
Jane begitu bahagia dan juga bersemangat hingga tidak sadar sedang memeluk lengan Jona memasuki pusat perbelanjaan, saat Jona mengajaknya ke pusat perbelanjaan sebelum mengunjungi rumah bibi Berta.
"Jona,"
"Hem," jawab Jona dan terus berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
"Boleh ya, aku melepas topi dan juga masker yang menutupi setengah wajahku,"
Jona langsung menghentikan laju langkahnya lalu menoleh ke arah Jane yang ada di samping.
"Apa kamu lupa dengan syarat yang aku ajukan, jika kamu ingin keluar dari rumah, ya ini syaratnya,"
"Menyebalkan sekali, aku jadi tidak bisa mengeksplor keindahan rambutku dan juga wajah mempesona ini,"
Mendengar perkataan Jane, Jona melepas tangan Jane yang masih memeluk lengannya, dan beralih memeluk pundak Jane dari sebelah.
"Kamu kira tempat wisata yang harus di eksplor agar orang tahu, dan mengagumi keindahan tempat wisata tersebut,"
"Aku juga ingin di kagumi kali," Jane melipat ke dua tangannya dan menatap tajam ke arah Jona.
"Aku akan selalu mengagumimu,"
"Dan aku tidak ingin di kagumi pria yang sudah memiliki kekasih,"
__ADS_1
Jane menyingkirkan tangan Jona yang masih memeluk bahunya lalu berjalan terlebih dahulu mendahului Jona, dan tak lupa Jane juga menurunkan masker yang di kenakan nya. "Menyebalkan sekali,"
Bruk!
Jane menabrak seseorang membuatnya langsung terkejut. "Sia– Jane tidak jadi meneruskan umpatan nya saat dirinya tahu siapa pria paruh baya dengan perut buncit yang sangat Jane kenal.
"Baby itulah kamu?" tanya pria buncit tersebut dan tak lupa mengukir senyum dari ke dua sudut bibirnya. "Malam ini temani dad lagi ya, maaf kemarin dad ketiduran, permainan jari-jari dan juga bibir mu ini membuat dad tidak tahan, dad akan bayar dua kali lipat dari kemarin atau sebutkan saja berapa yang kamu inginkan, tapi dad ingin melihat kamu bergoyang di atas tubuh dad, bagaimana?"
"Duit, dua kali lipat, sebutkan saja yang kamu mau," gumam Jane menirukan ucapan pria paruh baya tersebut, saat otaknya langsung berjalan mendengar kata uang, lalu Jane mengukir senyum ke arah pria paruh baya tersebut.
"Bergoyang? Maaf aku sudah menyewa jasanya malam ini, dan bukan dia yang akan menggoyang, tapi aku yang akan menggoyang," sambung Jona lalu memeluk pinggang Jane. "Untuk anda lebih baik booking tuh pemakaman, sudah bau tanah masih sempat sempatnya memikirkan goyangan, ingat cucu di rumah," ujar Jona lalu meninggalkan pria paruh baya tersebut.
"Sialan," ucap kesal pria paruh baya tersebut sambil menatap Jona yang sudah menjauh dari tempatnya berada.
"Kamu bilang ingin melakukan dengan suami kamu jika sudah menikah nanti,"
"Ya betul,"
"Tapi di iming imingi uang sudah mau berubah, aku juga bisa memberikan uang seberapa pun yang kamu mau,"
"Ogah nanti aku khilaf, klo sama pria tadi aku tidak akan khilaf, dia kan jelek, perut buncit, lagian aku cuma main arisan dan ngemut permen, terakhir kasih obat tidur beres,"
Jona mencerna ucapan Jane lalu mengacak acak rambut gadis yang membuatnya benar-benar menggelengkan kepalanya. "Dasar rubah kecil, cerdik sekali ya, jadi selama ini kamu–
__ADS_1
"Yup, hanya mengelabuhi mereka," sambung Jane dengan bangganya memotong perkataan Jona, membuat Jona langsung mengeratkan tangannya yang masih memeluk pinggang Jane.
*
*
*
Jona memarkirkan mobil yang di kendarai tepat di depan rumah bibi Berta, saat matahari mulai tenggelam, setelah seharian Jane mengajak Jona menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dengan menonton bioskop, makan, dan pergi ke area permainan yang membuat Jona begitu antusias dan mencoba semua permainan.
"Jangan cemberut begitu, aku sudah mengikuti kemauan kamu hari ini," ujar Jona saat Jane menekuk wajahnya.
"Kamu juga menikmati nya kan, sampai kamu jadi tontonan orang-orang di pusat permainan tadi, dasar kekanak kanakan,"
Mendengar ucapan Jane, Jona hanya tersenyum ke arah Jane yang masih duduk di tempatnya. "Kenapa kamu masih cemberut, apa kamu tidak ingin turun?"
"Dasar menyebalkan!"
"Itu demi kebaikan kamu Jane," ujar Jona tapi tidak di hiraukan oleh Jane yang langsung turun dari mobil lalu membanting pintu mobil dengan kencang, membuat Jona hanya mengukir senyum. Pasalnya Jane kesal karena masalah baju yang di belinya semua adalah keinginan Jona, yang memilih baju sedikit tertutup dan bukan pakaian yang terbuka seperti yang biasa Jane kenakan. Lalu Jona keluar dari mobil dan menyusul Jane yang sudah masuk ke dalam rumah bibi Berta.
"Bibi," panggil Jane saat sudah masuk ke dalam rumah. "Aku pulang," Jena terus mencari keberadaan bibi Berta yang tidak berada di dalam rumah. "Ke mana bibi pergi, ada dia ada di kamar," Dan Jane pun langsung menuju di mana kamar bibi Berta berada.
Bersambung................
__ADS_1