
Zain menghampiri Zifa yang masih mengobrol dengan seseorang di sambungan telepon, dua piring nasi goreng yang di bawah Zain dari dapur di letakkan nya di atas meja makan, lalu Zain duduk di kursi tepat di samping Zifa yang masih berdiri, dan terus berbincang.
Zain memeluk pinggang Zifa dan mendudukkan di pangkuannya. Kemudian Zifa memberikan ponsel milik Zain pada empunya, saat sambungan ponselnya masih terhubung.
"Siapa?" tanya Zain dan mengambil ponselnya.
"Biasa," jawab Zifa dan ingin beranjak dari duduknya namun Zain langsung menahan pinggangnya. Dan Zifa tidak jadi beranjak dari pangkuan Zain dan langsung memakan nasi goreng buatan Zain yang ada di hadapannya.
Setelah Zain beberapa saat berbincang dengan seseorang di sambungan ponselnya, kini Zain mematikan sambungan ponselnya, dan meletakkan ponsel di atas meja makan, lalu memeluk Zifa dari belakang saat Zifa masih berada di pangkuannya dan sedang menyantap makanannya.
"Cemburu?" tanya Zain sambil menaruh dagunya di bahu Zifa.
"Tentu, lagian kenapa harus wanita yang menjadi manager kamu sih? Memang tidak ada lagi yang lain?" tanya Zifa balik dan menghentikan sarapan nya.
"Tapi dia sudah berkeluarga, dan berkat dia aku sekarang memiliki pekerjaan, untuk apa kamu cemburu? Lagian hati aku sudah terpatri nama kamu,"
"Menggombal, biar aku tidak marah kan?"
"Tidak, aku mengatakan yang sejujurnya sayang, apa kamu tidak percaya? Kalau tidak percaya belah lah dadaku,"
"Zain, aku tahu kamu menggombal kerena kamu akan segera pergi pemotretan, dan juga syuting kan? Seperti beberapa hari belakangan ini?"
"Siapa bilang? Hari ini aku sudah bilang pada Ella aku akan sarapan di rumah bersama dengan kamu," jelas Zain mengingat lagi beberapa hari belakangan meskipun dirinya selalu memasak untuk sarapan, namun Zain tidak memakan masakan yang di masakannya dan meninggalkan Zifa sarapan seorang diri, pasalnya Ella manager nya selalu menyuruh Zain ke lokasi pemotretan lebih awal.
Dan itu sekarang pekerjaan Zain yang di jalani selama seminggu ini, menjadi model rumah mode ternama, yang dulu pernah Jane usulkan pada Zain.
Dan bukan hanya menjadi model tapi Zain yang baru menginjak dunia entertainment melebarkan sayapnya menjadi aktor dari rumah produksi ternama, atas usul Ella sang manajer yang sudah berkecimpung lama di dunia entertainment.
__ADS_1
"Terima kasih Zain, akhirnya aku bisa sarapan denganmu hari ini,"
"Hanya itu?"
"Baiklah aku akan menyuapi kamu,"
"Tidak mau aku punya tangan bisa makan sendiri,"
"Lalu aku harus–"
Zifa tidak jadi meneruskan ucapannya saat Zain membalik tubuh zifa untuk menghadapnya, dan langsung mencium bibirnya.
"Ini untuk penyemangat hariku, mudah mudahan aku bisa menjadi salah satu aktor yang lolos dalam film yang akan di garap oleh rumah produksi,"
"Amin, dan aku berdoa kamu yang akan menjadi peran utama," sambung Zifa yang mendukung seratus persen pekerjaan yang di jalani Zain.
"Jadi kalau kamu tidak mendapat peran utama kamu tidak akan menikahi ku begitu?"
"Siapa bilang? Mau aku dapat peran utama dan juga peran pembantu aku akan tetap menikahi mu," jawab Zain sambil mencubit hidung Zifa.
"Terima kasih," Dan Zifa sekarang balik mencium bibir Zain.
*
*
*
__ADS_1
Jona menggenggam erat tangan Jane yang sudah berada di dalam ruang perawatan rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.
Ciuman mendarat di punggung tangan Jane yang di berikan oleh Jona yang duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang perawatan Jane yang tergeletak di atas ranjang dengan selang infus yang menempel di salah satu lengannya.
"Jona," panggil Jane.
"Iya sayang, ada yang bisa aku bantu?"
"Bukannya hari ini kamu harus bekerja? Sekarang pergilah. Aku sudah merasa baikan,"
"Aku sudah meminta izin hari ini aku minta cuti,"
"Kamu baru saja bekerja kenapa harus meminta izin, lebih baik kamu berangkat kerja. Jangan sampai kamu di pecat karena tidak masuk kerja,"
"Itu tidak akan pernah tejadi, kamu tenang saja,"
"Tenang kamu bilang, jika kamu di pecat, bagaimana? Kamu tidak punya uang dan kamu–"
"Sssttt jangan pernah mengatakan apa yang belum tentu akan terjadi," sambung Jona memotong perkataan Jane. "Kamu tenang saja kamu tidak akan pernah kekurangan selama berada di sampingku, urusan uang adalah urusanku. Sekarang lebih baik kamu istirahat, agar kamu cepat sembuh,"
"Tapi Jo–"
Jane tidak meneruskan ucapannya saat pintu ruang perawatan di buka dari depan oleh seseorang.
"Ya ampun, selamat ya untuk kalian berdua, sebentar lagi kalian akan di karuniai momongan,"
Bersambung.....................
__ADS_1