
Jona dengan telaten mengobati luka di ke dua paha dan juga lengan Jane, luka yang di dapat dari perbuatannya, setelah Jane mandi dan menggunakan pakaian yang di bawanya.
"Apa ini sakit,"
"Matamu buta, kamu pikir sendiri," kesal Jane saat jona sedang mengoleskan cream di ke dua paha Jane bergantian.
"Maaf kan aku sekali lagi,"
"Maaf tidak akan menghilangkan lukaku,"
"Terus aku harus bagaimana?"
"Berikan mobil mewah mu yang semalam," dengan entengnya Jane mengatakan hal tersebut, membuat Jona menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah Jane yang duduk di sampingnya. "Kenapa? Kalau kamu tidak mau memberikannya padaku, aku tidak akan memaafkan mu!"
"Aku kira kamu seperti om Jack yang tidak pernah mengharap imbalan apa pun dari sebuah kejadian, ternyata kalian sangat berbeda,"
"Jangan mengingatkan aku tantang papa, dia sudah tenang di surga," dan raut wajah Jane sekarang terlihat murung. "Sekarang kamu katakan padaku, kenapa kamu mengenal papa, jangan katakan ceritanya panjang," ujar Jane, mengingat kembali saat dirinya bertanya pada Jona mengenal papanya di mana Jona hanya mengatakan itu. "Tadi kamu sudah berjanji padaku akan menceritakan semuanya setelah aku mandi, dan aku sekarang sudah mandi dan mengganti pakaian jadi ceritakan padaku,"
Belum juga Jona mengatakan sesuatu Tom sudah masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan.
__ADS_1
"Bos makanan sudah siap," dan Tom langsung meletakkan makanan yang di bawa ke atas meja tepat di hadapannya. "Oh ya bos, mobil sudah di beli oleh seseorang dan aku sudah membeli mobil baru untuk bos, dan aku sudah mengirim sebagian uang itu untuk anak buah kita yang terluka dan harus mendapatkan penanganan lebih,"
"Bagus," ucap Jona singkat, lalu Tom meninggalkan bos nya yang masih berada di kamar Jane.
Jona membereskan kotak p3k, setelah selesai mengobati luka Jane. Dan ingin beranjak dari duduknya namun langsung di tahan boleh Jane.
"Mau ke mana, kamu belum menceritakan padaku, dan satu lagi apa kamu sengaja menjual mobil mewah milikmu, karena aku menginginkan mobil itu?"
"Ceritanya panjang,"
"Ya ampun, apa tidak ada kata lain selain itu,"
Jane mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya, kapan lagi di suapi pria tampan pikirnya, namun senyum itu hilang dan langsung mendorong tangan Jona yang akan menyuapinya.
"Tidak mau, pasti kamu akan meracuniku, aku yakin itu," ujar Jane sambil melipat ke dua tangannya dan membuang muka.
"Aku tidak akan melakukan itu, tugasku sekarang adalah melindungi mu dari para musuh," jelas Jona dan langsung memakan makanan yang seharusnya untuk Jane.
Jane menautkan ke dua alisnya mendengar perkataan Jona. "Aku tidak memiliki musuh, eh nanti dulu, ada sih teman waktu masih sekolah, kalau itu aku bisa mengatasinya sendiri, tanpa harus kamu lindungi. Sudahlah sekarang aku ingin pulang pasti bibi kuatir, karena aku tidak kembali dan juga tidak mengabarinya," ujar Jane dan beranjak dari duduknya, namun tangannya langsung di cekal oleh Jona setelah menghentikan makannya.
__ADS_1
"Bukan teman kamu tapi musuh ke dua orang tua kita,"
Mendengar ucapan Jona, Jane langsung membalik tubuhnya lalu duduk kembali di tempatnya dan menatap Jona untuk meminta penjelasan atas ucapannya.
*
*
*
Zain yang sedang duduk di kursi sederhana di rumah yang juga sederhana, terus mendengar penjelasan dari wanita renta dengan umur kurang lebih delapan puluh tahun, yang selalu di panggil nenek oleh Zain, dan Zain pun sangat dekat dengannya, dan nenek tersebut yang selalu ada untuk Zain yang di tinggal sang mama untuk selamanya saat dirinya masih kecil, dan sang papa juga sibuk dengan urusannya sendiri.
Nenek Wiji, wanita renta yang selalu di panggil nenek oleh Zain menggenggam erat tangan Zain yang duduk di sampingnya, setelah menjelaskan semuanya, jika dirinya bukan nenek kandung Zain, dirinya hanyalah pekerja di rumah Albert sejak Albert masih menjadi pegawai biasa yang serba kekurangan hingga Albert menjadi kaya raya, dan nenek Wiji mengetahui apa pekerjaan Albert selama ini. Dan baru saja nenek Wiji menceritakan pada Zain, pekerjaan apa yang di tekuni Albert, dan kenapa Albert bersembunyi dan menghilang dari Zain setelah kecelakaan itu.
Zain melepas genggaman tangan nenek Wiji, lalu beranjak dari duduknya sambil mengepalkan tangannya, dan ingin keluar dari rumah nenek Wiji, tapi pundaknya langsung di tahan oleh om Son yang sedari tadi juga mendengar semuanya yang di katakan oleh nenek Wiji, yang sudah dirinya ketahui.
"Percuma saja kamu marah dengan papa kamu, lebih baik sekarang kita mencari Jane, om akan menemanimu,"
Bersambung...................
__ADS_1