Gadis Pemuas NA*SU?

Gadis Pemuas NA*SU?
Lemah


__ADS_3

Jane masih tidak sadarkan diri saat tiba di rumah sakit sederhana tidak jauh dari komplek tempatnya tinggal.


Zifa terus memeluk lengang sang suami tepat di depan ruangan di mana Jane sedang di periksa oleh dokter.


"Sayang aku takut terjadi sesuatu pada kandungan Jane," ujar Zifa dengan cemas karena sebelum Jane jatuh pingsan sempat mengeluh sakit di bagian perutnya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Jane dan juga janin yang di kandungnya sayang," sambung Zain lalu melepas tangan sang istri yang masih memeluk lengannya, dan membawa ke dalam pelukannya, yang di balas oleh Zifa yang memeluk balik sang suami dengan erat.


Bu Joko dan juga bu Tuti yang tadi ikut mengantar Jane ke rumah sakit mendekati Zain dan juga Zifa, membuat keduanya langsung melepas pelukannya.


"Kalian siapa nya mbak Juminten?" tanya bu Joko karena tadi belum sempat bertanya pada Zifa dan juga Zain yang begitu panik dengan keadaan Jane.


Zain mengukir senyum menatap bu Joko dan juga bu Tuti yang berdiri di hadapannya, kemudian mengulurkan tangannya ke arah dua wanita paruh baya yang terlihat begitu cemas dengan keadaan Jane.


"Aku Zain sahabat dari Jane," ucap Zain lalu menutup mulutnya, karena sudah salah berucap, dan mengingat lagi jika Jane menyamarkan namanya di komplek tempatnya tinggal. "Maksudnya aku sahabat Jum–"

__ADS_1


"Kita semua sudah tahu jika Mbak Juminten nama aslinya adalah mbak Jane, mas," sambung bu Joko memotong perkataan Zain, karena Jona sebelum berangkat ke Paris sudah memberi tahu semuanya termasuk nama palsu yang di pakainya. "Tapi kami semua lebih menyukai memanggil mbak Jane dengan Mbak Juminten," ucap bu Joko lalu menjabat tangan Zain.


"Jadi ibu–"


"Semua warga komplek sudah mengetahui siapa Mbak Juminten dan juga mas Jono, dan kami semua tidak mempermasalahkan masa lalu ke duanya, sekarang kami semua akan melindungi mbak Juminten dan juga mas Jono dari orang orang jahat yang ingin mencelakai nya," jelas bu Joko sambil melepas genggaman tangannya.


"Terima kasih bu," sambung Zain sambil mengukir senyum dan langsung mengenalkan Zifa kepada bu Joko dan juga bu Tuti.


"Jadi kalian sudah menikah?" tanya bu Tuti tidak percaya pada apa yang baru saja Zain katakan pada ke duanya.


"Keren, beginilah harusnya anak muda, jangan buang bibit sembarang, ujung ujungnya tek dung tidak mau bertanggung jawab, akhirnya bayi mbrojol di buang ke kali, selokan, sawah, dan lain-lain miris sekali,"


"Betul banget bu Joko, pingin aku potong tuh terong, kalau lihat berita begituan," sambung bu Tuti membenarkan ucapan bu Joko. "Dan bodohnya polisi tidak memberikan hukuman yang bisa membuat jera pelaku, misal di suntik kebiri atau terongnya di potong gitu kan lebih bagus,"


"Karena polisi punya aturan dan menjalankan tugasnya sesuai hukum yang berlaku," sambung Zifa.

__ADS_1


"Sok tahu istri mas Zain ini, kita paham betul hukum itu bisa di beli," sambung bu Joko.


Namun tidak mendapat tanggapan dari Zifa yang sekarang menatap pintu ruangan di mana Jane sedang di periksa. Saat dokter yang memeriksa Jane keluar dari dalam ruangan.


Laku Zifa mengikuti sang suami mendekati dokter yang baru saja keluar sari ruangan tersebut, di ikuti bu Joko dan juga bu Tuti.


"Dok bagaimana keadaan Jane?" tanya Zain begitu penasaran dengan keadaan sang sahabat.


"Syukurlah janin yang berada si dalam kandungan pasien begitu kuat, meskipun keadaan sang ibu sangat lemah dan harus melakukan rawat inap," jelas dokter tersebut sambil mengukir senyum.


"Jadi–"


"Pasien sudah sadarkan diri, meskipun kondisinya begitu lemah, dan itu di sebabkan karena pasien belum makan sesuatu dan juga banyak pikiran yang membuat nafsu makannya menghilang, namun bapak tidak perlu kuatir, kami sudah melakukan yang terbaik dan akan segara memindahkan pasien ke dalam ruang perawatan,"


"Terima kasih dok," sambung Zain dengan lega mendengar jika sang sahabat baik baik saja.

__ADS_1


Bersambung..................


__ADS_2