
Jam menunjukkan pukul delapan pagi saat Jona masuk ke dalam kamar Jane berniat untuk membangunkan nya.
Jona hanya diam terpaku saat menatap Jane masih terlelap di atas tempat tidur, dengan selimut yang sudah jatuh di atas lantai dan memperlihatkan kedua paha Jane yang terekspos sampai ke pangkal paha nya dan memperlihatkan celana segitiga pembungkus hutan rimba, saat Jane hanya menggunakan baju tidur terusan seatas lutut, bukan hanya itu Jona juga di suguhi pemandangan gunung kembar milik Jane yang tidak terlalu besar dengan boba yang belum terbentuk sempurna terpampang nyata, saat Jane tidur tanpa menggunakan pembungkus gunung kembarnya, dan tali baju tidur yang di gunakan nya turun ke bawah.
Dan ingatan Jona kembali lagi pada saat Jane mengatakan jika dirinya masih virgin meskipun bekerja sebagai gadis pemuas nafsu, Jona pria normal yang biasa melakukan hubungan intim dengan Bela kekasihnya seminggu dua kali, tentu saja melihat pemandangan yang ada di depannya junior miliknya langsung bereaksi.
__ADS_1
Namun Jona sebisa mungkin untuk mengendalikan gejolak yang ada di dalam tubuhnya, dan mendekati tempat tidur di mana Jane masih tertidur pulas, lalu mengambil selimut yang berada di atas lantai dan menutupi tubuh Jane dengan selimut yang baru saja di ambilnya.
"Jane ini sudah siang," Jona coba membangunkan Jane yang masih berada di alam mimpi dengan menggoyangkan tubuhnya.
"Emmm," hanya itu jawaban dari Jane yang masih berada di tempat nya, dan tiba-tiba menarik tangan Jona dan membawa ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Zain kenapa kamu sekarang berat sekali, apa yang kamu makan selama tidak bersamaku, apa kamu makan batu beton?" tanya Jane dengan suara parau dan mata tetap sama masih terpejam. Kemudian Jane membalik tubuhnya lalu memeluk Jona bagaikan guling. "Aku masih mengantuk Zain sekarang temani aku tidur, kamu juga mengantuk bukan, semalam pasti kamu pulang dari warung bang ucok kemalaman iya kan?" Jane terus mengigau mengira yang di peluknya andalah Zain lalu mengeratkan pelukannya.
Jona hanya bisa menautkan ke dua alisnya mendengar semua yang di katakan oleh Jane. "Apa mereka menjalin kasih," gumam Jona dalam hati dan menatap intens wajah Jane yang hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya, dan refleks satu tangannya menyusuri wajah imut menggemaskan milik Jane yang kembali tertidur pulas, tangan Jona berhenti tepat di bibir ranum bervolume milik Jane. Dan ingatan Jona kembali lagi pada malam di mana dirinya tidak bisa mengontrol hasratnya saat menikmati bibir manis yang begitu berbeda yang sekarang sedang di elus nya. Jona mendekatkan bibirnya ke arah bibir Jane lalu berhenti sejenak untuk mengendalikan hasrat yang tiba-tiba muncul dan menggebu-gebu, namun semakin dirinya menahan semakin dirinya tidak bisa menahan hasratnya, dan tanpa pikir panjang Jona langsung mencium bibir Jane yang bagaikan magnet, dan tidak puas hanya mencium, Jona kemudian meluumattt nya. Hingga pemilik bibir tersebut menggeliat saat merasakan susah bernafas, dan Jona pun langsung melepas tautan bibirnya beralih memeluk erat tubuh Jane.
"Zain, jangan kencang-kencang memeluk nya, aku susah bernafas," ujar Jane saat dirinya mulai kembali dari alam mimpi dan coba untuk membuka matanya dengan enggan. Dan tangan Jane tidak sengaja menyenggol sesuatu yang keras di bawah sana, dan nyawa Jane yang belum sepenuhnya kembali langsung memegang sesuatu yang keras yang sangat dirinya kenal dan mata Jane langsung membulat sempurna. "Zain milikmu sudah bisa berdiri tegak sejak kapan?" tanya Jane yang langsung melepas tangannya dan tangan yang masih memeluknya lalu coba beranjak dari tidurnya.
__ADS_1
Bersambung.........................