langsung menutup mulutnya, membuat ibu-ibu yang ikut berkumpul di depan rumah Jona dan Jane satu satu meledek bu Tuti tidak terkecuali dengan bu Joko.
Dan setelah meledek bu Tuti, bu Joko langsung menyuruh semua ibu ibu untuk diam, dan kembali ke tujuan awal datang untuk mencari tahu, pria yang berkunjung ke rumah Jane dan juga Jona siapa.
"Siapa kalian sebenarnya? Tidak sopan sekali berkunjung ke rumah orang sudah seperti rampok. Atau jangan jangan kalian ini semua mau merampok rumah mas Jono dan juga mbak Jum? Ngaku kalian,"
__ADS_1
"Rampok!"
"Rampok!"
"Rampok!"
Teriak ibu- ibu saling bersahutan setelah mendengar perkataan bu Joko, membuat suami mereka keluar rumah karena hari ini hari libur jadi tidak ada yang beraktifitas di luar rumah, kemudian menghampiri istri mereka masing masing.
"Bu mana rampok nya?" tanya pak Joko yang menghampiri sang istri.
"Itu pak," Bu Joko menunjuk ke arah empat pria yang berdiri tepat di depan rumah Jona.
Dan pak Joko berjalan mendekati empat pria tersebut.
"Apa benar kalian ingin merampok di salah satu rumah di komplek ini? Berani sekali kalian belum tahu semua penghuni di sini memiliki ajian sakti. Apa kalian ingin di buat lumpuh seketika?" tanya pak Joko dan memanggil bapak bapak untuk mendekat, dan langsung mengikuti pergerakan tubuh pak Joko pasang kuda kuda.
Pak Joko menghentikan gerakannya yang hanya berpura pura memiliki ajian sakti, lalu memicingkan matanya menatap satu satu pria yang ada di hadapannya.
"Di sini tidak ada yang bernama Jane dan juga Jona,"
"Terus penghuni rumah ini siapa?"
"Kalian siapa nya mas Jono dan mbak Juminten?" tanya balik pak Joko penasaran.
"Jono Juminten?" tanya kembali salah satu pria ke pada pak Joko.
__ADS_1
"Iya mereka pemilik rumah ini, dan mereka sedang tidak berada di rumah. Karena sedang melakukan penerbangan ke negara pemilik menara ipel, katanya ada bisnis," Bohong pak Joko yang sudah di beri tahu oleh Jona jika ada yang mencari nya.
"Eiffel pak," sambung Bejo yang baru datang menghampiri pak Joko.
"Iya itu,"
"Kalau begitu Terima kasih," ucap salah satu pria tersebut yang langsung meninggal kan rumah Jona dan menuju dua mobil yang terparkir tidak jauh.
"Oh Walah datang tak di undang pergi tak antar,"
"Jaelangkung dong pak," sambung Bejo.
"Iya kamu jaelangkung nya!" ucap pak Joko sambil memukul bahu Bejo. "Kamu di suruh menjaga komplek ke mana aja?"
"Ngesing pak,"
Sementara itu Albert yang sedari tadi menunggu di dalam mobil dan dia sudah tahu persembunyian Jona dan Jane selama ini, langsung bertanya pada anak buahnya yang kembali masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya mereka pergi ke Paris bos," ucap salah satu anak buah Albert.
"Paris?"
"Iya bos katanya ada bisnis,"
"Jangan jangan Jona menekuni bisnis itu lagi, ini tidak bisa di biarkan. Sekarang siapkan tiket pesawat!"
__ADS_1
Bersambung...................