
Jane menyenggol lengan Jona dengan lengannya, dan menatapnya dengan tajam. "Dari apa?"
"Dari semalam dong sayang," ujar Jona setelah membuka tangannya yang membekap mulutnya sendiri, lalu senyum terukir menghiasi ke dua sudut bibirnya, sebisa mungkin untuk dirinya tidak keceplosan lagi, dan terlihat biasa saja. "Apa kamu lupa, kalau di komplek kita tinggal itu angker dan warga di sini bisa memanfaatkan itu,"
"Memanfaatkan? Apa maksudnya?" tanya Jane penasaran dan tatapan tajamnya di gantikan dengan tatapan penuh keingin tahuan.
"Jadi begini sayang,"
"Tidak usah panggil sayang lebay kali, dan ini singkirkan tanganmu," sambung Jane lalu menampik tangan Jona yang ingin meriah tangannya.
"Iya maaf,"
"Sekarang cepat katakan,"
Mendengar ucapan Jane, Jona mendekatkan wajahnya ke arah Jane, namun langsung di singkirkan menggunakan tangan Jane. "Jona jangan macam-macam!"
"Aku tidak akan macam-macam, karena ini rahasia, jadi aku harus mengatakannya dengan berbisik, jangan sampai makhluk halus di komplek ini mendengar apa yang kita katakan, yang membuatnya marah,"
Jane sudah merinding duluan mendengar apa yang di katakan oleh Jona, dan tanpa bertanya lagi, dirinya langsung mendekatkan wajahnya ke arah Jona, dan membuat Jona langsung tersenyum senang.
"Kamu tahu komplek ini berada di pinggiran kota?" bisik Jona di telinga Jane membuat nya langsung menganggukkan kepalanya. "Jadi pak Joko dan warga sekitar mereka memanggil makhluk halus penunggu komplek ini untuk membantu mempersiapkan ini semua, dan itu sudah tradisi turun menurun yang di lakukan warga di sini jika ada acara pernikahan,"
Mendengar apa yang di katakan oleh Jona, bulu kuduk Jane langsung berdiri dan langsung memeluk lengan Jona dengan erat. "Jona jangan bilang makhluk halus itu ikut merayakan pernikahan kita?" tanya Jane dan tambah mengeratkan pelukannya tangannya.
__ADS_1
"Benar, mereka membaur di antara warga di sini,"
"Jona aku takut," Jane melepas tangannya yang sedang memeluk lengan Jona, beralih duduk di pangkuan Jona dan memeluknya, membuat Jona langsung tersenyum senang, dan pak Joko yang berdiri tidak jauh dari ke duanya langsung mengacungkan ke dua jempolnya ke arah Jona dan langsung di balas acungan jempol oleh Jona. "Jona lebih baik kita pulang aku takut berada di sini,"
"Oke kita pulang sekarang," sambung Jona lalu beranjak dari duduknya sambil mengangkat tubuh Jane.
"Cie pengantin baru sudah tidak tahan ya?" tanya wanita paruh baya yang menghampiri ke duanya ke atas panggung pelaminan.
"Iya nih bu Joko, istriku sudah tidak tahan pengin anu," sambung Jona pada wanita paruh baya yang di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah istri pak Joko.
"Nanti dulu lah, acaranya juga belum selesai. Warga yang hadir juga belum memberi selamat pada kalian,"
"Besok saja datang ke rumah bu Joko, istriku benar sudah anu,"
"Cie mbak Juminten ingin cepat merem melek ya? Sudah tidak tahan ya pengin makan lontong jumbo milik mas Jono, pasti besar dan panjang, ahhh pasti penuh. Uhhh pasti tahan lama," ujar bu Joko kemudian mengigit bibir bawahnya dan matanya tertuju ke arah seleting celana yang Jona gunakan.
"Lontong jumbo matamu, yang ada tuh lontong balap di meja perasmanan," sambung pak Joko yang menghampiri sang istri dan menyenggol lengannya.
"Ish bapak membuyarkan apa yang sedang aku bayangkan,"
Pak Joko langsung menoyor kepala sang istri. "Pasti anu,"
"Ko Bapak tahu?" tanya bu Joko pada sang suami sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Tentu apa lagi yang ada di pikiran kamu,"
"Lagian milik Bapak besar doang tapi bentek, mana bisa mentok,"
"Tapi kan tahan lama,"
"Tahan lama juga minun jamu kuda," sambung seseorang membuat pak Joko dan istri, begitu pun dengan Jona dan Jane langsung menatap ke arah sumber suara.
"Bejo," ucap pak Joko dan istri berbarengan saat melihat Bejo menghampiri nya dengan menggandeng seorang gadis cantik.
"Sudah tua minggir," Bejo menyenggol bahu pak Joko untuk menjauh.
"Kurang ajar," pak Joko menyenggol balik bahu Bejo dan menatap gadis yang sedang di gandeng Bejo. "Eh mbak Surti apa kabar?" tanya pak Joko pada Surti kekasih Bejo.
"Baik Pak," jawab Surti malu malu.
"Mbak Surti tidak sadar sedang menggandeng demit?"
"Pak Joko tidak asik ah," sambung Bejo membuat pak Joko langsung tertawa dan menghentikan tawanya saat ada seseorang yang mendekatinya.
Bersambung....................
Coba tebak siapa yang menghentikan tawa pak Joko?????
__ADS_1