
Zain yang sedang membersihkan rumah mendiang bibi Berta tempatnya sekarang tinggal, menghentikan aktifitasnya saat pintu rumah tersebut di ketuk oleh seseorang, Zain awalnya ragu-ragu saat ingin membukanya ketika Zifa memberi tahunya jangan pernah membuka pintu jika ada yang datang, namun karena Zain penasaran dan siapa tahu yang datang adalah Jane, Zain dengan segera membuka pintu tersebut.
"Zifa," ucap Zain saat Zifa sedang berdiri tepat di depan pintu dengan sebuah koper besar yang berada di samping kanannya. Namun tidak mendapat tanggapan dari Zifa yang langsung masuk ke dalam rumah sambil melewati Zain dan menarik koper miliknya. Dan setelah Zain menutup pintunya kembali dirinya langsung menghampiri Zifa yang sekarang sudah duduk di sofa ruang tamu sambil memegangi keningnya.
"Zifa ada apa? Dan ini koper milik siapa?" tanya Zain yang sudah mendekat ke arah Zifa lalu duduk di sofa berhadapan dengan wanita yang belum lama meninggalkan rumah di mana sekarang Zain tinggal. Namun Zifa tidak menjawab pertanyaan Zain, dan beralih menyandarkan punggung nya di sandaran sofa.
"Zain tolong buatkan kopi yang sama seperti yang kamu buatkan untukku tadi pagi, untuk saat ini aku tidak bisa sama sekali berpikir," bukannya menjawab pertanyaan Zain, Zifa malah menyuruh Zain untuk membuatkan kopi seperti yang Zain buatkan untuknya tadi pagi, kopi yang rasanya sungguh menenangkan untuknya.
"Baik aku akan membuatkan nya untukmu," Zain beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur meninggalkan Zifa yang menatap punggung Zain dan tak lupa senyum menghiasi sudut bibirnya mendapati hanya Zain pria yang bisa menarik hatinya setelah sekian lama hatinya tertutup rapat untuk pria, dan seketika Zifa melupakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Zain kembali dari dapur dengan membawa cangkir berisi kopi di tangan kanannya sesuai permintaan dari Zifa.
"Ini kopinya," Zain menaruh cangkir tersebut tepat di atas meja di hadapan Zifa.
__ADS_1
"Terima kasih,"
"Hati-hati itu masih–" belum juga Zain meneruskan ucapannya Zifa sudah meminum kopi tersebut dan menyemburkan nya, saat merasakan bibirnya panas. Zain langsung menarik beberapa lembar tisu yang tidak jauh dari jangkauannya, dan berjongkok di depan Zifa yang masih duduk di tempatnya kemudian dengan refleks menggelap bibir Zifa, dan lagi-lagi Zain merasakan detak jantungnya berdetak tidak seirama ketika matanya bertemu dengan mata indah Zifa saat Zain sedang menggelap bibirnya. Lalu Zain memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempatnya.
"Aku akan mengambil es batu untuk meredakan panas di bibirmu," ujar Zain dan meninggalkan Zifa menuju ke arah dapur. "Zain ada apa denganmu?" tanya Zain pada dirinya sendiri sambil meremas kaos yang di kenakan nya tepat di dada sebelah kiri saat Zain sudah berada di dapur.
Zifa mengambil mangkok berisi es batu yang baru saja Zain ambil dari lemari pendingin di dapur dan menempelkan nya di bibir untuk mengurangi rasa panas. "Terima kasih Zain, aku sudah baikan," ujar Zifa lalu menaruh mangkok berisi es batu tersebut di atas meja, dan ingin meraih cangkir kopi yang ada meja, namun tangannya langsung di tahan oleh Zain.
"Masih panas nanti dulu," ujar Zain lalu melepas tangannya yang masih menahan tangan Zifa. "Oh iya kamu belum menjawab pertanyaan aku, ini koper siapa?"
"Apa?"
*
__ADS_1
*
*
"Jona apa kamu sudah gila, kamu tahu aku sedang–
"Iya aku tahu," ujar Jona memotong perkataan Jane.
"Apa aku juga harus bergoyang?"
Bukannya menjawab pertanyaan Jane, Jona malah melepas pakaian atas yang di gunakan oleh Jane menyisakan kain merah mencolok pembungkus gunung kembar Jane.
"Jona, apa apaan kamu ini," Dan untuk saat ini Jona tidak menanggapi perkataan Jane karena Jona langsung menarik belakang leher Jane untuk mendekat ke arahnya yang ada di bawah tubuh Jane persis, dan sudah bertelanjang dada.
__ADS_1
"Mulai Jane, seperti apa yang aku katakan" Jona langsung mencium bibir Jane dan sedikit ******* nya, sebelum Jane melepas tautan bibirnya dengan kesal. "Ummmm ah baby teruskan lebih cepat, uhhhh," dessah Jona saat Jane sedang bergoyang di atasnya tubuhnya dengan kesal tidak menghiraukan jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar hotel di mana keduanya berada.
Bersambung.........................