
Jane sedang memasukkan pakaian miliknya dan juga milik sang suami ke dalam koper, saat hari ini ke duanya akan pergi ke ibu kota untuk menemui Zain.
Setelah hampir dua minggu Jona mencoba menghubungi Zain atas permintaan sang istri, dengan menghubungi rumah produksi dan juga rumah mode di mana Zain berkerja, dan akhirnya baru kemarin Jona bisa menghubungi Zain langsung ke ponsel miliknya, nomer ponsel Zain yang di berikan oleh managernya.
"Sungguh aku tidak percaya, Zain sudah menikah. Malang sekali istrinya dapat burung loyo, Zain Zain," ucap Jane sambil menggelengkan kepalanya.
Mengingat kembali jika kemarin Jane berbincang lama dengan Zain di sambungan ponselnya, dan Zain mengatakan sudah menikah dengan wanita yang sangat di cintanya, namun belum juga Zain menceritakan siapa istrinya tiba-tiba sambungan ponselnya terputus dan ponsel Zain tiba-tiba tidak bisa lagi di hubungi.
"Aku penasaran siapa istri Zain, apa yang dia lakukan dengan burung Zain yang loyo ya, di masukin juga tidak akan masuk, orang di pegang juga tidak akan tegak. Aku sungguh penasaran, atau hanya di **** ****, ha ha ha," Jane tertawa dengan geli membayangkan apa yang di lakukan oleh istri Zain pada nya.
"Jangan tertawa, siapa tahu miliknya sudah berdiri sempurna," sambung Jona yang sudah berpakaian rapi dan menghampiri sang istri lalu membantunya berkemas, karena Jane belum juga selesai berkemas padahal penerbangan ke ibu kota dua jam tiga puluh menit lagi, dan jarak rumahnya ke bandara lumayan lama.
"Tidak mungkin Jona, dulu saja aku pernah memainkannya untuk merangsang burung milik Zain namun sama sekali tidak bisa berdiri," ucap Jane yang langsung menutup mulutnya dengan ke dua tangan saat melihat Jona menghentikan aktivitasnya lalu melipat ke dua tangannya dan menatap tajam ke arah Jane.
"Itu kan dulu sayangku cintaku, jangan marah ya. Kan punya Zain tidak bisa berdiri," ujar Jane sambil tersenyum lalu memeluk Jona. "Dan aku pastikan aku tidak akan mencari burung lagi, pasalnya selama aku bermain dengan banyak burung burung. Tidak ada burung seperti milikmu yang panjang dan besar, apa lagi hanya burung mu yang bisa keluar masuk sarang milikmu dan membuat aku merem melek, jangan marah ya sayangku cintaku," Jane terus memeluk tubuh sang suami, dan Jona sekarang juga balas memeluk erat sang istri.
__ADS_1
"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Jona membuat Jane langsung melepas pelukannya dan menatap intens wajah sang suami.
"Jadi kamu tidak marah?" tanya Jane balik sambil memicingkan matanya.
"Tidak," jawab Jona singkat lalu kembali memasukkan pakaian yang belum di masukan ke dalam koper.
"Tapi tadi kamu melipat ke dua tangan kamu dan juga menatap ke arahku dengan tajam,"
"Memang tidak boleh, sudah jangan banyak bicara lagi. Lagian aku juga sudah tahu siapa istri aku yang sesungguhnya," sambung Jona lalu memeluk pinggang sang istri. "Dan kita berangkat sekarang, ingat yang aku katakan setelah bertemu dengan Zain kamu harus–"
"Bagus sekarang kita berangkat,"
*
*
__ADS_1
*
Setelah hampir dua jam lebih menempuh perjalanan akhirnya Jane dan juga Jona tiba di bandara tepat waktu.
"Oh iya tadi kamu lihat tidak banyak mobil mewah yang akan masuk ke komplek tempat kita tinggal, siapa ya mereka kira kira?" tanya Jane saat tadi mobil yang di naiki nya baru saja keluar dari komplek tempatnya tinggal, dirinya melihat ada beberapa mobil mewah yang masuk ke dalam komplek.
"Mungkin penghuni baru," sambung Jona sambil terus menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam bandara.
"Asyik akhirnya aku punya tetangga yang punya mobil mewah,"
"Sayang kamu nora sekali, aku juga bisa membelikan mobil yang lebih mewah untukmu dari pada yang tadi kamu lihat,"
"Benarkah?" tanya Jane namun tidak mendapat jawaban dari Jona yang langsung menghentikan langkahnya lalu mengangkat ponsel miliknya yang berdering.
Bersambung........................
__ADS_1